Pages

Rabu, 14 Juli 2010

Al-Lathiif (Yang Maha Halus, Yang Maha Lembut terhadap Hamba-Nya

Allah Subhanahu wata'ala berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia:

“Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya, Dia memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Asy-Syuura: 19).

Dan juga Allah Subhanahu wata'ala berfirman di dalam ayat lainnya yaitu Surat Al-An’aam ayat 103:

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui.”


Al-Lathiif termasuk nama Allah Subhanahu wata'ala yang husna atau indah. Dialah yang bersifat lembut terhadap hamba-Nya dalam semua perkara tersembunyi, yang berhubungan dengan dirinya, lembut terhadap hamba-Nya dalam perkara yang tidak diketahuinya. Ini adalah pengaruh dari ilmu, kemurahan, dan rahmat-Nya. Karena inilah makna al-Lathiif terbagi menjadi dua bagian,

Makna al-Lathiif yang pertama: Bahwasanya Dialah Yang Maha Mengetahui dengan ilmu-Nya, yang meliputi segala rahasia, yang di dalam, tersimpan, samar, suara hati, perkara yang ghaib, dan yang terkecil dari segala sesuatu.

Makna al-Lathiif yang kedua: Adalah lembutnya Allah Subhanahu wata'ala dengan hamba dan wali-Nya yang ingin mendapatkan kesempurnaan ihsan-Nya, kemurahan-Nya yang menyeluruh, dan menaikkannya kepada derajat yang tinggi. Maka Allah memudahkannya untuk mendapatkan yang mudah, menjauhkannya dari kesusahan, dan memberikan kepadanya berbagai macam cobaan yang dibenci dan menyusahkannya, padahal semua itu adalah untuk kebaikannya dan jalan untuk mendapatkan keberuntungannya. Sebagaimana Ia memberikan cobaan kepada para Nabi dengan berbagai gangguan dari kaumnya dan berjihad di jalan-Nya. Sebagaimana yang diceritakan Allah tentang Nabi Yusuf ‘Alaihissalam, bagaimana derajatnya terangkat dan Allah Subhanahu wata'ala bersifat lembut kepadanya. Allah telah menyediakan di balik semua peristiwa itu hasil yang baik di dunia dan akhirat, dengan takdir yang telah ditentukan-Nya, seperti Ia menguji para wali-Nya dengan segala cobaan yang tidak mereka sukai agar mendapatkan yang mereka inginkan nanti di kemudian hari.

Begitu banyak kelembutan, kemurahan/kemuliaan yang tidak bisa dipahami oleh manusia dan tidak terbayangkan. Sering kita temukan seorang hamba yang sangat menginginkan sesuatu berupa perkara dunia keperti kekuasaan, pangkat, dan sebab-sebab yang disukai, lalu Allah Subhanahu wata'ala memalingkan hamba dari dunia, dan memalingkan dunia dari hamba karena sayang (rahmat) kepadanya agar dunia itu tidak membahayakan agamanya. Kemudian hamba tersebut berduka cita karena kebodohannya dan tidak mengenal Rabbnya. Jika ia mengetahui yang disimpan untuknya, dari perkara yang ghaib dan kebaikan yang diinginkan untuknya, niscaya ia akan memuji Allah Subhanahu wata'ala dan bersyukur kepada-Nya terhadap semua itu. Maka sesungguhnya Allah Subhanahu wata'ala Mahabelaskasihan, Maha Penyayang, dan Mahalembut dengan para wali-Nya. Dalam sebuah do’a yang dicontohkan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihiwasallam disebutkan:

“Ya, Allah, rizki apa pun yang Engkau berikan kepadaku dari apa yang aku sukai, jadikanlah hal itu kekuatan bagiku kepada apa yang Engkau sukai. Apa pun yang Engkau jauhkan dariku dari apa yang aku sukai, jadikanlah hal itu kekosongan bagiku pada apa yang Engkau sukai.”

Sumber: Syarah Asma’ul Husna, Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani (Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar