Pages

Tampilkan postingan dengan label Penyejuk Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyejuk Hati. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Januari 2014

KEBERKAHAN

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Tidaklah kelapangan rezeki dan amalan diukur dengan jumlahnya yang banyak, tidaklah panjang umur dilihat dari bulan dan tahunnya yang berjumlah banyak. Akan tetapi, kelapangan rezeki dan umur diukur dengan keberkahannya." (Al-Jawabul Kafi karya Ibnu Qayyim, 56).

Beliau rahimahullah juga berkata, "Sungguh, dahulu biji-bijian, baik gandum atau lainnya lebih besar dibanding yang ada sekarang, sebagaimana keberkahan yang ada padanya (biji-bijian kala itu) lebih banyak. Imam Ahmad telah meriwayatkan melalui jalur sanadnya, bahwa telah ditemukan di gudang sebagian khalifah Bani Umawiyyah sekantung gandum yang biji-bijinya sebesar biji kurma, dan bertuliskan pada kantung luarnya: 'Ini adalah gandum hasil panen masa keadilan ditegakkan.'" (Zaadul Ma'ad oleh Ibnul Qayyim, 4 / 363 dan Musnad Imam Ahmad bin Hambal, 2/296).

Mengenang saudara & sahabatku Purna Atmaja. Uhibbuka fillah, ya akhi....
Sumber artikel Pengusaha Muslim

Rabu, 06 Maret 2013

HAL-HAL YANG MENYELAMATKAN DARI KEBINASAAN

Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui kami ketika kami sedang berada di shuffah di kota Madinah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh, tadi malam saya bermimpi aneh. Saya melihat seseorang dari umatku didatangi oleh malaikat maut untuk mencabut nyawanya. Lalu datanglah amalnya berupa bakti kepada kedua orang tua yang menghalangi malaikat maut mencabut nyawanya.

Saya melihat seseorang dari umatku telah dihamparkan untuknya siksa kubur, lalu wudhunya mendatanginya dan menyelamatkannya dari siksa tersebut. Saya melihat seseorang dari umatku dikepung oleh beberapa setan, lalu dzikirnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatanginya dan mengusir setan-setan tersebut dari sisinya. Saya melihat seseorang dari umatku telah dikepung oleh malaikat juru siksa lalu shalatnya mendatanginya dan menyelamatkannya dari tangan para malaikat tersebut.

Saya melihat seseorang dari umatku merasakan kehausan. Ketika dia hendak mendekat ke telaga, maka dia dicegah dan diusir, lantas puasanya pada bulan Ramadhan datang dan memberinya minum sehingga membuatnya segar. Saya melihat seseorang dari umatku dan saya melihat para nabi berkelompok membentuk lingkaran-lingkaran. Ketika dia hendak mendekati lingkaran para nabi, maka dia diusir, lantas datanglah mandi jinabatnya dan memegang tangannya, lantas mendudukkannya di sampingku. Saya melihat seseorang dari umatku di depannya gelap, di sebelah kirinya gelap, di sebelah kanannya gelap, di sebelah atasnya gelap, dia pun menjadi bingung. Lantas datanglah hajinya dan umrahnya, lalu keduanya mengeluarkannya dari kegelapan dan memasukkannya dalam cahaya.

Saya melihat seseorang dari umatku melindungi tangannya dan wajahnya menghindari nyala dan bara api neraka, lantas datanglah sedekahnya menjadi tabir antara dirinya dan neraka sekaligus menjadi naungan untuk kepalanya. Saya melihat seseorang dari umatku mengajak bicara orang-orang mukmin, tetapi mereka tidak mau berbicara dengannya, lalu datanglah silaturahim yang dilakukannya, lalu berkata, ‘Wahai golongan kaum mukmin! Sesungguhnya dia banyak melakukan silaturahim, oleh karena itu ajaklah dia bicara. Maka, kaum mukmin pun mau mengajaknya bicara, berjabat tangan dengannya, dan dia berada di tengah-tengah mereka.

Saya melihat seseorang dari umatku telah dikepung oleh malaikat Zabaniyah, lalu datanglah amar makruf nahi mungkar yang pernah dilakukannya, lalu menyelamatkannya dari tangan malaikat tersebut dan memasukkannya di kalangan malaikat Rahmat. Saya melihat seseorang dari umatku bersimpuh pada kedua lututnya. Sementara antara dirinya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala terdapat penghalang, lantas datanglah akhlaknya yang baik, lalu memegang tangannya dan mempertemukannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Saya melihat seseorang dari umatku yang lembaran catatan amalnya jatuh di arah kirinya, lantas datanglah rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu mengambil lembaran catatan amal tersebut dan diletakkan pada tangan kanannya. Saya melihat seseorang dari umatku yang timbangan amalnya ringan, lalu anak-anaknya yang masih kecil yang telah meninggal sebelum dia mendatanginya, latnas mereka memberatkan timbangan amalnya. Saya melihat seseorang dari umatku sedang berdiri di tepi neraka Jahannam, lalu khauf (rasa takut) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatanginya, lantas menyelamatkannya dari hal tersebut dan berlalu.

Saya melihat seseorang dari umatku turun ke neraka, lantas air mata yang pernah dicucurkannya karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatanginya, lalu menyelamatkannya dari hal tersebut. Saya melihat seseorang dari umatku sedang berdiri di atas shirath (jembatan) yang bergoyang-goyang bagaikan pelepah pohon kurma yang diterpa angin kencang, lantas baik sangkanya terhadap Allah ‘Azza wa Jalla mendatanginya, lalu menenangkan ketakutannya dan dia pun melewatinya. Saya melihat seseorang dari umatku sedang merangkak di atas shirath, terkadang mengesot, dan sesekali bergantung, lantas bacaan shalawatnya kepadaku mendatanginya, lalu menyelamatkannya dan menegakkan kedua kakinya. Saya juga melihat seseorang dair umatku telah sampai di pintu-pintu surga, ternyata pintu-pintu itu telah ditutup, lalu bacaan syahadat bahwa tiada sesembahan yang benar selain Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatanginya, lalu membukakan untuknya pintu-pintu surga dan memasukkannya ke dalam surga’.”

(Dikeluarkan oleh al-Madini, dan dia berkata hadits ini hasan). Sekelompok huffazh menyebutkan bahwa isyarat keshahihannya telah terlihat.

Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1.

Mengenang saudara & sahabatku Purna Atmaja. Uhibbuka fillah, ya akhi....
Sumber artikel dan foto bunga (Eden Brothers).

Minggu, 25 Desember 2011

Manusia Yang Paling Berbahagia

Salah seorang salafush shalih berkata :

“Aku dapati manusia yang paling berbahagia di dunia, paling sejuk dipandang mata, paling baik kehidupannya, paling mendalam kebahagiaannya, paling tulus keadaannya, dan yang paling merasa muda, (yaitu) orang yang dikaruniakan oleh Allah dengan seorang istri muslimah yang amanat, menjaga diri, baik, lembut, bersih, taat. Jika suaminya menitipkan amanat kepadanya, didapatinya sebagai wanita yang amanah. Jika anggaran belanjanya terbatas, didapatinya sebagai wanita yang qana’ah. Jika suami tidak di rumah, maka ia menjaga kepunyaan suaminya. Sesungguhnya kesantunannya menutupi kebodohannya, dan agamanya menghiasi akalnya, maka suaminya adalah seorang yang kehidupannya sejahtera, dan tetangganya adalah seorang yang selamat (dari gangguan).”

Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://bloghidayah.wordpress.com/2011/11/26/bingkisan-untuk-sang-pengantin/

Kamis, 03 November 2011

Cinta Sejati

Cinta ibarat pohon yang tumbuh di hati, tonggaknya adalah menghinakan diri di hadapan yang dicintai, batangnya adalah ma'rifah kepada-Nya, dahannya adalah rasa takut, daunnya adalah rasa malu, buahnya adalah taat, dan air yang menyuburkannya adalah dzikir kepada-Nya. Tatkala cinta kehilangan salah satu di antara hal-hal tersebut, maka hilanglah sifat kesempurnaannya.

Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Status facebook Abu Muhammad Herman
Menjadi Kekasih Allah, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Pustaka At-Tibyan, Solo

Kamis, 18 Agustus 2011

Hakikat Keindahan

Suatu hari, seseorang bertanya kepada al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah, “Wahai Abu Sa’id, pakaian apakah yang paling anda sukai?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Yang paling tebal, paling kasar, dan yang paling rendah di mata manusia.”

Si penanya berkata, “Bukankah ada riwayat bahwasanya ‘Allah itu Mahaindah dan menyukai keindahan?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya aku telah menganut tidak hanya satu mazhab. Seandainya keindahan di sisi Allah adalah pakaian, niscaya orang-orang fajir (jahat) lebih memiliki kedudukan di sisi-Nya daripada orang-orang yang baik. Hanya saja, keindahan itu adalah mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan amalan ketaatan, menjauhi kemaksiatan, berakhlak mulia, dan berbudi pekerti yang baik. Seperti itu pula hadits shahih yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia.”

(Mawa’izh lil Imam al-Hasan al-Bashri, halaman 83)

Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Majalah Asy Syariah no. 67/VI/1432 H/2010, rubrik Permata Salaf.

Jumat, 11 Maret 2011

Al Yaqin

‘Ammar bin Yasar berkata,

كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا، وَكَفَى بِالْيَقِينِ غِنًى، وَكَفَى بِالْعِبَادَةِ شُغُلًا

“Cukuplah kematian sebagai nasehat, yakin kepada Allah sebagai kekayaan, dan ibadah sebagai kesibukan.” [Diriwayatkan Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman (10556) dari 'Ammar bin Yasar secara marfu'].

Ibnu Mas’ud mengatakan,

الْيَقِينُ أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسُخْطِ اللَّهِ، وَلَا تَحْمَدَ أَحَدًا عَلَى رِزْقِ اللَّهِ، وَلَا تَلُمْ أَحَدًا عَلَى مَا لَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ، فَإِنَّ الرِّزْقَ لَا يَسُوقُهُ حِرْصُ حَرِيصٍ، وَلَا يَرُدُّهُ كَرَاهَةُ كَارِهٍ، فَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى – بِقِسْطِهِ وَعِلْمِهِ وَحُكْمِهِ – جَعَلَ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ فِي الْيَقِينِ وَالرِّضَا، وَجَعَلَ الْهَمَّ وَالْحُزْنَ فِي الشَّكِّ وَالسُّخْطِ

“Al Yaqin adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, engkau tidak memuji seseorang demi mendapatkan rezeki yang berasal dari Allah, dan tidak mencela seseorang atas sesuatu yang tidak diberikan Allah kepadamu. Sesungguhnya rezeki tidak akan diperoleh dengan ketamakan seseorang dan tidak akan tertolak karena kebencian seseorang. Sesungguhnya Allah ta’ala –dengan keadilan, ilmu, dan hikmah-Nya- menjadikan ketenangan dan kelapangan ada di dalam rasa yakin dan ridha kepada-Nya sserta menjadikan kegelisahan dan kesedihan ada di dalam keraguan dan kebencian” [Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin (118) dan Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman (209)].

Di dalam sebuah hadits mursal disebutkan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a dengan do’a berikut,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا يُبَاشِرُ قَلْبِي، وَيَقِينًا [صَادِقًا] حَتَّى أَعْلَمَ أَنَّهُ لَا يَمْنَعُنِي رِزْقًا قَسَمْتَهُ لِي، وَرَضِّنِي مِنَ الْمَعِيشَةِ بِمَا قَسَمْتَ لِي

“Ya Allah saya memohon kepada-Mu iman yang mampu mengendalikan hatiku, keyakinan yang benar sehingga saya mengetahui bahwasanya hal itu tidak menghalangi rezeki yang telah Engkau bagikan kepadaku, dan jadikanlah saya ridha atas sumber penghidupan yang telah Engkau bagikan kepadaku.” [Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin (112)].

Dulu, ‘Atha Al Khurasani tidak akan beranjak dari majelisnya hingga mengucapkan,

اللَّهُمَّ هَبْ لَنَا يَقِينًا مِنْكَ حَتَّى تُهَوِّنَ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، وَحَتَّى نَعْلَمَ أَنَّهُ لَا يُصِيبُنَا إِلَّا مَا كَتَبْتَ عَلَيْنَا، وَلَا يُصِيبُنَا مِنَ الرِّزْقِ إِلَّا مَا قَسَمْتَ لَنَا

“Ya Allah, berilah kami rasa yakin terhadap diri-Mu sehingga mampu menjadikan kami menganggap ringan musibah dunia yang ada, sehingga kami meyakini bahwa tidak ada yang menimpa kami kecuali apa yang telah Engkau tetapkan kepada kami, dan meyakini bahwa rezeki yang kami peroleh adalah apa yang telah Engkau bagi kepada kami.” [Driwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin (108)].

Diriwayatkan kepada kami secara marfu’ bahwa Ibnu ‘Abbas mengatakan,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَكُونَ أَغْنَى النَّاسِ، فَلْيَكُنْ بِمَا فِي يَدِ اللَّهِ أَوْثَقَ مِنْهُ بِمَا فِي يَدِهِ

“Barangsiapa yang suka menjadi orang terkaya, maka hendaklah dia lebih yakin terhadap apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangannya.” [Diriwayatkan Abu Nu'aim dalam Al Hilyah 3/218-219; Al Qadha'i dalamMusnad Asy Syihab (367 & 368) dari hadits 'Abdullah bin 'Abbas].

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/3-makna-zuhud.html

Jumat, 11 Februari 2011

Wasiat Untuk Anakku

Al-Imam Ja'far Ash-Shadiq rahimahullah berwasiat kepada putranya, Musa. Beliau rahimahullah berkata:

Wahai anakku, barangsiapa merasa cukup dengan apa yang menjadi bagiannya maka dia akan menjadi kaya dan barangsiapa memanjangkan pandangannya kepada apa yang ada di tangan orang lain niscaya dia akan mati dalam keadaan miskin. Barangsiapa yang tidak ridha dengan apa yang diberikan untuknya berarti telah mencacati Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam ketetapan takdir-Nya.

Barangsiapa menganggap kecil ketergelinciran orang lain maka menjadi besarlah ketergelinciran
dirinya. Barangsiapa menyibak tabir (aib) orang lain maka akan tersibak pula aurat (aib)nya. Barangsiapa menghunuskan pedang pemberontakan maka akan terbunuh karenanya. Barangsiapa menggali sumur (lubang) bagi saudaranya maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menjerumuskan dirinya ke dalamnya. Barangsiapa masuk (bercampur) dengan orang-orang bodoh niscaya akan terhina. Dan barangsiapa bergaul dengan para ulama maka dia akan dimuliakan dengannya. Barangsiapa memasuki tempat-tempat kejelekan maka dia akan tertuduh (dengan kejelekan pula).

Wahai anakku, waspadalah, jangan sampai engkau menganggap remeh orang lain, sehingga engkau pun menjadi hina karenanya. Waspadalah, jangan engkau menggeluti perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi dirimu, sehingga engkau pun menjadi hina karenanya.

Wahai anakku, katakanlah yang haq (benar) dalam keadaan menguntungkan ataupun merugikanmu niscaya engkau memiliki kedudukan tersendiri di antara teman-temanmu. Jadilah engkau seorang yang gemar membaca dan mengikuti Al-Qur'an, seorang yang gigih menyebarkan agama Islam, seorang yang selalu memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, seorang yang menyambung tali persaudaraan dengan orang yang memutus hubungan rahim denganmu. Jadilah engkau sebagai orang yang selalu memulai dalam menyapa orang-orang yang mendiamkanmu dan memberi kepada orang yang meminta kepadamu.

Wahai anakku, jauhilah namimah (perbuatan mengadu domba). Sungguh namimah itu akan menanamkan permusuhan di dalam hati-hati (manusia). Dan hati-hatilah dari membongkar aib manusia. Karena kedudukan seseorang yang membongkar aib-aib manusia berada pada posisi sasaran bidik (sewaktu-waktu akan balik dibongkar aibnya). Apabila engkau mencari kebaikan maka wajib bagimu mengambil dari sumbernya. Sesungguhnya kebaikan itu memiliki asal dan pada asal itu terdapat pokok-pokok dan pada pokok-pokok itu terdapat cabang-cabang, dan pada cabang-cabang itu terdapat buah, serta tidaklah buah itu menjadi matang (dengan baik) kecuali pada tangkainya, dan tidaklah ada tangkainya kecuali ada pokoknya dan tidak ada pokok melainkan dengan adanya asal (bibit) yang baik.

Kunjungilah orang-orang yang baik dan jangan mengunjungi orang-orang yang jelek (jahat). Karena
orang-orang yang jelek itu ibarat gurun pasir yang tidak dapat memancarkan air, atau ibarat pohon yang tidak menghijau daunnya, atau ibarat tanah yang tidak dapat menumbuhkan rerumputan.

(Al-Imam Ja'far Ash-Shadiq, halaman 27-29, karya Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Abdillah Ad-Darwis, hakim pada Mahkamah Al-Kubra di Qathif)

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Majalah Asy Syari'ah, no.48/IV/1430 H/2009, rubrik Permata Salaf.

Minggu, 06 Februari 2011

Kenikmatan Memandang Wajah Allah

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yuunus: 26).

Dalam hadits yang shahih dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)?’ Maka mereka menjawab, ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka?’ Maka (pada waktu itu) Allah Membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Mahamulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai dari pada melihat (wajah) Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah subhanahu wa ta'ala di atas (QS. Yuunus: 26)

(Hadits shahih riwayat Muslim dalam Shahih Muslim, no. 181).

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://manisnyaiman.com/saat-terindah-dalam-hidup-manusia-melihat-allah-di-akhirat/#comment-297

Rabu, 02 Februari 2011

Tanda Kebahagiaan & Keberuntungan

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

Di antara tanda kebahagiaan dan keberuntungan, tatkala ilmu seorang hamba bertambah, bertambah pulalah sikap tawadhu’ (rendah hati) dan kasih sayang yang dimilikinya; setiap kali bertambah amalnya, bertambah pula rasa takut dan waspada di dalam dirinya; tatkala bertambah umurnya, berkuranglah ketamakannya terhadap dunia; tiap kali hartanya bertambah, kedermawanannya pun bertambah; setiap kali kedudukan dan martabatnya bertambah tinggi, maka bertambah pula kedekatannya dengan manusia, dirinya akan semakin memperhatikan kebutuhan mereka, dan merendahkan diri di hadapan mereka.

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/kita-termasuk-yang-mana%E2%80%A6.html

Selasa, 11 Januari 2011

Kisah Istri Shalihah (Riyah al-Qaisi & Istrinya)

Riyah al-Qaisi menikahi seorang wanita, lalu dia membangun rumah tangga dengannya. Ketika pagi hari, wanita ini beranjak menuju adonannya, maka Riyah mengatakan, “Seandainya engkau mencari seorang wanita yang dapat mengerjakan pekerjaanmu ini.” Ia menjawab, “Aku hanyalah menikah dengan Riyah al-Qaisi dan aku tidak membayangkan menikah dengan orang yang sombong lagi ingkar. Pada malam harinya Riyah tidur untuk menguji isterinya, ternyata ia bangun pada seperempat malam, kemudian memanggilnya seraya mengatakan, “Bangun, wahai Riyah.” Dia menjawab, “Aku akan bangun.” Tapi ia tidak bangun. Lalu ia bangun pada seperempat malam yang terakhir, kemudian memanggilnya seraya mengatakan, “Bangun, wahai Riyah.” Dia menjawab, “Aku akan bangun.” Maka ia mengatakan, “Malam telah berlalu dan orang-orang yang berbuat kebajikan meraih keuntungan, sedangkan engkau tidur. Duhai siapa yang tega menipuku hingga aku menikah denganmu, wahai Riyah?” Lalu ia bangun pada seperempat waktu yang tersisa.” Shifatush Shafwah (IV/43-44)

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Buku Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq, Penterjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
http://www.almanhaj.or.id/content/2373/slash/0

Jumat, 07 Januari 2011

Kebaikan Dunia Akhirat

Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya:

"Empat perkara, barang siapa diberi keempatnya berarti ia telah mendapatkan kebaikan dunia akhirat : hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berzikir, diri yang selalu bersabar menghadapi bala' dan istri yang tidak berkhianat pada dirinya dan pada harta suaminya." (‘Ash-Shabru wats Tsawabu'alaihi, tulisan Ibnu Abi Dunya halaman 36.)

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Buku "Sungguh Menakjubkan Urusan Seorang Muslim" Karya Dr. Falih bin Muhammad bin Falih Ash-Shughayyir. Terbitan Daar An-Naba' Surakarta
http://dareliman.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=22&Itemid=54

Memuji Allah Dalam Setiap Keadaan

Ibnu Zaid berkata: “Hendaknya dalam suatu majelis ada seseorang yang memuji Allah, sehingga dengan demikian ia telah menyiapkan segala keperluan yang di butuhkan dalam majelis tersebut. Ia melanjutkan perkataannya: ”Dalam sebagian kitab yang telah diturunkan Allah Subhanahu wata’ala, Dia berfirman: “Berilah sesuatu yang menggembirakan hamba-Ku yang beriman, maka tidak ada satupun yang menimpa dirinya kecuali ia selalu mengucapkan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) dan Masya’ Allah (atas kehendak Allah). Dia juga berfirman: “Berilah sesuatu yang menyedihkan kepada hamba-Ku yang beriman, tidak ada musibah buruk yang menimpanya kecuali ia berkata : “Alhamdulillah-Alhamdulillah.” Maka Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Sesungguhnya hamba-Ku bertahmid tatkala Aku beri sesuatu yang menakutkan sebagaimana ia bertahmid kepada-Ku ketika Aku beri kegembiraan. Masukkan hamba-Ku ke negeri kemuliaan (Jannah), sebagaimana ia telah memuji-Ku dalam setiap keadaan”. ('Uddatush Shabirin)

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.oaseimani.com/nikmat-allah-kepada-hamba-nya.html

Kamis, 23 Desember 2010

Sabar Saat Mendapat Musibah

Untukmu Perindu Akhirat

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata:
“Kebaikan yang tiada kejelekan padanya adalah bersyukur ketika sehat wal afiat, serta bersabar ketika diuji dengan musibah. Betapa banyak manusia yang dianugerahi berbagai kenikmatan namun tiada mensyukurinya. Dan betapa banyak manusia yang ditimpa suatu musibah akan tetapi tidak bersabar atasnya.” (Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 158)

Beliau rahimahullahu juga berkata:
“Tidaklah seorang hamba menahan sesuatu yang lebih besar daripada menahan al-hilm (kesantunan) di kala marah dan menahan kesabaran ketika ditimpa musibah.” (Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 62)

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:
“Tiga perkara yang merupakan bagian dari kesabaran; engkau tidak menceritakan musibah yang tengah menimpamu, tidak pula sakit yang engkau derita, serta tidak merekomendasikan dirimu sendiri.” (Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 81)

http://www.majalahsyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=480

Rabu, 01 Desember 2010

" Seutama Keindahan "

Nasihat indah Raja' bin Haiwah rahimahullah,

Betapa indahnya Islam bila berhiaskan iman
Betapa indahnya iman bila berhiaskan takwa
Betapa indahnya takwa bila berhiaskan ilmu
Betapa indahnya ilmu bila berhiaskan amal
Betapa indahnya amal bila berhiaskan kasih sayang

Diadaptasi dari Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, Shuwaru min Hayati at-Tabi’in, atau Mereka Adalah Para Tabi’in, terjemah Abu Umar Abdillah (Pustaka At-Tibyan, 2009), halaman 141-150.

Senin, 22 November 2010

Syair Imam Asy Syafi'i Menjelang Wafatnya

Untukmu Perindu Akhirat

Ketika telah keras hatiku dan menjadi sempit jalan hidupku
Kujadikan harapanku sebagai tangga menuju ampunan-Mu



Kulihat dosaku seakan begitu besar
Tapi saat kusandingkan dengan ampunan-Mu, ternyata ampunan-Mu (jauh) lebih besar



Engkau selalu dan akan terus memaafkan
Serta memberi dengan anugerah dan kemurahan

Sumber:
http://addariny.wordpress.com/2010/06/08/mutiara-hikmah/#more-1685

Allah Maha Mengabulkan Do'a

Untukmu Perindu Akhirat

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad, dari Abu Sa’id; derajat hasan)

Sumber:
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/di-saat-impian-belum-terwujud.html

Kamis, 21 Oktober 2010

Kenikmatan Paling Besar Di Dunia

Untukmu Perindu Akhirat

Salah seorang ulama salaf berkata, “Sungguh kasihan orang-orang yang cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini, padahal mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar di dunia ini.” Maka ada yang bertanya, “Apakah kenikmatan yang paling besar di dunia ini?” Ulama ini menjawab, “Cinta kepada Allah, merasa tenang ketika mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta merasa bahagia ketika berzikir dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya.”

Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Igaatsatul lahfaan” (1/72).

Sumber:
http://muslim.or.id/aqidah/menggapai-ketenangan-hati-dengan-mengingat-allah-1.html

Jumat, 17 September 2010

Allah Menerima Taubat Hamba-Nya

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ

“Siapa saja yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, Allah akan terima taubatnya” (HR. Muslim no.7036)

Sumber:
http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/03/27/buah-manis-dari-taubat/

Jumat, 03 September 2010

Hikmah Dan Rahasia Shalat

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Shalat itu diwajibkan dalam bentuk yang paling sempurna dan paling bagus, sehingga menjadi perantara seorang hamba kepada Robbnya. Di dalam shalat terkandung pengagungan kepada Allah dengan seluruh anggota badan. Ucapan lisan, perbuatan kedua tangan dan kaki, kepala dan indera peraba dan seluruh bagian badan. Semuanya mengambil hikmah dalam ibadah yang agung ini. Di dalam shalat juga ada tahmid, tasbih dan takbir, persaksian yang benar dan berdiri di hadapan Sang Pencipta dengan status hamba yang rendah dan tunduk. Ketundukan ini dapat terlihat dengan ucapan orang yang shalat, punggung yang membungkuk sebagai tanda kerendahan dan khusyuk kepada Allah. Kemudian bangkit dari ruku’ sebagai persiapan untuk lebih tunduk lagi pada posisi berikutnya yaitu sujud. Maka dalam sujud dia meletakkan bagian tubuhnya yang mulia di atas tanah, ini sebagai bentuk ketundukan dan kerendahan diri kepada Allah.”

(Miftah Daar as-Sa’adah: 2/320, Ibnul Qayyim)

Majalah Al Furqon Edisi 7 Th.ke-9 1431/2010 hal.50-54
http://alqiyamah.wordpress.com/

Senin, 30 Agustus 2010

Hadits Arba'in An Nawawi (25. Bershadaqah Dari Kelebihan Harta)

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ نَاساً مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلأُجُوْرِ يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ، وَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ : أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا يَتَصَدَّقُوْنَ : إِنَّ لَكُمْ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٍ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً وَنَهْيٍ عَن مُنْكَرٍ صَدَقَةً وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ : أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ . رواه مسلم

Dari Abu Dzar radhiallahu'anhu: Sesungguhnya sejumlah orang dari shahabat Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam berkata kepada Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam: “ Wahai Rasululullah, orang-orang kaya telah pergi dengan membawa pahala yang banyak, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka (sedang kami tidak dapat melakukannya). (Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam) bersabda: Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian jalan untuk bersedekah? Sesungguhnya setiap tashbih merupakan sedekah, setiap takbir merupakan sedekah, setiap tahmid merupakan sedekah, setiap tahlil merupakan sedekah, amar ma’ruf nahi munkar merupakan sedekah dan setiap kemaluan kalian merupakan sedekah. Mereka bertanya: Ya Rasulullah masakah dikatakan berpahala seseorang di antara kami yang menyalurkan syahwatnya? Beliau bersabda: Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan di jalan yang haram, bukankah baginya dosa? Demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada jalan yang halal, maka baginya mendapatkan pahala. [HR. Muslim]

www.ibnumajjah.wordpress.com