Al-Muqaddim dan Al-Mu-akhkhir adalah dua nama Allah yang berpasangan lagi berlawanan. Yang tidak bisa disebutkan salah satunya, kecuali bersamaan dengan yang satunya. Sesungguhnya kesempurnaan ada dalam penggabungan kedua nama tersebut. Dia subhanahu wata’ala yang mendahulukan dan mengakhirkan yang dikehendaki-Nya dengan hikmah-Nya.
Mendahulukan ini bersifat kauni (hukum alam), seperti mendahulukan dalam menciptakan sebagian manusia terhadap yang lain dan mengakhirkan yang lain terhadap yang lain. Seperti juga mendahulukan sebab terhadap akibat dan mendahulukan syarat terhadap masyaruuth (yang disyaratkan). Berbagai macam mendahulukan dan mengakhirkan di dalam makhluk dan takdir adalah lautan luas yang tidak tidak bisa diarungi.
Dalam pada itu ada yang bersifat syar’i, seperti Allah subhanahu wata'ala memberikan kelebihan kepada para Nabi dibandingkan manusia lainnya, memberikan kelebihan kepada sebagian yang lain terhadap yang lainnya, dan melebihkan sebagian hamba-Nya terhadap yang lain. Allah mendahulukan mereka dalam ilmu, iman, akhlak, dan semua sifat. Allah mengakhirkan orang yang dikehendaki-Nya dari mereka, semua itu menurut hikmah-Nya.
Dua sifat ini dan yang menyerupainya termasuk sifat dzatiyah, karena keduanya ada pada Allah subhanahu wata'ala. Allah bersifat dengan keduanya dan termasuk sifat af’al (perbuatan) karena mendahulukan dan mengakhirkan berhubungan dengan makhluk, baik dzat, perbuatan, makna, maupun sifat. Sifat ini berasal dari iradah Allah dan kudrat-Nya. Maka inilah pembagian yang benar bagi sifat Allah subhanahu wata'ala. Sesungguhnya sifat dzat berhubungan dengan dzat dan sifat af’al-Nya (perbuatan-Nya) merupakan sifat bagi dzat dan berhubungan dengan yang berasal darinya, baik berupa perkataan maupun perbuatan.
Allah Subhanahu wata'ala berfirman,
“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan dia sendiri. Dan jika dia mendatangkan kebaikan kepadamu, Maka dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-An’aam: 17).
Dan firman Allah Ta'ala:
“Katakanlah: ‘Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan’.” (QS. Al-Fath: 11).
Ketahuilah bahwasanya seluruh sifat af’al berhubungan dari tiga sifat ini, kudrat yang sempurna, keinginan yang terlaksana, dan hikmah yang mencakup segala hal. Semuanya ada pada Dzat Allah dan Dia memiliki sifat tersebut. Pengaruh dan konsekuensinya adalah semua yang berasal dari-Nya di alam ini dalam bentuk mendahulukan dan mengakhirkan, manfaat dan mudharat, memberi dan menahan, merendahkan dan meninggikan. Tidak ada perbedaan antara yang dirasa dan yang dipikirkan. Tidak ada perbedaan antara agama dan dunianya. Inilah makna sifat-sifat af’al, bukan seperti yang disangkan ahli kalam yang bathil.
Sumber: Syarah Asma’ul Husna, Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Pustaka Imam Asy-Syafi’i
Tidak ada komentar:
Posting Komentar