Pages

▼

Rabu, 25 Januari 2012

Air Mata Rasulullah

Diriwayatkan dari Abdullah bin Syukhair dia berkata, “Aku mendatangi Rasulullah yang sedang shalat, dan (aku mendengar) dari rongga dadanya ada gemuruh seperti gemuruh air mendidih dari periuk yang ada di atas tungku berapi, (disebabkan) karena tangisan beliau.” (HR.Abu Daud dan at-Tirmidzi).

Ubaid bin Umar pernah berkata kepada ‘Aisyah, “Beritahukanlah pada kami perkara yang paling menakjubkan dari yang Anda lihat pada diri Rasulullah.” Ubaid menuturkan bahwa ‘Aisyah diam sejenak lalu berkata, “Pernah pada suatu malam Rasulullah berkata, ‘Wahai ‘Aisyah! Biarkan aku beribadah kepada Rabb-ku malam ini!’ Aku berkata, ‘Demi Allah, ingin sekali aku dekat denganmu dan membuatmu gembira.’ ‘Aisyah berkata lagi, maka Rasulullah bersuci, melakukan shalat dan terus menangis hingga airmatanya membasahi janggutnya. Beliau terus menangis hingga membasahi tanah. Lalu datanglah Bilal mengumandangkan Adzan Subuh. Ketika ia melihat Rasulullah menangis, Bilal berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apakah anda menangis, padahal Allah telah mengampuni dosamu yangh telah lalu dan yang akan datang?’ Rasulullah berkata, ‘Tidakkah aku pantas menjadi hamba yang bersyukur?! Telah diturunkan padaku satu ayat, maka celakalah orang yang membacanya tapi tidak mau memikirkannya, ‘Sesungguhnya dalam panciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.’ (Al-Imran: 190).” (Lihat Ibnu Hibban, 523 dan At-Targhib, 2/372).

Dari Ibnu Mas’ud , bahwa Nabi berkata kepadanya, “Bacakanlah Al-Qur’an untukku.” Ibnu Mas’ud balik bertanya, “Wahai Rasulullah! Akankah aku membacakan Al-Qur’an untukmu, padahal padamulah Al-Qur’an diturunkan.” Rasulullah berkata lagi, “Sesungguhnya aku ingin mendengarnya dari orang lain.” Ibnu Mas’ud membacakan surat An-Nisa’ sampai ayat 41, Nabi berkata, “Cukup sampai di situ!” Ibnu Mas’ud berkata, “Aku lalu menoleh padanya. Tiba-tiba kedua matanya bersimbah airmata.” (HR:Bukhari dan Muslim).

Dari Ali , “Suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah di masjid. Tiba-tiba muncul Mush’ab bin Umair . Tidak ada yang beliau pakai kecuali selimut hitam yang penuh tambalan. Ketika Nabi melihatnya, beliau menangis. Ia membandingkan ketika Mush’ab hidup berkecukupan dahulu dengan kondisinya sekarang. Lalu Rasulullah bersabda, ‘Bagaimana jika di antara kalian pada pagi hari sudah tersedia pakaian, juga di waktu petang lalu diletakkan di hadapannya hidangan lezat. Setelah itu, hidangan diangkat kembali. Lalu kalian tutupi rumah kalian seperti ka’bah yang ditutupi kain?” Para sahabat menjawab, ‘Wahai Rasulullah. Pada saat itu, kami lebih baik dari sekarang sebab bisa beribadah dengan tenang dan tidak sibuk mencari kebutuhan hidup.’ Rasulullah bersabda, ‘Tidak! Kalian saat ini lebih baik daripada saat itu.” (HR: At-Tirmidzi, 2476).

Dari Abu Hurairah , ketika turun ayat (An-Najm: 59-60), para Ahli Shuffah (sahabat-sahabat Nabi yang tinggal di halaman masjid karena miskin dan tidak punya keluarga-pent) menangis hingga airmata mengalir di pipi mereka. Ketika Nabi mendengar isakan meeka, Nabi menangis bersama mereka, maka kamipun ikut menangis bersama Nabi (ket: Abu Hurairah termasuk Ahli Shuffah). Lalu Nabi bersabda, “Tidak akan masuk Neraka orang yang menangis karena takut dalam (melakukan) maksiat, seandainya kalian tidak melakukan dosa, niscaya Allah akan datangkan kaum yang melakukannya (dosa-pent) sehingga mereka meminta ampun, lantas Allah mengampuni mereka.” (HR: Al-Baihaqi 1/489, no. 799 dan kitab Syu’ab al-Iman).

Ibnu Saad berkata, Ibrahim bin Muhammad bin Syarhabil Al-Abdari menceritakan pada kami dari ayahnya, “Mush’ab bin Umair membawa bendera di hari Uhud. Ketika tentara Muslim bertebaran di segala sisi, tinggallah Mush’ab bersama Rasulullah . Lalu datanglah Ibnu Qumai’ah yang berkuda dan menebasnya sehingga memutuskan tangan kanannya. Mush’ab lalu membaca ayat: ‘Muhammad itu tidak lain hanya seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul.” (Al-Imran: 144). Tangan kirinya mengambil bendera itu dan menggantikannya dengan tangan kanannya. Musuhpun terus mendekatinya, lalu menebas tangan kirinya hingga terputus. Tak berhenti sampai di sini, dengan kedua lengannya ia memeluk erat bendera dan merapatkannya pada dadanya. Ia terus membaca ayat tersebut. Datanglah musuh yang ketiga lalu melepaskan anak panah yang menembus jantungnya. Ia pun roboh dan jatuh bersama bendera pasukan Islam tersebut. Demikianlah Mush’ab mengulang-ulang ayat tersebut. Usai peperangan, Rasulullah beserta para sahabatnya mengitari medan peperangan untuk mengenali dan mencari para syuhada yang gugur. Ketika sampai pada jasad Mush’ab, bercucuranlah air mata Rasulullah dan para sahabat. Khabbab bin Al-Art berkata, “Kami berhijrah bersama Nabi dengan mengharap ridha Allah dan balasan dari-Nya. Sementara sebagian dari kami telah wafat dan tidak menikmati dunianya. Di antara mereka adalah Mush’ab bin Umair yang gugur pada perang Uhud. Saat itu tidak ada yang dapat dijadikan kain kafan baginya selain baju yang bergaris-garis yang dikenakannya. Jika hendak menutup kepalanya, maka terlihatlah kakinya. Jika hendak menutup kakinya maka terlihatlah kepalanya. Lalu Rasulullah berkata, ‘Jadikanlah kain itu sebagai penutup kepalanya dan tutuplah kakinya dengan tumbuhan adzar (tumbuhan wangi).” Bercucuranlah airmata Rasulullah . Dengan hati sedih, beliau memandangi baju yang dikenakan oleh Mush’ab sebagai kafannya seraya bersabda, ‘Aku telah melihatmu di Makkah dengan segala keindahan pakaian yang engkau kenakan. Tidak ada yang menandingi penampilanmu. Tapi pada hari ini rambutmu tidak teratur dan berkafankan burdah.” (Al-Ishabah no. 6/98)

Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Diambil dari kitab “Mukhtashar Asy-Syamaa’il Muhammadiyah” oleh Imam At-Tirmidzi, diringkas dan ditahqiq oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
http://alqiyamah.wordpress.com/2010/05/04/tetesan-air-mata-surga/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar