Pages

Tampilkan postingan dengan label Khumul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khumul. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 November 2011

TAAT DALAM KESENDIRIAN

Hudzaifah bin Qatadah al Mar’asyi berkata, “Jika kamu mentaati Allah dalam kesendirian, Dia akan memperbaiki hatimu, baik kamu berkehendak atau tidak.” (Shifatus Shafwah : IV/270 dalam Ensiklopedi Hikmah nomor 593, halaman. 347).

Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.oaseimani.com/balasan-amalan-dalam-kesendirian.html

Senin, 12 September 2011

ASING DI BUMI, TERKENAL DI LANGIT

Abul Abbas al ‘Atha’ berkata, “Tanda-tanda wali itu ada empat macam: Menjaga rahasia antara dirinya dengan Allah, menjaga amalan anggota tubuhnya antara dirinya dengan perintah Allah, sabar dalam menghadapi siksaan antara dirinya dengan makhluk Allah, dan bergaul bersama manusia dengan keragaman akal mereka.” (Shifat ash Shafwah, jilid 2, halaman 287).

Al Junaid al Baghdadi menuturkan, bahwa dia pernah mendengar as Sirri ibn al Maghlas berkata, “Sesungguhnya di beberapa perkampungan di Baghdad ada wali-wali yang tidak banyak diketahui manusia.” (Shifat ash Shafwah, jilid 2, halaman 326).

Imam al Hasan al Bashri berkata, “Adakalanya seseorang sudah hafal Al Qur’an, sementara tetangganya tidak mengetahuinya. Adakalanya seseorang memiliki banyak pengetahuan, namun orang-orang tidak merasakannya. Adakalanya seseorang mendirikan shalat yang panjang, sementara di rumahnya ada beberapa orang tamu dan mereka tidak mengetahuinya. Kita mengenal beberapa orang yang melakukan amal shalih secara sembunyi-sembunyi selagi di dunia, namun kemudian pengaruh amalnya itu selalu tampak sepeninggalnya…” (Al Akhfiya’ al Manhaj wa as Suluk, oleh Walid ibn Sa’id Bahakam).

Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://gizanherbal.wordpress.com/2011/02/18/selebritis-langit/#comment-309

Jumat, 01 Juli 2011

MENJAUHI KETENARAN

Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Wahai hamba Allah, sembunyikanlah selalu kedudukan muliamu. Jagalah selalu lisanmu. Minta ampunlah terhadap dosa-dosamu, juga dosa yang diperbuat kaum mukminin dan mukminat sebagaimana yang diperintahkan padamu.”

Abu Ayub As Sikhtiyani mengatakan, “Seorang hamba sama sekali tidaklah jujur jika keinginannya hanya ingin mencari ketenaran.”[Ta’thirul Anfas, halaman 276]

Ibnul Mubarok mengatakan bahwa Sufyan Ats Tsauri pernah menulis surat padanya, “Hati-hatilah dengan ketenaran.”[Ta’thirul Anfas, halaman 277]

Daud Ath Tho’i mengatakan, “Menjauhlah engkau dari manusia sebagaimana engkau menjauh dari singa.”[Ta’thirul Anfas, halaman 278] Maksudnya, tidak perlu kita mencari-cari ketenaran ketika beramal sholih.

Imam Ahmad mengatakan, “Beruntung sekali orang yang Allah buat ia tidak tenar.” Beliau juga pernah mengatakan, “Aku lebih senang jika aku berada pada tempat yang tidak ada siapa-siapa.”[Ta’thirul Anfas, halaman 278]

Dzun Nuun mengatakan, “Tidaklah Allah memberikan keikhlasan pada seorang hamba kecuali ia akan suka berada di jubb (penjara di bawah tanah) sehingga tidak dikenal siapa-siapa.”[Ta’thirul Anfas, halaman 278]

Al Fudhoil bin ‘Iyadh mengatakan, “Rohimahullohu ‘abdan akhmala dzikrohu (Moga-moga Allah merahmati seorang hamba yang tidak ingin dirinya dikenal/tenar)”[Ta’thirul Anfas, halaman 280]

Ibrohim bin Ad-ham mengatakan, “Tidaklah bertakwa pada Allah orang yang ingin kebaikannya disebut-sebut orang.”[Ta’thirul Anfas, halaman 286]

Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2785-tanda-ikhlas-tidak-mencari-popularitas-dan-merasa-diri-serba-kekurangan.html

Sabtu, 26 Februari 2011

MENJAUHI POPULARITAS

Dari Habib bin Abi Tsabit, katanya:
"Pada suatu hari Abdullah bin Mas'ud keluar dari rumahnya kemudian manusia membuntutinya. Ia
bertanya: 'Apakah kalian punya keperluan?'. 'Tidak, akan tetapi kami ingin berjalan bersamamu',
jawab mereka. 'Kembalilah, sesungguhnya hal itu sebuah kehinaan bagi yang mengikuti dan membahayakan (fitnah) hati bagi yang diikuti,' tukas Ibnu Mas'ud." (Shifatush Shafwah, 1/406)

Dari Al-Harits bin Suwaid, katanya:
"Abdullah bin Mas'ud berkata: 'Seandainya kalian mengetahui diriku (seperti) yang aku ketahui,
pasti kalian akan menaburi tanah di atas kepalaku'." (Shifatush Shafwah, 1/406, 497)

Dari Bistham bin Muslim, katanya:
"Adalah Muhammad bin Sirin jika berjalan dengan seseorang, ia berdiri dan berkata, 'Apakah kamu
punya keperluan?'. Jika orang yang berjalan bersamanya mempunyai keperluan, maka ia tunaikan.
Dan jika kembali berjalan bersamanya, ia bertanya lagi, 'Apakah kamu mempunyai keperluan?'."
(Shifatush Shafwah, 3/243)

Dari Al-Hasan, salah seorang murid Ibnul Mubarak, katanya:
"Pada suatu hari aku bepergian bersama Ibnul Mubarak. Lalu kami mendatangi tempat air minum di
mana manusia berkerumun untuk mengambil airnya. Ibnul Mubarak mendekat untuk minum. Tidak
ada seorang pun yang mengenalnya sehingga mereka mendesak dan menyingkirkannya. Ketika
telah keluar, berkatalah ia kepadaku, 'Inilah kehidupan, yaitu kita tidak dikenal dan tidak dihormati.'

Ketika di Kufah, kitab manasik dibacakan kepadanya, hingga sampai pada hadits dan terdapat
ucapan Abdullah bin Al-Mubarak (Ibnul Mubarak) dan kami mengambilnya. Ia berkata, 'Siapa yang menulis ucapanku ini?' Aku katakan, 'Penulis.' Maka ia mengerik tulisan itu dengan jari tangannya hingga terhapus kemudian berkata, 'Siapakah aku hingga ditulis ucapannya?'." (Shifatush Shafwah, 4/135)

Dari seseorang, katanya:
"Aku melihat wajah Al-Imam Ahmad sangat muram setelah dipuji seseorang (dengan ucapan) 'Jazakallahu khairan (semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan) atas perjuangan Islam anda'. Al-Imam Ahmad berkata, 'Bahkan Allah telah memberikan kebaikan Islam kepadaku. Siapakah dan apa aku ini?'." (Siyar A'lamin Nubala, 11/225)

(Dikutip dari kitab Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf, halaman 23-24)

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Majalah Asy Syari'ah, no. 06/I/Muharram 1425 H/Maret 2004, rubrik Permata Salaf.

TIDAK INGIN DISEBUT & DIKENAL

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menulis surat kepada 'Abbad bin 'Abbad Al-Khawwash rahimahullah:

Amma ba'du. Sesungguhnya engkau hidup di zaman yang para shahabat Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam berlindung agar tidak menemui zaman itu. Padahal mereka memiliki ilmu yang tidak kita
miliki dan mereka memiliki kekokohan yang tidak kita miliki. Maka bagaimana ketika kita mendapati zaman ini dengan sedikitnya ilmu kita, sedikitnya kesabaran kita, sedikitnya penolong dalam kebaikan, rusaknya manusia, dan kotoran dunia?

Oleh karena itu, hendaknya engkau berpegang pada generasi awal, dan peganglah erat-erat.
Hendaknya engkau mempunyai sifat khumul (tidak ingin disebut dan dikenal), karena
sesungguhnya sekarang adalah zaman khumul. Hendaknya engkau ber-uzlah dan sedikit bergaul
dengan manusia. Karena dahulu bila manusia bertemu, mereka saling mengambil manfaat. Adapun
hari ini, yang seperti itu sudah hilang. Dan keselamatan adalah dengan meninggalkan mereka,
menurut pendapat kami.

Jauhilah umara, janganlah mendekati mereka dan bergaul dengan mereka sedikit pun. Hati-hatilah,
jangan sampai engkau terpedaya, sehingga dikatakan kepadamu: "Engkau bisa memberi pembelaan, dan menghindari atau menolak kedzaliman." Sesungguhnya itu adalah tipu daya iblis. Yang seperti ini hanyalah dipakai oleh qurra (ulama) yang jahat sebagai tangga.

Dahulu dikatakan: "Takutlah kalian dari fitnah ahli ibadah yang bodoh dan fitnah alim yang jahat, karena fitnah keduanya merupakan fitnah bagi setiap orang."

Adapun masalah dan fatwa yang engkau dapatkan, ambillah dan janganlah melampaui mereka dalam hal itu. Dan berhati-hatikah engkau agar tidak seperti seseorang yang suka bila perkataanya diamalkan, disebarkan, atau didengarkan; yang bila hal itu semua tidak didapatnya, akan diketahui apa yang ada dalam dirinya.

Dan jauhilah kecintaan terhadap kekuasaan, karena sesungguhnya ada seseoran yang lebih cinta
kekuasaan daripada emas dan perak. Padahal cinta kekuasaan merupakan pintu yang rumit, yang tidak bisa diketahui kecuali oleh ulama yang benar-benar ahli. Maka periksalah dirimu dan
beramallah dengan niat. Ketahuilah, sesungguhnya sudah dekat kepada manusia suatu perkara, di
mana seseorang lebih menginginkan kematian (daripada menemui perkara itu). Wassalam.

(Min Washaya As-Salaf, halaman 19-25)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Majalah Asy Syari'ah, no.23/II/1427 H/2006, rubrik Permata Salaf.

Sabtu, 22 Januari 2011

MENYEMBUNYIKAN AMALAN PUASA SUNNAH

Daud bin Abi Hindi berpuasa selama 40 tahun dan tidak ada satupun orang, termasuk keluarganya yang mengetahuinya. Ia adalah seorang penjual sutera di pasar. Di pagi hari, ia keluar ke pasar sambil membawa sarapan pagi. Dan di tengah jalan menuju pasar, ia pun menyedekahkannya. Kemudian ia pun kembali ke rumahnya pada sore hari, sekaligus berbuka dan makan malam bersama keluarganya.[Shifatus Shafwah, Ibnul Jauziy, 3/300] Jadi orang-orang di pasar mengira bahwa ia telah sarapan di rumahnya. Sedangkan orang-orang yang berada di rumah mengira bahwa ia menunaikan sarapan di pasar.

Begitu pula para ulama seringkali membatalkan puasa sunnahnya karena khawatir orang-orang mengetahui kalau ia puasa. Jika Ibrahim bin Ad-ham diajak makan (padahal ia sedang puasa), ia pun ikut makan dan ia tidak mengatakan, “Maaf, saya sedang puasa”.[Ta’thirul Anfas,halaman 246]

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2784-tanda-ikhlas-berusaha-menyembunyikan-amalan-.html

CUKUPLAH ALLAH & DIRIMU SENDIRI YANG TAHU

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.”[HR. Muslim no. 2965, dari Sa’ad bin Abi Waqqash]

Ibnul Mubarak mengatakan, “Jadilah orang yang suka mengasingkan diri (sehingga amalan mudah tersembunyi), dan janganlah suka dengan popularitas.”

Az Zubair bin Al ‘Awwam mengatakan, “Barangsiapa yang mampu menyembunyikan amalan shalihnya, maka lakukanlah.”

Ibrahim An Nakha’i mengatakan, “Kami tidak suka menampakkan amalan shalih yang seharusnya disembunyikan.”

Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan bahwa Abu Hazim berkata, “Sembunyikanlah amalan kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan amalan kejelekanmu.”

Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Sebaik-baik ilmu dan amal adalah sesuatu yang tidak ditampakkan di hadapan manusia.”

Basyr Al Hafiy mengatakan, “Tidak selayaknya orang-orang semisal kita menampakkan amalan shalih walaupun hanya sebesar dzarrah (semut kecil). Bagaimana lagi dengan amalan yang mudah terserang penyakit riya’?”

Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Sudah sepatutnya bagi seorang alim memiliki amalan rahasia yang tersembunyi, hanya Allah dan dirinya saja yang mengetahuinya. Karena segala sesuatu yang ditampakkan di hadapan manusia akan sedikit sekali manfaatnya di akhirat kelak.”

(Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas, Sayyid bin Husain Al ‘Afaniy, halaman 230-232,Darul ‘Afani, cetakan pertama, 1421 H).

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2784-tanda-ikhlas-berusaha-menyembunyikan-amalan-.html

Kamis, 20 Januari 2011

JANGAN CERITAKAN PADA SIAPAPUN

al-A’masy rahimahullah mengatakan, “Suatu saat Hudzaifah menangis di dalam shalatnya. Setelah selesai maka beliau berbalik dan ternyata ada orang di belakangnya maka beliau pun berkata, ‘Jangan kamu beritahukan hal ini kepada siapapun’.” (Diriwayatkan oleh al-Hasan ad-Dharrab dalam Dzamm ar-Riya’, dinukil dari Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbabi Tafadhul al-A’mal, hal. 53 cet. Dar al-Imam Ahmad 1428 H).

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://abumushlih.com/enam-ayat-tentang-tauhid.html/

Ulama Salaf & Menyembunyikan Amal

Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah menceritakan, “Sesungguhnya mereka dahulu -ulama salaf- apabila sedang berkumpul maka mereka tidak suka apabila seorang -di antara mereka- harus mengeluarkan cerita terbaik yang dia alami atau -mengeluarkan- perkara terindah yang ada pada diri mereka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Mubarak dalam az-Zuhd, dinukil dari Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbabi Tafadhul al-A’mal, hal. 53 cet. Dar al-Imam Ahmad 1428 H).

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://abumushlih.com/enam-ayat-tentang-tauhid.html/

Rabu, 19 Januari 2011

" MENJAUHI KETENARAN "

Ibnul Mubarak bertanya kepada Ibnu Idris : Saya ingin pergi ke perbatasan. (jihad), tunjukkan kepadaku orang yang paling afdhal di sana. Ia berkata : Hendaklah engkau menemui Muhammad bin Yusuf al-Asbahany. Aku bertanya : Di mana tempat tinggalnya ? Ia menjawab : Di Mashirah dekat pantai. Maka Abdullah bin Mubarak pergi ke Mashirah dan bertanya tentang Muhammad bin Yusuf. Sedang manusia tidak ada yang mengetahuinya. Ibnul Mubarak berkata : Kelebihan anda adalah anda tidak dikenal orang. (Shifatush Shafwah, IV/76-77)

Sufyan ats-Tsaury berkata, Hendaklah engkau menjauhi syuhrah (terkenal). Tidaklah aku menemuhi seorang syaikh kecuali selalu melarangku darinya. (Shifatush Shafwah, VII/260)

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Panduan Akhlak Salaf, Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil Bahauddien `Aqiel. Penerjemah: Abu Umar Basyir Al-Medani. Penerbit: At-Tibyan – Solo, Cetakan pertama, September 2000

Selasa, 04 Januari 2011

" Keikhlasan Amal Yang Menakjubkan "

Sepanjang malam, Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib menyusuri gelapnya malam dengan membawa gandum yang ia bagi-bagikan kepada seratus keluarga penduduk Madinah yang miskin. Mereka semua tidak pernah tahu siapa yang memberikan gandum itu di depan rumahnya. Ketika Ali bin Husain meninggal dunia; mereka baru tahu bahwa Ali adalah lelaki misterius yang selama ini mereka cari. Buktinya, ada tanda hitam yang ada di pundaknya. Keikhlasan itu selalu mengalirkan kekaguman yang tak berkesudahan. Subhanallah. (Shifatush Shafwah, Ibnul Jauzi)

Silakan baca sumber lengkapnya di sini:
http://www.oaseimani.com/al-qashashu-junudullah.html

" Menjauhi Ketenaran "

Imam Syafi’i berkata, “Aku ingin bila semua ilmu yang aku ketahui dipelajari oleh manusia. Aku mendapat pahala dengannya, namun mereka tidak memujiku (dan tidak pula menisbatkan ilmu itu kepadaku).” (al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab : 1/21).

Silakan baca sumber lengkapnya di sini:
http://www.oaseimani.com/inginku.html

Selasa, 27 Juli 2010

" Ikhlaskan Niat Dan Sembunyikan Amal "

Ibnul Jauzi mengatakan,

أن ترك النظر إلى الخلق و محو الجاه من قلوبهم بالعمل و إخلاص القصد و ستر الحال هو الذي رفع من رفع

"Meninggalkan perhatian makhluk dan tidak mencari-cari kedudukan di hati mereka dengan beramal shalih, mengikhlaskan niat, dan menyembunyikan amal merupakan faktor yang mampu meninggikan derajat orang yang mulia." (Shaidul Khatir halaman 251)

Bisyr Ibnul Harits rahimahullah berkata, “Jangan kau beramal supaya dikenang. Sembunyikanlah kebaikanmu seperti kamu menyembunyikan kejelekanmu.”

Sumber:
http://muslim.or.id/aqidah/bagaimana-saya-bisa-ikhlas-di-setiap-amal.html
http://muslimah.or.id/manhaj/jangan-biarkan-amalan-berlalu-sia-sia.html