Pages

Tampilkan postingan dengan label Akhlak Mulia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak Mulia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Oktober 2013

Belajar Kesetiaan dari Seekor Anjing

Diriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari rodhiyallohu ‘anhu, bahwa ia berkata, “Dahulu manusia seperti dedaunan yang tidak ada durinya, tetapi kemudian mereka manusia (zaman ini) menjadi duri-duri yang tidak ada daunnya.”

Sebagian mereka berkata, “Dahulu kami khawatir para sahabat kami ditimpa kebanyakan janji dan terlalu sering meminta maaf (karena menyelisihi janji). Kami khawatir mereka mencampurkan janji-janji mereka dengan kedustaan dan mencampurkan permintaan maaf mereka dengan sedikit kedustaan. Namun, sekarang orang yang beralasan dengan kebaikan telah pergi dan orang yang minta maaf karena berbuat dosa telah meninggal… (Maksudnya, jika orang-orang sekarang menyelisihi janji atau berbuat salah mereka cuek dan tidak minta maaf).” (Fadhlul Kilab, hal 5-6).

Diriwayatkan kepada kami bahwa ada seseorang berkata kepada salah seorang yang bijak, “Berilah wasiat kepadaku!” Orang bijak itu berkata, “Zuhudlah engkau di dunia dan janganlah engkau berdebat dengan penduduk dunia. Berbuat baiklah karena Allah, sebagaimana anjing yang berbuat baik kepada tuannya. Pemilik anjing membuat anjing itu lapar dan memukulnya, namun ia tetap menjalankan tugasnya.”

‘Umar pernah melihat seorang arab badui membawa seekor anjing. ‘Umar pun berkata kepadanya, “Apa yang bersamamu?” Orang arab badui menjawab, “Wahai amirul mukminin, sebaik-baik sahabat adalah yang jika kau beri maka ia berterima kasih, dan jika kau tidak memberinya maka ia bersabar.” Maka ‘Umar berkata, “Itulah sahabat yang terbaik, maka jagalah sabhabatmu.”

Ibnu ‘Umar pernah melihat seorang arab badui dengan seekor anjing, maka ia berkata kepadanya, “Apa yang bersamamu?” Orang arab badui itu menjawab, “Ini adalah yang berterima kasih kepadaku dan menyembunyikan rahasiaku.” (Fadhlul Kilab, hal.12)

Oleh karena itu, termasuk hak saudaramu adalah engkau diam, tidak menyebutkan aib saudaramu kepada orang lain, baik di hadapannya, terlebih lagi di belakangnya. Sesungguhnya hak seorang muslim atas saudaranya adalah harga dirinya dijaga, terlebih lagi jika terjalin tali hubungan yang khusus.


Mengenang saudara & sahabatku Purna Atmaja. Uhibbuka fillah, ya akhi....

Sumber artikel di sini.

Belajar Kesetiaan dari Anjing


Diriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari rodhiyallohu ‘anhu, bahwa ia berkata, “Dahulu manusia seperti dedaunan yang tidak ada durinya, tetapi kemudian mereka manusia (zaman ini) menjadi duri-duri yang tidak ada daunnya.”

Sebagian mereka berkata, “Dahulu kami khawatir para sahabat kami ditimpa kebanyakan janji dan terlalu sering meminta maaf (karena menyelisihi janji). Kami khawatir mereka mencampurkan janji-janji mereka dengan kedustaan dan mencampurkan permintaan maaf mereka dengan sedikit kedustaan. Namun, sekarang orang yang beralasan dengan kebaikan telah pergi dan orang yang minta maaf karena berbuat dosa telah meninggal… (Maksudnya, jika orang-orang sekarang menyelisihi janji atau berbuat salah mereka cuek dan tidak minta maaf).” {Fadhlul Kilab, hal 5-6).

Diriwayatkan kepada kami bahwa ada seseorang berkata kepada salah seorang yang bijak, “Berilah wasiat kepadaku!” Orang bijak itu berkata, “Zuhudlah engkau di dunia dan janganlah engkau berdebat dengan penduduk dunia. Berbuat baiklah karena Allah, sebagaimana anjing yang berbuat baik kepada tuannya. Pemilik anjing membuat anjing itu lapar dan memukulnya, namun ia tetap menjalankan tugasnya.”

‘Umar pernah melihat seorang arab badui membawa seekor anjing. ‘Umar pun berkata kepadanya, “Apa yang bersamamu?” Orang arab badui menjawab, “Wahai amirul mukminin, sebaik-baik sahabat adalah yang jika kau beri maka ia berterima kasih, dan jika kau tidak memberinya maka ia bersabar.” Maka ‘Umar berkata, “Itulah sahabat yang terbaik, maka jagalah sahabatmu.”

Ibnu ‘Umar pernah melihat seorang arab badui dengan seekor anjing, maka ia berkata kepadanya, “Apa yang bersamamu?” Orang arab badui itu menjawab, “Ini adalah yang berterima kasih kepadaku dan menyembunyikan rahasiaku.” (Fadhlul Kilab, hal.12)

Oleh karena itu, termasuk hak saudaramu adalah engkau diam, tidak menyebutkan aib saudaramu kepada orang lain, baik di hadapannya, terlebih lagi di belakangnya. Sesungguhnya hak seorang muslim atas saudaranya adalah harga dirinya dijaga, terlebih lagi jika terjalin tali hubungan yang khusus.


Mengenang saudara & sahabatku Purna Atmaja. Uhibbuka fillah, ya akhi....

Sumber artikel di sini.

Rabu, 12 Desember 2012

Tebarkan Kasih Sayang

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Seorang perempuan disiksa gara-gara seekor kucing. Dia mengurung kucing itu sampai mati. Karena itulah dia masuk neraka. Perempuan itu tidak memberi makan dan minum kepadanya -tatkala dia kurung-. Dan dia pun tidak melepaskannya supaya bisa memakan serangga atau binatang tanah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu’anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sayangilah [sesama] niscaya kalian pun akan disayangi. Berikanlah ampun/maaf maka niscaya kalian pun akan diampuni oleh Allah…” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tidaklah dicabut rasa kasih sayang kecuali dari orang yang celaka.” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)

Dari Jarir radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia maka Allah ‘azza wa jalla tidak akan menyayanginya.” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)

Sebagian tabi’in mengatakan, “Barangsiapa yang banyak dosanya hendaklah dia suka memberikan minum. Apabila dosa-dosa orang yang memberikan minum kepada seekor anjing bisa terampuni, maka bagaimana menurut kalian mengenai orang yang memberikan minum kepada seorang beriman lagi bertauhid sehingga hal itu membuatnya tetap bertahan hidup!” (lihat Syarh Shahih al-Adab al-Mufrad[1/500])

Semoga Allah menanamkan jiwa kasih sayang ke dalam diri kita.

Mengenang saudara & sahabatku Purna Atmaja. Uhibbuka fillah, ya akhi....
Sumber artikel dan foto bunga (Eden Brothers).

Kamis, 19 April 2012

Nasihat yang Sebenarnya

Ma'mar rahimahullah berkata : "Dahulu dinyatakan, orang yang paling bisa menasihatimu adalah orang yang takut kepada Allah subhanahu wa ta'ala tentang dirimu. Apabila Para Salaf hendak menasihati seseorang, mereka mengingatkannya secara diam-diam. sampai-sampai sebagian mereka mengatakan, 'Barangsiapa memberi Nasihat kepada saudaranya secara berdua saja, itulah Nasihat. Adapun memperingatkannya di depan khayalak ramai, itu adalah Penghinaan'." Al-Fudhail Rahimahullahu, Mengatakan : "Seorang Mukmin Menutupi aib (Saudaranya) sekaligus Menasihati, Sedangkan seorang Fajir Menghancurkan Kehormatan dan mencelanya." [Jami'ul 'Ulum wal Hikam, Halaman 11] Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini.

Minggu, 29 Januari 2012

Sikap Baik Dalam Mendengarkan

Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Teman dudukku mempunyai tiga hak atasku: aku mengarahkan pandanganku kepadanya bila dia menghadap, aku memberikan tempat yang luas baginya di majelis bila dia duduk, dan aku memerhatikan dia bila dia berbicara." ('Uyunul Akhbar, 1/307)

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban rahimahullah dengan sanadnya sampai Mu'adz bin Sa'id Al-A'war rahimahullah, dia berkata: "Aku pernah duduk di sisi 'Atha` bin Abi Rabah rahimahullah. Seorang lelaki kemudian menyampaikan sebuah hadits, lalu ada seorang dari kaum itu yang ikut mengucapkannya." Mu'adz berkata: "'Atha` pun marah. Dia berkata: 'Sikap macam apa ini? Sungguh aku benar-benar mendengarkan hadits itu dari orang ini, padahal aku lebih tahu tentang hadits itu. Namun aku tampakkan padanya seakan-akan aku tidak tahu apa-apa."

Dia berkata juga: 'Sesungguhnya seorang pemuda menyampaikan sebuah hadits lalu aku mendengarkannya seakan-akan aku belum mengetahuinya. Padahal aku benar-benar telah mendengar hadits itu sebelum dia dilahirkan'." (Raudhatul 'Uqala`, halaman 72, Tadzkiratus Sami', halaman 105)

Al-Hasan rahimahullah berkata: "Bila engkau duduk, maka hendaknya engkau lebih semangat untuk mendengarkan daripada berbicara. Pelajarilah cara mendengarkan yang baik sebagaimana engkau mempelajari cara berbicara yang baik. Dan janganlah engkau memotong pembicaraan seseorang." (Tadzkiratus Sami', halaman 105)

(Diambil dari At-Tajul Mafqud, karya Faishal bin Abduh Qa'id Al-Hasyidi, halaman 70-72)

Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Majalah Asy Syari'ah, no.38/IV/1429 H/2008, rubrik Permata Salaf.

Rabu, 07 Desember 2011

Tujuh Wasiat Rasulullah

Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam kepada Abu Dzar Al-Ghifari

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”. [HR. Ahmad, Ath Thabrani, Ibnu Hibban, Abu Nu'aim, Al Baihaqi. Dishahîhkan oleh Syaikh al-‘Allamah al-Imam al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albâni rahimahullah dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 2166)].

Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Majalah As-Sunnah Edisi Ramadhan (06-07)/Tahun XI/1428H/2007 M
www.almanhaj.or.id

Minggu, 09 Oktober 2011

Orang Yang Paling Dicintai Allah

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ سُرُوْرٌ يدُخْلِهُ ُعَلَى مُسْلِمٍ أَوْ يَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً أَوْ يَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا أَوْ يَطْرُدُ عَنْهُ جُوْعًا وَلَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ ( يعني مسجد المدينة ) شَهْرًا وَمَنْ كَفَّ غَضَبَهُ سَتَرَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ كَظَمَ غَيْظَهُ _ وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُمْضِيَهُ أَمْضَاهُ _ مَلَأَ اللهُ قَلْبَهُ رَجَاءَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ مَشَى مَعَ أَخِيْهِ فِي حَاجَةٍ حَتَّى تَتَهَيَّأَ لَهُ أَثْبَتَ اللهُ قَدَمَهُ يَوْمَ تَزُوْلُ الأَقْدَامُ وَإِنَّ سُوْءَ الْخُلُقِ يُفْسِدُ الْعَمَلَ كَمَا يُفْسِدُ الْخَلُّ الْعَسَلَ

Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Dan sebaik-baik amalan di sisi Allah adalah memasukan rasa gembira pada hati seorang muslim, atau mengangkat kesulitan yang dihadapinya, atau membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku untuk menunaikan kebutuhannya lebih aku sukai daripada aku i’tikaf selama sebulan penuh di mesjid ini (mesjid Nabawi). Barangsiapa yang menahan rasa marahnya maka Allah akan menutup auratnya (keburukan-keburukannya) pada hari kiamat. Barangsiapa siapa yang menahan amarahnya –yang jika dia kehendaki maka bisa dia luapkan kemarahannya tersebut- maka Allah akan memenuhi hatinya dengan (selalu) mengharapkan hari kiamat. Barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya dalam suatu keperluan hingga ia siap untuk menunaikan kebutuhannya maka Allah akan mengkokohkan kakinya di hari di mana kaki-kaki akan tergelincir. Sesungguhnya akhlak yang buruk merusak amal sebagaimana cuka merusak madu. (Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 906)

Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://firanda.com/index.php/artikel/keluarga/119-suami-sejati-bag-2-qkehidupan-rasulullah-bersama-istri-istri-beliauq

Rabu, 19 Januari 2011

Akhlak Mulia Ibnul Mubarak

Berkata al-Hasan : Saya menemani Ibnul Mubarak dalam safar dari Khurasan sampai Baghdad. Dan saya tidak pernah mendapatkannya makan sesuatu sendirian. (IV/122)

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Panduan Akhlak Salaf, Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil Bahauddien `Aqiel. Penerjemah: Abu Umar Basyir Al-Medani. Penerbit: At-Tibyan – Solo, Cet. pertama, September 2000 http://tawashou.co.cc/index.php?option=com_content&view=article&id=62:aina-nahnu-min-akhlaqis-salaf-bag-4&catid=36:adab-a-akhlak

Lebih Dicintai Dari Seluruh Isi Dunia

Dari Utsman bin Waqid berkata : Telah bertanya seseorang kepada Ibnul Munkadir, Apakah yang lebih engkau cintai dari seluruh isi dunia ini ? Jawab beliau : Memuliakan (mendahulukan) ikhwan sesama muslim. (V/356)

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Panduan Akhlak Salaf, Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil Bahauddien `Aqiel. Penerjemah: Abu Umar Basyir Al-Medani. Penerbit: At-Tibyan – Solo, Cet. pertama, September 2000 http://tawashou.co.cc/index.php?option=com_content&view=article&id=62:aina-nahnu-min-akhlaqis-salaf-bag-4&catid=36:adab-a-akhlak

Bergaul Dengan Akhlak Mulia

Raja’ bin Haywah berkata : Barang siapa tidak bersaudara kecuali dengan orang yang tidak mempunyai aib, sedikitlah temannya. Barang siapa tidak ridha terhadap temannya, kecuali dengan ikhlas padanya, berkepanjanganlah amarahnya. Barang siapa mencela saudaranya atas segala kesalahan, akan banyak musuhnya.

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Panduan Akhlak Salaf, Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil Bahauddien `Aqiel. Penerjemah: Abu Umar Basyir Al-Medani. Penerbit: At-Tibyan – Solo, Cet. pertama, September 2000 http://tawashou.co.cc/index.php?option=com_content&view=article&id=62:aina-nahnu-min-akhlaqis-salaf-bag-4&catid=36:adab-a-akhlak

Aku Benar-Benar Malu

Ali bin al-Husain berkata : Aku benar-benar malu kepada Allah, bahwa aku melihat salah seorang dari saudara-saudaraku. Lalu aku mintakan kepada Allah Jannah untuknya, tetapi aku bakhil kepadanya dalam urusan dunia. Aku malu jika besok ditanya : Kalau seandainya jannah itu di tanganmu, tentulah kamu akan sangat bakhil. (IV/394)

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Panduan Akhlak Salaf, Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil Bahauddien `Aqiel. Penerjemah: Abu Umar Basyir Al-Medani. Penerbit: At-Tibyan – Solo, Cet. pertama, September 2000 http://tawashou.co.cc/index.php?option=com_content&view=article&id=62:aina-nahnu-min-akhlaqis-salaf-bag-4&catid=36:adab-a-akhlak

Hanya Menyebutkan Kebaikan

Al-Ahnaf (Dhahhak) bin Qais berkata : Ada tiga hal dalam diriku yang tidak aku sebutkan kecuali untuk orang yang mau mengambil pelajaran. Aku tidak pernah mendatangi pintu sultan kecuali jika aku dipanggil. Aku tidak pernah mencampuri urusan dua orang, sehingga aku disertakan. Dan aku tidak pernah menyebut seseorang setelah ia berlalu dariku kecuali tentang kebaikan(nya). (IV/ )

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Panduan Akhlak Salaf, Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil Bahauddien `Aqiel. Penerjemah: Abu Umar Basyir Al-Medani. Penerbit: At-Tibyan – Solo, Cet. pertama, September 2000 http://tawashou.co.cc/index.php?option=com_content&view=article&id=62:aina-nahnu-min-akhlaqis-salaf-bag-4&catid=36:adab-a-akhlak

Selasa, 04 Januari 2011

Jujurnya Ukhuwah

Imam Syafi’i Rahimahullah berkata, “Orang yang jujur dalam berukhuwah bersama saudaranya; ia akan menerima kekurangan-kekurangannya, menutupi aib-aibnya dan memaafkan kesalahan-kesalahannya.” (al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab : 1/22).

Silakan baca sumber lengkapnya di sini:
http://www.oaseimani.com/jujurnya-ukhuwah.html

Selasa, 23 November 2010

Keislaman Yang Paling Utama

Abu Musa radhiyallahu’anhu mengatakan; para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, keislaman seperti apakah yang paling utama?”. Maka beliau menjawab, “Yaitu -keislaman pada diri- orang yang kaum muslimin yang lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari [1]).

Sumber:
http://abumushlih.com/umat-islam-di-manakah-iman-kalian.html/

Islam Yang Terbaik

Abdullah bin Amr bin Al-’Ash radhiyallahu’anhuma menceritakan bahwa ada seorang lelaki yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Islam bagaimanakah yang terbaik?”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu kamu memberikan makan kepada orang yang membutuhkan dan menyebarkan salam kepada [sesama muslim] yang kamu kenal maupun tidak kamu kenal.” (HR. Bukhari [12,28]).

Sumber:
http://abumushlih.com/umat-islam-di-manakah-iman-kalian.html/

Selasa, 24 Agustus 2010

Milikilah Sifat Malu

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بِنْ عَمْرٍو الأَنْصَارِي الْبَدْرِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ . رواه البخاري

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshary Al Badry radhiallahu'anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah: Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka. [HR. Bukhari]

Sumber:
www.ibnumajjah.wordpress.com

Jangan Mudah Marah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ. رواه البخاري

Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam: (Ya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam ) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Dia menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda: Jangan engkau marah. [HR. Bukhari]



www.ibnumajjah.worpress.com

Jumat, 13 Agustus 2010

Mukmin Sejati Itu Dermawan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‏اليد العليا خير من اليد السفلى واليد العليا هي المنفقة واليد السفلى هي السائلة

“Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah orang yang memberi dan tangan yang di bawah adalah orang yang meminta.”

(HR. Bukhari no.1429, Muslim no.1033)

Sumber:
http://muslim.or.id/ramadhan/dahsyatnya-sedekah-di-bulan-ramadhan.html

Allah Mencintai Kedermawanan Dan Akhlak Mulia

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

‏إن الله تعالى جواد يحب الجود ويحب معالي الأخلاق ويكره سفسافها

“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Memberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk.” (HR. Al Baihaqi, di shahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’, 1744)


Sumber:
http://muslim.or.id/ramadhan/dahsyatnya-sedekah-di-bulan-ramadhan.html

Kamis, 12 Agustus 2010

Janganlah Engkau Menuntutku Di Akhirat

Dari Muawiyah bin Qurrah dia berkata: "Abu Darda memiliki onta yang dipanggil ad-Damun. Jika seseorang meminjam onta tersebut dia selalu berpesan: "Jangan dibebani kecuali sebatas kemampuannya." Ketika mendekati kematian, Abu Darda berkata kepada ontanya: "Wahai Damun, janganlah engkau menuntutku (nanti di akhirat) di sisi Tuhan-ku, sungguh aku tidak pernah membebanimu kecuali sebatas yang engkau mampu." [Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.179]

Sumber:
www.islamhouse.com