Pages

Tampilkan postingan dengan label Ghaflah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ghaflah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Oktober 2013

10 Hal yang Tidak Bermanfaat dan Sia-sia

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah mengatakan bahwa ada sepuluh hal yang tidak bermanfaat.

Pertama: memiliki ilmu namun tidak diamalkan.

Kedua: beramal namun tidak ikhlas dan tidak mengikuti tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketiga: memiliki harta namun enggan untuk menginfakkan. Harta tersebut tidak digunakan untuk hal yang bermanfaat di dunia dan juga tidak diutamakan untuk kepentingan akhirat.

Keempat: hati yang kosong dari cinta dan rindu pada Allah.

Kelima: badan yang lalai dari taat dan mengabdi pada Allah.

Keenam: cinta yang di dalamnya tidak ada ridha dari yang dicintai dan cinta yang tidak mau patuh pada perintah-Nya.

Ketujuh: waktu yang tidak diisi dengan kebaikan dan pendekatan diri pada Allah.

Kedelapan: pikiran yang selalu berputar pada hal yang tidak bermanfaat.

Kesembilan: pekerjaan yang tidak membuatmu semakin mengabdi pada Allah dan juga tidak memperbaiki urusan duniamu.

Kesepuluh: rasa takut dan rasa harap pada makhluk yang dia sendiri berada pada genggaman Allah. Makhluk tersebut tidak dapat melepaskan bahaya dan mendatangkan manfaat pada dirinya, juga tidak dapat menghidupkan dan mematikan serta tidak dapat menghidupkan yang sudah mati.

Itulah sepuluh hal yang melalaikan dan sia-sia. Di antara sepuluh hal tersebut yang paling berbahaya dan merupakan asal muasal segala macam kelalaian adalah dua hal yaitu: hati yang selalu lalai dan waktu yang tersia-siakan. Hati yang lalai akan membuat seseorang mengutamakan dunia daripada akhirat, sehingga dia cenderung mengikuti hawa nafsu. Sedangkan menyia-nyiakan waktu akan membuat seseorang panjang angan-angan.

Padahal segala macam kerusakan terkumpul karena mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Sedangkan segala macam kebaikan ada karena mengikuti al huda (petunjuk) dan selalu menyiapkan diri untuk berjumpa dengan Rabb semesta alam.

Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.


Rujukan: Al Fawa’id, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, hal. 108, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, 1425 H.

Mengenang saudara & sahabatku Purna Atmaja. Uhibbuka fillah, ya akhi....

Sumber artikel di sini.

Selasa, 27 November 2012

Tinggalkan Perkara Tak Berguna...!

Al-Imam asy-Syafi’i berkata : Barangsiapa yang ingin Allah membukakan dan menerangi hatinya, hendaknya ia meninggalkan ucapan yang tidak berguna dan menjauhi kemaksiatan. (Tahdziibul Asmaa’ karya al-Imam an-Nawawy (1/79))

Saif al-Yamani menyatakan : Sesungguhnya salah satu tanda bahwa Allah berpaling dari seorang hamba adalah Allah jadikan kesibukannya pada hal-hal yang tidak berguna. (Thabaqaat al-Muhadditsiin bi Asbahaan karya Abusy Syaikh al-Asbahaany (3/150)

Malik bin Dinar berkata : Jika engkau melihat hatimu menjadi keras, badanmu lemah, dan kekurangan pada rezekimu, ketahuilah bahwa engkau telah berbicara sesuatu hal yang tidak perlu (Faidhul Qadiir karya al-Munawi (1/369))

Mengenang saudara & sahabatku Purna Atmaja. Uhibbuka fillah, ya akhi....
Sumber artikel dan foto bunga (Eden Brothers).

Selasa, 17 Mei 2011

Orang Yang Terlena Dengan Dunia

Imam Ahmad bin Abdurrahman al-Maqdisi rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, orang yang tenggelam dan terlena dengan dunia, maka hatinya akan lalai dari mengingat mati, dia tidak mengingatnya. Andaikan ingat, dia akan benci dan lari darinya. Orang yang semacam ini, ingat mati tidak membawanya kecuali bertambah jauh dari Allah.” (Mukhtashar Minhaj al-Qashidin halaman 482)
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Majalah Al-Furqon Edisi 5 tahun 8 Dzulhijjah 1429 (Desember 2008)
http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/mengingat-mati.html

Sabtu, 14 Agustus 2010

Ketika Kemarau Melanda Hati

Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kemarau yang melanda hati adalah kelalaian. Kelalaian itulah hakikat kekeringan dan kemarau yang menimpanya. Selama seorang hamba tetap mengingat Allah dan mengabdikan diri kepada-Nya niscaya hujan rahmat akan turun kepadanya sebagaimana layaknya air hujan yang terus menerus turun. Namun, apabila ia lalai maka ia akan mengalami masa kering yang berbanding lurus dengan sedikit banyaknya kelalaian yang terjadi padanya. Dan apabila ternyata kelalaian telah berhasil menjajah dan menguasai dirinya maka jadilah ‘buminya’ itu hancur dan binasa...” (Asrar ash-Shalah, halaman 4)

Sumber:
http://abumushlih.com/curahan-air-wahyu-di-tanah-hati.html/

Senin, 02 Agustus 2010

Meremehkan Perintah Allah

Ja’far berkisah, “Suatu saat kami berkunjung ke rumah Abi at-Tayyah untuk menjenguknya, maka dia berkata, “Demi Allah, seharusnya seorang muslim menambah usaha dan kesungguhan mereka ketika melihat apa yang melanda manusia berupa keacuhan dan sikap peremehan mereka terhadap perintah Allah’. Lalu ia pun menangis.”

Rujukan:
Menangis, Terapi Syar’i Meluluhkan Kerasnya Hati, Shalih bin Shuwalih al-Hasawi, Penerbit Darul Haq
http://www.shalihah.com/panduan-agama/akhlaq/tangisan-shalafush-sholeh-karena-takut-allah

Minggu, 25 Juli 2010

" Orang Yang Tertipu "

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: "Kadang-kadang manusia itu sehat, tetapi dia tidak longgar, karena kesibukannya dengan penghidupan. Dan kadang-kadang manusia itu cukup (kebutuhannya), tetapi dia tidak sehat. Maka jika keduanya terkumpul, lalu dia dikalahkan oleh kemalasan melakukan kataatan, maka dia adalah orang yang tertipu. Kesempurnaan itu adalah bahwa dunia merupakan ladang akhirat, di dunia ini terdapat perdagangan yang keuntungannya akan nampak di akhirat."

Sumber:
http://www.pengusahamuslim.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/880-dua-nikmat-yang-sering-terlupa.html

NIKMAT MANA YANG ENGKAU DUSTAKAN...?

Diriwayatkan bahwa seseorang mengadukan kemiskinannya dan menampakkan kesusahannya kepada seorang ‘alim. Maka orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau senang menjadi buta dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”, dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi bisu dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”, dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang yang tidak punya kedua tangan dan kedua kaki dengan mendapatkan 20 ribu dirham?”, dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang gila dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”, dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau tidak malu mengadukan Tuanmu (Allah subhanahu wa ta'ala ) sedangkan Dia memiliki harta 50 ribu dinar padamu”. (Mukhtashar Minhajul Qashidin, halaman: 366)

Sumber:
http://www.pengusahamuslim.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/880-dua-nikmat-yang-sering-terlupa.html

TENGGELAM DALAM NIKMAT, LEMAH DALAM BERSYUKUR

Adalah Abu Al-Mughirah, jika ditanya tentang kabarnya, menjawab, “Pagi ini, kita tenggelam di dalam nikmat, tetapi lemah di dalam bersyukur. Rabb kita menampakkan cinta-Nya kepada kita, padahal Dia tidak membutuhkan kita. Sedangkan kita menampakkan kebencian kepada-Nya, padahal kita sangat membutuhkan-Nya.”

Sumber:
Tazkiyatun Nafs, Ibnu Rajab al-Hambali, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Imam al-Ghazali, Pustaka Arafah
http://www.pengusahamuslim.com/baca/artikel/880/nikmat-syukur

Sabtu, 24 Juli 2010

KELALAIAN MANUSIA

Saudaraku, betapa banyak hari dan malam yang berlalu tanpa kita sadari? Kapan kita akan sadar dari kelalaian ini? Kapan kita akan bangun dari tidur panjang untuk menyongsong akhirat dan mempertanggungjawabkan amal yang ada di pundak kita. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. al Ahzab[33]: 72)

Sumber:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kelalaian.html

KELALAIAN, SEBAB KERAS & BEKUNYA HATI

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan, “Hati-hati manusia sangat butuh untuk berzikir dan mengingat wahyu yang diturunkan oleh Allah serta mengisi ucapan-ucapannya dengan hikmah. Tidak semestinya hal itu dilalaikan. Karena kelalaian adalah penyebab keras dan membekunya hati.” (Taisir Al Karim Ar Rahman, halaman 840).

Sumber:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/buah-kemaksiatan-dan-kelalaian.html

Jumat, 23 Juli 2010

LEBIH JELEK DARI KEMATIAN

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[Al Fawa’id, Ibnul Qayyim, halaman 33, Darul ‘Aqidah.]

Sumber:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/gara-gara-nonton-piala-dunia.html

Rabu, 21 Juli 2010

"Tanda Keberpalingan Allah Terhadap Hamba"

Diriwayatkan dari Hasan al-Bashri rahimahullah, beliau mengatakan, “Salah satu tanda Allah telah berpaling meninggalkan seorang hamba adalah ketika Allah menjadikan dia sibuk dalam hal-hal yang tidak penting baginya.” (ad-Durrah as-Salafiyah, halaman 115).

Sumber:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kapan-mau-berhenti-merokok.html

Senin, 19 Juli 2010

"Meninggalkan Perkara Yang Tidak Bermanfaat"

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ». حَدِيْثٌ حَسَنٌ, رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَغَيْرُهُ هَكَذَا.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya)

Sumber:
http://muslim.or.id/hadits/meninggalkan-perkara-tidak-bermanfaat-1.html

Senin, 12 Juli 2010

" Orang Yang Menganggur "

Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu mengatakan,

إنِّي لَأَبْغَضُ الرَّجُلَ فَارِغًا لَا فِي عَمَلِ دُنْيَا وَلَا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ

“Aku sangat membenci orang yang menganggur, yaitu tidak punya amalan untuk penghidupan dunianya ataupun akhiratnya.” (Al Adabusy Syar’iyyah, Ibnu Muflih, 4/303, Mawqi’ Al Islam)

Sumber:
http://rumaysho.com/faedah-ilmu/15-faedah-ilmu/2769-nikmat-sehat-dan-waktu-luang-yang-membuat-manusia-tertipu.html

" Manusia Yang Lalai "

‘Umar bin Khaththab mengatakan,

إنِّي أَكْرَهُ الرَّجُلَ أَنْ أَرَاهُ يَمْشِي سَبَهْلَلًا أَيْ : لَا فِي أَمْرِ الدُّنْيَا ، وَلَا فِي أَمْرِ آخِرَةٍ .

“Aku tidak suka melihat seseorang yang berjalan seenaknya tanpa mengindahkan ini dan itu, yaitu tidak peduli penghidupan dunianya dan tidak pula sibuk dengan urusan akhiratnya.” (Al Adabusy Syar’iyyah, Ibnu Muflih, 4/303, Mawqi’ Al Islam)

Sumber:
http://rumaysho.com/faedah-ilmu/15-faedah-ilmu/2769-nikmat-sehat-dan-waktu-luang-yang-membuat-manusia-tertipu.html

" Nikmat Sehat & Waktu Luang "

Ibnul Jauzi mengatakan, ”Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun ia dalam kondisi tidak sehat. Apabila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya).”

Sumber:
http://rumaysho.com/faedah-ilmu/15-faedah-ilmu/2769-nikmat-sehat-dan-waktu-luang-yang-membuat-manusia-tertipu.html