Pages

Tampilkan postingan dengan label Takwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Takwa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2015

Takwa : Sumber Selamat

Ibnul Jauzi rahimahullahu menuturkan:
“Ketahuilah, hidup tak selalu sama. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وتلكَ الأيامُ نداولها بينَ الناس
Hari-hari itu kami pergilirkan dalam (hidup) manusia.”
Manusia itu … kadang miskin, kadang kaya. Kadang mulia, kadang hina. Kadang membuat gembira orang tercinta, kadang membuat senang musuh-musuhnya (karena dia ditimpa kesusahan, pent).
Karena itu, orang yang bahagia adalah mereka yang senantiasa berpijak pada satu prinsip dalam setiap keadaan, yaitu takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Ketika dia kaya, ketakwaannya akan menghiasi dirinya.
Ketika dia miskin, ketakwaannya akan menjadikan dirinya senantiasa sabar.
Ketika dia sehat, ketakwaannya akan menyempurnakan nikmat sehat itu.
Ketika dia tertimpa cobaan hidup, ketakwaannya akan membuat dirinya tetap tegar.
Ia tidak akan rugi bila hidup menurunkan derajatnya, meninggikannya, menelanjanginya, mengenyangkannya, atau membuatnya lapar. Karena memang itu semua selalu naik-turun dan terus berubah.
Demikianlah, takwa adalah sumber keselamatan.
—-
Sumber: Shayyidul Khathir, Ibnul Jauzi.
Penerjemah: Anita Rahmawati
Pemuraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Mengenang saudara & sahabatku Purna Atmaja. Uhibbuka fillah, ya akhi....
Sumber artikel muslimah.or.id

Selasa, 03 Januari 2012

" Memperbagus Usaha Mencari Rezeki "

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah usaha mencari rezeki, karena jiwa tidak akan mati sampai sempurna rezekinya walaupun kadang agak tersendat–sendat. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mengusahakannya, ambillah yang halal dan buanglah yang haram.” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Ibnu Majah no.1741)

Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://muslimah.or.id/pojok-hikmah/dilema-cinta-dalam-logika-asmara-bag-02.html

Senin, 04 Juli 2011

Kaya Asal Bertakwa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

“Tidak mengapa seseorang itu kaya asalkan bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan hati yang bahagia adalah bagian dari nikmat.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69, shahih kata Syaikh Al Albani)

Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3483-sehat-lebih-baik-dari-kaya.html?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed%3A+rumaysho%2FrFAC+%28Feed+Rumaysho.com%29

Kamis, 14 April 2011

Orang-Orang Yang Bertakwa

al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menjauhi perkara-perkara yang diharamkan Allah kepada mereka dan menunaikan kewajiban yang diperintahkan kepada mereka.” (Dinukil dari Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, halaman 211 cetakan Dar al-Hadits 1418 H)

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/ciri-ciri-penduduk-surga.html

Selasa, 01 Maret 2011

Takwa

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata:
"Orang yang bertakwa adalah orang-orang yang takut kepada Allah dan siksa-Nya ketika ia meninggalkan petunjuk yang diketahui, dan mengharap rahmat-Nya ketika membenarkan wahyu yang Dia turunkan."

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:
"Takwa bukanlah hanya dengan puasa di siang hari, shalat malam dan menggabungkan dua amalan ini. Namun takwa adalah meninggalkan apa yang diharamkan Allah dan menunaikan kewajiban-Nya. Barangsiapa yang diberi karunia kebaikan setelahnya, itu adalah kebaikan di atas kebaikan."

Thalq bin Habib rahimahullah berkata:
"Takwa adalah taat kepada Allah di atas cahaya-Nya (ilmu) dengan mengharap pahala-Nya dan
meninggalkan maksiat di atas cahaya Allah karena takut akan siksa-Nya."

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:
"Takwa adalah Allah ditaati dan tidak didurhakai, diingat dan tidak dilupakan, disyukuri (kenikmatan-Nya) dan tidak diingkari."

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ditanya tentang takwa, maka beliau menjawab:
"Apakah kamu pernah menginjak jalan yang berduri?"
"Ya," jawab penanya.
"Lalu apa yang kamu lakukan?" tanya Abu Hurairah.
Dia berkata, "Jika aku melihat duri maka aku menghindarinya, atau aku lewati atau aku memagarinya."
Abu Hurairah berkata: "Itulah takwa."

(Dinukil dari Jami'ul 'Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab, hal. 244-245)

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Majalah Asy Syari'ah, no. 03/I/Ramadhan 1424 H/Oktober-November 2003, rubrik Permata
Salaf.

Jumat, 17 Desember 2010

Bertakwalah Kepada Allah

Berkata Ibnu Mas’ûd Radhiyallâhu ‘Anhu, “Cukuplah sesorang itu berdosa jika dikatakan kepadanya “Bertakwalah kepada Allâh”, lantas ia berkata,”Urus dirimu sendiri, orang seperti kamu sok mau menasehatiku??!” (Risalah Ramadhân Furshah lit Taghyîr halaman 13-14)

Sumber:
http://artikel.stai-ali.ac.id/?p=18

Selasa, 23 November 2010

Orang Yang Bertakwa

Hasan Al Bashri mengatakan, ”Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menjaga dirinya dari hal-hal yang Allah haramkan kepada mereka serta mereka melaksanakan apa saja yang Allah wajibkan kepada mereka.” (Jami’ul ‘Ulum, halaman 208. Cetakan Darul Hadits).

Sumber:
http://abumushlih.com/umat-islam-di-manakah-iman-kalian.html/

Menjadi Orang Yang Bertakwa

‘Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada seseorang yang isinya, ”Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla, itulah syarat amalan yang akan diterima oleh-Nya. Dan tidak akan mendapatkan rahmat-Nya kecuali orang yang melaksanakannya. Dan tidaklah Allah memberikan pahala untuk sesuatu selain pada jalur ketakwaan kepada-Nya. Sesungguhnya banyak orang yang memberikan nasihat untuk bertakwa, akan tetapi betapa sedikit orang yang bisa mengamalkannya. Semoga Allah menjadikan saya dan kamu termasuk orang-orang yang bertakwa.”

(Jami’ul ‘Ulum, halaman 210. Cetakan Darul Hadits)

Sumber:
http://abumushlih.com/umat-islam-di-manakah-iman-kalian.html/

Wasiat Takwa

Untukmu Perindu Akhirat

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu memberikan wasiat kepada seorang panglima yang diutusnya untuk memimpin sebuah pasukan perang, ”Aku wasiatkan kepadamu untuk selalu bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla Dzat yang pasti akan kau temui serta tidak ada akhir hidupmu kecuali menghadap kepada-Nya. Padahal Dia lah yang menguasai dunia dan akhirat.”

(Jami’ul ‘Ulum, halaman 210. Cetakan Darul Hadits)

Sumber:
http://abumushlih.com/umat-islam-di-manakah-iman-kalian.html/

WASIAT TAKWA

‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu’anhu mewasiatkan kepada puteranya Abdullah, ”Amma ba’du. Aku mewasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla, karena barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menjaganya. Dan barang siapa yang meminjamkan hartanya di jalan Allah, Allah pasti membalasnya. Barang siapa yang bersyukur kepada-Nya pasti diberikan tambahan nikmat oleh-Nya…”

(Jami’ul ‘Ulum, halaman 210. Cetakan Darul Hadits)

Sumber:
http://abumushlih.com/umat-islam-di-manakah-iman-kalian.html/

Kamis, 21 Oktober 2010

KETAQWAAN HAKIKI

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ketaqwaan yang hakiki adalah ketaqwaan dari dalam hati bukan semata-mata ketaqwaan dengan anggota badan.” (al-Fawa’id, halaman 136)

Sumber:
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/apakah-kita-sudah-bertakwa.html

Minggu, 29 Agustus 2010

Hikmah Dari Bala'

Jika Allah Ta'ala menguji hamba-Nya dengan bala', tidaklah hal itu bertujuan untuk menyeng­sarakan hamba-Nya. Akan tetapi Dia menimpakan bala' adalah untuk menguji kesabaran dan kesung­guhan ibadahnya. Karena bagi Allahlah ibadah se­orang hamba tatkala berada dalam kesempitan, sebagaimana bagi-Nya pula ubudiyah hamba di kala lapang. Bagi-Nyalah ubudiyah hamba dalam perkara yang tidak ia suka, sebagaimana bagi-Nya pula ubudiyah hamba dalam perkara yang dia suka.

Kebanyakan manusia hanya mempersembahkan ubudiyah dalam hal-hal yang mereka sukai saja, namun bakhil untuk memberikan ubudiyah dalam hal yang tidak mereka suka. Oleh karena itulah ke­dudukan hamba itu bertingkat-tingkat di sisi Allah sesuai dengan tingkatan ubudiyahnya kepada-Nya. Wudhu dengan air dingin dalam suasana yang amat panas adalah ibadah, bermuka manis di hadapan istri cantik yang dicintai adalah ibadah, memberikan nafkah kepadanya, keluarganya dan dirinya sendiri adalah ibadah. Demikian halnya wudhu dengan air dingin di saat suasana yang sangat dingin adalah ibadah, meninggalkan maksiat di saat nafsu sangat menginginkannya bukan karena takut pada manusia adalah ibadah dan menafkahkan hartanya di kala sempit merupakan ibadah. Akan tetapi (kendati sa­ma-sama ibadah) ada perbedaan tingkatan yang jauh antara dua macam ibadah di atas.

Maka barangsiapa mampu menghamba kepada Allah dalam dua keadaan tersebut, menegakkannya di kala benci dan cinta, maka dia akan memperoleh apa yang difirmankan Allah:

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

"Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya." (QS Az-Zumar: 36)

Kecukupan yang sempurna didapat dengan ubu­diyah yang sempurna, kekurangan disebabkan pula karena kurangnya sifat ubudiyah. Maka barang­siapa yang mendapatkan kebaikan hendaknya me­muji Allah, dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, janganlah mencela melainkan kepada di­rinya sendiri.

Ibnul Qayyim Al Jauziyyah Rahimahullah

www.ibnumajjah.wordpress.com

Senin, 02 Agustus 2010

WASIAT TAKWA

‘Ali bin Al-Madini rahimahullah berkata: “Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata kepadaku, ‘Sebenarnya aku ingin menemanimu pergi ke Makkah dan tidaklah ada yang menghalangiku untuk menemanimu kecuali aku khawatir akan membuatmu bosan atau engkau yang membuatku bosan.’

Ali rahimahullah berkata: “Ketika aku akan berpisah, kukatakan kepadanya: ‘Wahai Abu ‘Abdillah, berilah aku suatu wasiat?’

Ahmad rahimahullah berkata: “Ya, tetapkanlah ketakwaan itu dalam hatimu, dan tegakkanlah akhirat itu di hadapanmu.”

Sumber:
http://www.assalafy.org/mahad/?p=524#more-524

Minggu, 25 Juli 2010

TAKWA DI MANAPUN BERADA

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan sebuah nasehat berharga kepada Abu Dzar Al Ghifariy Jundub bin Junadah,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutkanlah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapuskannya dan berakhlaqlah dengan sesama dengan akhlaq yang baik.”

HR. Tirmidzi no. 1987. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi (hasan dilihat dari jalur lainnya). Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib 2655.

Sumber:
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/aku-ingin-bertaubat-tetapi.html

Senin, 19 Juli 2010

MENJAGA DIRI DENGAN BERTAKWA KEPADA-NYA

Telah berkata salah seorang ulama salaf: “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah ta’ala, maka (berarti) dia telah menjaga dirinya, dan barangsiapa yang berpaling dari ketakwaan kepada Allah ta’ala, maka (berarti) dia telah menyia-nyiakan dirinya, dan Allah ta’ala tidak butuh kepadanya”.

Sumber:
http://muslim.or.id/aqidah/penjelasan-hadits-arbain-nawawiyah-iman-kepada-takdir.html

Minggu, 18 Juli 2010

Allah Dekat Dengan Orang-Orang Yang Bertakwa

Allah ta’ala akan selalu dekat dengan orang-orang yang bertakwa sepanjang zaman. Dia selalu disembah oleh hamba-Nya baik di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Dia selalu hidup dan tidak pernah mati. Amal-amal manusia di siang hari selalu terangkat pada-Nya sebelum datang malam hari dan amal-amal yang dikerjakan pada malam hari akan terangkat pada-Nya sebelum datang siang hari. Allah tidak akan berbuat zalim sedikit pun.

Sumber:
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/pelajaran-berharga-ramadhan-1.html

Sabtu, 17 Juli 2010

Muslim Dan Muhajir

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim ialah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Alloh.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Sumber:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/hijrah-kepada-allah-dan-rasul-nya.html

Selasa, 13 Juli 2010

" Menjaga Hak-Hak Allah "

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Barangsiapa menjaga (hak-hak) Allah, maka Allah akan menjaganya dari berbagai gangguan.” Sebagian salaf mengatakan, “Barangsiapa bertakwa pada Allah, maka Allah akan menjaga dirinya. Barangsiapa lalai dari takwa kepada Allah, maka Allah tidak ambil peduli padanya. Orang itu berarti telah menyia-nyiakan dirinya sendiri. Allah sama sekali tidak butuh padanya.” [Jaami'ul 'Ulum wal Hikam]

Sumber:
http://www.rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/2909-masa-mudamu-mempengaruhi-masa-tuamu.html

Sabtu, 10 Juli 2010

Bertakwa Di Mana Saja Engkau Berada

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Dan ikutilah perbuatan dosa dengan perbuatan baik niscaya akan menghapuskannya. Dan pergaulilah orang dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, hadits hasan sahih).

Sumber:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/sudahkah-kita-meneladani-akhlak-salafus-shalih.html

" Arti Takwa "

Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena mengharapkan pahala dari Allah, serta kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut hukuman Allah.” (Dinukil dari Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, halaman 211 cetakan Dar al-Hadits 1418 H)

Sumber:
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/ciri-ciri-penduduk-surga.html