Tampilkan postingan dengan label Dunia Fana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Fana. Tampilkan semua postingan
Kamis, 19 April 2012
Perumpamaan Dunia
Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta'ala Berkata :
"Dunia bagaikan seorang Wanita Pelacur yang tidak pernah puas dengan satu suami. Dia akan mencari laki-laki yang akan berbuat baik kepada dirinya dan dia tidak menyukai seorang laki-laki yang pencemburu. Orang yang berjalan mengejar dunia bagaikan orang yang berjalan di daerah yang penuh binatang buas. Jika dia berenang ingin menggapainya, ia bagaikan orang yang mengejarnya dalam pusaran air yang penuh buaya." {Al-Fawaid Halaman. 53}
----- Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini. -----
Labels:
Dunia Fana
Kamis, 02 Februari 2012
Dunia Medan Perlombaan
Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: "Wahai anak Adam, jika engkau melihat manusia berada dalam kebaikan maka berlombalah dengan mereka. Dan apabila engkau melihat mereka dalam kebinasaan, tinggalkan mereka beserta apa yang telah mereka pilih bagi diri-diri mereka sendiri. Sungguh, telah kita saksikan kaum demi kaum yang lebih mengutamakan dunia daripada kehidupan akhiratnya. Akhirnya mereka menjadi hina, binasa, dan tercela."
Beliau rahimahullah juga berkata: "Sesungguhnya kaum mukminin adalah saksi-saksi Allah Azza wa Jalla di muka bumi. Mereka menimbang amal perbuatan bani Adam dengan Kitabullah. Barangsiapa yang sesuai dengan Kitabullah maka dia pun memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala karenanya. Dan apa
saja yang bertentangan dengan Kitabullah, mereka pun mengetahui bahwa itu menyelisihi Kitabullah. Dengan Al-Qur'an pula mereka mengetahui kesesatan orang-orang yang menyimpang dari al-haq."
Beliau rahimahullah juga berkata: "Barangsiapa menyaingimu dalam perkara agama, maka saingilah ia (dengan penuh semangat). Dan barangsiapa yang menyaingimu dalam perkara dunia, maka lemparkanlah dunia itu pada tempat penyembelihannya (tenggorokkannya, pen.). Jika engkau melihat
manusia berlomba-lomba dalam urusan dunia, maka berlombalah dengan mereka dalam urusan akhirat. Sesungguhnya dunia mereka akan sirna dan akhirat akan tetap kekal selamanya."
(Mawa'izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, halaman 46-48)
Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Majalah Asy Syari'ah, no.36/III/1428 H/2007, rubrik Permata Salaf.
Beliau rahimahullah juga berkata: "Sesungguhnya kaum mukminin adalah saksi-saksi Allah Azza wa Jalla di muka bumi. Mereka menimbang amal perbuatan bani Adam dengan Kitabullah. Barangsiapa yang sesuai dengan Kitabullah maka dia pun memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala karenanya. Dan apa
saja yang bertentangan dengan Kitabullah, mereka pun mengetahui bahwa itu menyelisihi Kitabullah. Dengan Al-Qur'an pula mereka mengetahui kesesatan orang-orang yang menyimpang dari al-haq."
Beliau rahimahullah juga berkata: "Barangsiapa menyaingimu dalam perkara agama, maka saingilah ia (dengan penuh semangat). Dan barangsiapa yang menyaingimu dalam perkara dunia, maka lemparkanlah dunia itu pada tempat penyembelihannya (tenggorokkannya, pen.). Jika engkau melihat
manusia berlomba-lomba dalam urusan dunia, maka berlombalah dengan mereka dalam urusan akhirat. Sesungguhnya dunia mereka akan sirna dan akhirat akan tetap kekal selamanya."
(Mawa'izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, halaman 46-48)
Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Majalah Asy Syari'ah, no.36/III/1428 H/2007, rubrik Permata Salaf.
Labels:
Dunia Fana
Kamis, 19 Januari 2012
Bahaya Cinta Dunia
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan hal ini dalam sabda beliau, “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang penuh berisi) harta/emas maka dia pasti akan menginginkan lembah (harta) yang ketiga.”[HSR Al-Bukhari (no. 6075) dan Muslim (no. 116)]
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata, "Orang yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (kerusakan dan penderitaan), Kekalutan (pikiran) yang tidak pernah hilang, keletihan yang berkepanjangan dan penyesalan yang tiada akhirnya." [Kitab “Igaatsatul lahfan” (halaman 83-84, Mawaaridul amaan)]
Dalam hal ini, salah seorang ulama salaf berkata, “Barangsiapa yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam penderitaan.” [Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Igaatsatul lahfan” (halaman 83 – Mawaaridul amaan)]
Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://manisnyaiman.com/agar-nafkah-keluarga-menjadi-berkah/
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata, "Orang yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (kerusakan dan penderitaan), Kekalutan (pikiran) yang tidak pernah hilang, keletihan yang berkepanjangan dan penyesalan yang tiada akhirnya." [Kitab “Igaatsatul lahfan” (halaman 83-84, Mawaaridul amaan)]
Dalam hal ini, salah seorang ulama salaf berkata, “Barangsiapa yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam penderitaan.” [Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Igaatsatul lahfan” (halaman 83 – Mawaaridul amaan)]
Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://manisnyaiman.com/agar-nafkah-keluarga-menjadi-berkah/
Labels:
Dunia Fana
Senin, 11 Juli 2011
Hinanya Dunia Di Sisi Allah
Dari sahabat Jabir Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam melewati sebuah pasar bersama beberapa sahabat. Beliau melihat seekor kambing cacat yang telah menjadi bangkai. Beliau mengambilnya dan memegang telinganya seraya bertanya: "Siapa di antara kalian yang ingin menukar ini dengan satu dirham?" Para sahabat menjawab: "Tidak ada seorangpun dari kami yang ingin menukarnya dengan apapun, karena kami tidak dapat mengambil manfaat darinya sama sekali." Beliau meneruskan : "Apakah ada yang ingin memilikinya?" Para sahabat menjawab: "Demi Allah, andaikan dia hidup diapun sudah cacat, apalagi ketika telah manjadi bangkai." Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: "Demi Allah, dunia ini di hadapan Allah lebih hina daripada bangkai ini di hadapan kalian.” (HR. Muslim dan Abu Dawud.)
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Tiadalah dunia dibanding akhirat melainkan hanyalah seperti air yang menempel di jari ketika salah seorang dari kalian mencelupkannya di laut.” (HR. Muslim dll)
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “ Seandainya dunia ini senilai sayap seekor nyamuk, di sisi Allah, pastilah Dia tidak akan memberi minum setetes air dunia pun kepada orang kafir.” (HR. At-Tirmidzi dll, shahih.)
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Apalah artinya aku dengan dunia, tiadalah aku di dunia melainkan seperti seorang yang dalam perjalanan bernaung di bawah pohon (sebentar), kemudian melanjutkan perjalanan lagi dan meninggalkan pohon tersebut.”(HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim, sahih.)
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=495
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Tiadalah dunia dibanding akhirat melainkan hanyalah seperti air yang menempel di jari ketika salah seorang dari kalian mencelupkannya di laut.” (HR. Muslim dll)
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “ Seandainya dunia ini senilai sayap seekor nyamuk, di sisi Allah, pastilah Dia tidak akan memberi minum setetes air dunia pun kepada orang kafir.” (HR. At-Tirmidzi dll, shahih.)
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Apalah artinya aku dengan dunia, tiadalah aku di dunia melainkan seperti seorang yang dalam perjalanan bernaung di bawah pohon (sebentar), kemudian melanjutkan perjalanan lagi dan meninggalkan pohon tersebut.”(HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim, sahih.)
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=495
Labels:
Dunia Fana
Selasa, 08 Maret 2011
Bagaimana Senang Hidup Di Dunia?
Dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda:
كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ وَاسْتَمَعَ الْإِذْنَ مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ
"Bagaimana aku akan senang hidup di dunia, sementara pemegang sangkakala telah memasukkannya ke mulutnya. Dia memasang pendengaran untuk diijinkan (meniupnya). Kapanpun dia diperintah meniupnya, dia akan meniupnya." (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dengan syawahid (pendukung)nya dalam Ash-Shahihah no. 1079)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.asysyariah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=48:ditiupnya-sangkakala&catid=77:kajian-utama-edisi-58&Itemid=3
كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ وَاسْتَمَعَ الْإِذْنَ مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ
"Bagaimana aku akan senang hidup di dunia, sementara pemegang sangkakala telah memasukkannya ke mulutnya. Dia memasang pendengaran untuk diijinkan (meniupnya). Kapanpun dia diperintah meniupnya, dia akan meniupnya." (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dengan syawahid (pendukung)nya dalam Ash-Shahihah no. 1079)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.asysyariah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=48:ditiupnya-sangkakala&catid=77:kajian-utama-edisi-58&Itemid=3
Labels:
Dunia Fana
Jumat, 04 Maret 2011
Sungguh Aku Heran
Ali bin Husain rahimahullah berkata, “Aku heran dengan orang sombong dan berbangga diri, yang kemarin dia adalah air mani dan esok akan menjadi bangkai. Aku sangat heran dengan orang yang ragu tentang keberadaan Allah, padahal ia melihat ciptaan-Nya. Aku sangat heran dengan orang yang mengingkari penciptaan kedua kalinya (hari berbangkit), padahal ia melihat penciptaan pertama. Aku heran sekali dengan orang yang bekerja untuk negeri fana, namun meninggalkan bekerja untuk negeri abadi.” (Shifatus Shafwah karya Ibnul Jauzi : II/93-96)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.oaseimani.com/ali-bin-husain.html
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.oaseimani.com/ali-bin-husain.html
Labels:
Dunia Fana
Sabtu, 26 Februari 2011
Hakikat Dunia
Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, berkata:
"Tidaklah dunia ini seluruhnya dari awal hingga akhirnya kecuali ibarat seseorang yang tertidur
sejenak, kemudian bermimpi melihat sesuatu yang disenanginya, kemudian terbangun."
Makna tersebut diambil dari sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Tidaklah aku di dunia ini
melainkan (hanya) seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon lalu beristirahat dan
kemudian meninggalkannya (pohon tersebut)." (HR. At-Tirmidzi no. 3277)
(Mawa'izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 170)
Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, berkata:
"Beramallah untuk duniamu sesuai keadaan tinggalmu di sana. Dan beramallah untuk akhiratmu
sesuai kadar kekekalanmu di sana." (Mawa'izh Lil Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 49)
Al-Imam Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah berkata:
"Seandainya dunia dengan seluruh isinya berada di bawah kekuasaanku, (sama sekali) tidak
membuatku bangga. Dan andaikata seseorang merampas seluruhnya dari tanganku, akupun tidak
akan mengejarnya, tidak pula bersedih hati karenanya."
(Mawa'izh Lil Imam Al-Fudhail bin 'Iyadh,hal. 117)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Majalah Asy Syari'ah, no.18/II/1426 H/2005, rubrik Permata Salaf.
"Tidaklah dunia ini seluruhnya dari awal hingga akhirnya kecuali ibarat seseorang yang tertidur
sejenak, kemudian bermimpi melihat sesuatu yang disenanginya, kemudian terbangun."
Makna tersebut diambil dari sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Tidaklah aku di dunia ini
melainkan (hanya) seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon lalu beristirahat dan
kemudian meninggalkannya (pohon tersebut)." (HR. At-Tirmidzi no. 3277)
(Mawa'izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 170)
Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, berkata:
"Beramallah untuk duniamu sesuai keadaan tinggalmu di sana. Dan beramallah untuk akhiratmu
sesuai kadar kekekalanmu di sana." (Mawa'izh Lil Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 49)
Al-Imam Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah berkata:
"Seandainya dunia dengan seluruh isinya berada di bawah kekuasaanku, (sama sekali) tidak
membuatku bangga. Dan andaikata seseorang merampas seluruhnya dari tanganku, akupun tidak
akan mengejarnya, tidak pula bersedih hati karenanya."
(Mawa'izh Lil Imam Al-Fudhail bin 'Iyadh,hal. 117)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Majalah Asy Syari'ah, no.18/II/1426 H/2005, rubrik Permata Salaf.
Labels:
Dunia Fana
Kejelekan-Kejelekan Harta
Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata:
'Isa bin Maryam 'alaihis salam bersabda: "Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan, dan pada
harta terdapat penyakit yang sangat banyak."
Beliau ditanya: "Wahai ruh (ciptaan) Allah, apa penyakit-penyakitnya?"
Beliau menjawab: "Tidak ditunaikan haknya."
Mereka menukas: "Jika haknya sudah ditunaikan?"
Beliau menjawab: "Tidak selamat dari membanggakannya dan menyombongkannya."
Mereka menimpalinya: "Jika selamat dari bangga dan sombong?"
Beliau menjawab: "Memperindah dan mempermegahnya akan menyibukkan dari dzikrullah
(mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala)."
(Mawa'izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, halaman 81)
Beliau rahimahullah berkata: "Kelebihan dunia adalah kekejian di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala
pada hari kiamat."
Beliau ditanya: "Apa yang disebut dengan kelebihan dunia?"
Beliau menjawab: "Yakni engkau memiliki kelebihan pakaian sedangkan saudaramu telanjang, dan
engkau memiliki kelebihan sepatu sementara saudaramu tidak memiliki alas kaki."
(Mawa'izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, halaman 76)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Majalah Asy Syari'ah, no.31/III/1428 H/2007, rubrik Permata Salaf.
'Isa bin Maryam 'alaihis salam bersabda: "Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan, dan pada
harta terdapat penyakit yang sangat banyak."
Beliau ditanya: "Wahai ruh (ciptaan) Allah, apa penyakit-penyakitnya?"
Beliau menjawab: "Tidak ditunaikan haknya."
Mereka menukas: "Jika haknya sudah ditunaikan?"
Beliau menjawab: "Tidak selamat dari membanggakannya dan menyombongkannya."
Mereka menimpalinya: "Jika selamat dari bangga dan sombong?"
Beliau menjawab: "Memperindah dan mempermegahnya akan menyibukkan dari dzikrullah
(mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala)."
(Mawa'izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, halaman 81)
Beliau rahimahullah berkata: "Kelebihan dunia adalah kekejian di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala
pada hari kiamat."
Beliau ditanya: "Apa yang disebut dengan kelebihan dunia?"
Beliau menjawab: "Yakni engkau memiliki kelebihan pakaian sedangkan saudaramu telanjang, dan
engkau memiliki kelebihan sepatu sementara saudaramu tidak memiliki alas kaki."
(Mawa'izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, halaman 76)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Majalah Asy Syari'ah, no.31/III/1428 H/2007, rubrik Permata Salaf.
Labels:
Dunia Fana
Rabu, 09 Februari 2011
Hati Yang Cinta Dunia
“Akan datang suatu masa kepada umat manusia, di mana pada masa itu hati manusia dipenuhi oleh kecintaan terhadap dunia sehingga hati-hati tersebut tidak dapat dimasuki oleh rasa takut terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Imam Sufyan Ats Tsauri)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://suaraquran.com/sms/
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://suaraquran.com/sms/
Labels:
Dunia Fana
Merendahkan Agama, Meninggikan Dunia
Suatu ketika seseorang bertanya kepada Hasan al Bashri tentang kondisinya dan kondisi orang-orang, maka ia pun berkata, "Celakalah kita! Apa yang kita perbuat terhadap diri kita sendiri!! Kita telah merendahkan agama kita dan meninggikan dunia, kita membiarkan akhlak kotor dan memperbarui tempat tidur dan pakaian. Salah seorang di antara kita bersandar dengan tangan kirinya dan makan dari harta yang bukan miliknya, makanannya didapat dari hasil menyerobot, pelayannya dipaksa tanpa upah, meminta yang manis setelah asam, meminta yang panas setelah dingin, dan meminta yang basah setelah kering sehingga ketika dia telah kenyang, menguap karena kepenuhan, kemudian berkata, 'Wahai pelayan! Ambilkan pencerna makanan! Wahai orang bodoh- Demi Allah- Jangan sekali-kali kamu mencerna kecuali agamamu! Di mana tetanggamu yang mengaharap uluran tanganmu?!! Di mana anak yatim kaummu yang lapar?!! Di mana orang miskinmu yang melihatmu?!! Di mana wasiat yang Allah Azza wa Jalla sampaikan kepadamu?!! Barangkali kamu mengetahui bahwa kamu berjumlah banyak. Dan bahwasanya setiap matahari hari ini terbenam, maka berkuranglah jumlahmu sementara sebagian kamu pergi bersamanya.'"
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihattokoh&id=71
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihattokoh&id=71
Labels:
Dunia Fana
Korbankan Dunia Untuk Akhirat
‘Amr bin Murrah, dia berkata
من طلب الآخرة أضر بالدنيا، ومن طلب الدنيا أضر بالآخرة، فأضروا بالفاني للباقي
"Orang yang mencari akhirat akan merugikan dunia. Adapun orang yang mencari dunia, akan merugikan akhirat. Maka, korbankanlah yang fana untuk meraih yang baqa (kekal)." (Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://suaraquran.com/sms/
من طلب الآخرة أضر بالدنيا، ومن طلب الدنيا أضر بالآخرة، فأضروا بالفاني للباقي
"Orang yang mencari akhirat akan merugikan dunia. Adapun orang yang mencari dunia, akan merugikan akhirat. Maka, korbankanlah yang fana untuk meraih yang baqa (kekal)." (Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://suaraquran.com/sms/
Labels:
Dunia Fana
Tentang Dunia & Akhirat
Seseorang bertanya kepada Hasan al Bashri tentang dunia dan hakikat keberadaannya, beliau pun menjawab:
"Kamu bertanya tentang dunia dan akhirat? Sesungguhnya perumpamaan dunia dan akhirat adalah bagaikan timur dan barat. Setiap salah satunya bertambah dekat, maka yang satunya lagi semakin jauh. Dan kamu berkata kepadaku, Sebutkanlah karateristik dunia ini kepadaku!! Apa yang harus aku sebutkan kepadamu tentang rumah yang awalnya melelahkan sedangkan akhirnya membinasakan, di dalam kehalalannya ada perhitungan dan di dalam keharamannya ada siksaan? Siapa yang tidak membutuhkannya terkena fitnah dan siapa yang membutuhkannya akan sedih."
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihattokoh&id=71
"Kamu bertanya tentang dunia dan akhirat? Sesungguhnya perumpamaan dunia dan akhirat adalah bagaikan timur dan barat. Setiap salah satunya bertambah dekat, maka yang satunya lagi semakin jauh. Dan kamu berkata kepadaku, Sebutkanlah karateristik dunia ini kepadaku!! Apa yang harus aku sebutkan kepadamu tentang rumah yang awalnya melelahkan sedangkan akhirnya membinasakan, di dalam kehalalannya ada perhitungan dan di dalam keharamannya ada siksaan? Siapa yang tidak membutuhkannya terkena fitnah dan siapa yang membutuhkannya akan sedih."
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihattokoh&id=71
Labels:
Dunia Fana
Binasa Disebabkan Dunia
Tatkala Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai khalifah, Hasan al-Bashri menasehatinya melalui sebuah surat. Bunyi surat itu ialah,
“Amma ba’du, sesungguhnya dunia ialah negeri yang mencemaskan. Adam diturunkan kepadanya tak lain sebagai hukuman atasnya. Ketahuilah, sesungguhnya keadaan dunia tak seberapa, barangsiapa memuliakannya, hinalah dia. Setiap saat selalu ada yang binasa disebabkan dunia. Maka jadilah engkau, wahai amirul mukminin, laksana orang yang mengobati lukanya; ia bersabar akan rasa sakit (ketika mengobati), karena khawatir musibahnya akan berkepanjangan. Wassalaam.” (Hilyatul Auliya’, 1/272)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2010/11/15/kumpulan-mutiara-salaf-nasehat-hasan-al-bashri-rohimahullah/
“Amma ba’du, sesungguhnya dunia ialah negeri yang mencemaskan. Adam diturunkan kepadanya tak lain sebagai hukuman atasnya. Ketahuilah, sesungguhnya keadaan dunia tak seberapa, barangsiapa memuliakannya, hinalah dia. Setiap saat selalu ada yang binasa disebabkan dunia. Maka jadilah engkau, wahai amirul mukminin, laksana orang yang mengobati lukanya; ia bersabar akan rasa sakit (ketika mengobati), karena khawatir musibahnya akan berkepanjangan. Wassalaam.” (Hilyatul Auliya’, 1/272)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2010/11/15/kumpulan-mutiara-salaf-nasehat-hasan-al-bashri-rohimahullah/
Labels:
Dunia Fana
Jumat, 07 Januari 2011
Bergegaslah
Hukum kematian bagi makhluk pasti berlaku
Dunia bukanlah tempat menetap
Penuhilah kebutuhan kalian dengan segera
Karena hidup kalian adalah sebuah perjalanan
Dari perjalanan-perjalanan yang ada.
Berlarilah menuju arena perlombaan dan bergegaslah
Tinggalkanlah naungan yang tidak abadi
Karena kalian di dunia ini adalah Musafir
Barangsiapa yang menginginkan kehidupan yang enak di dunia
Berarti ia membangun harapan di tepi jurang yang akan runtuh
Kehidupan di atas kehidupan adalah setelah meninggalkan dunia
Di negeri orang-orang yang menang
Negeri yang paling Mulia.
('Uddatus Shabirin, Ibnul Qayyim al Jauziyyah)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.oaseimani.com/permisalan-dunia.html
Dunia bukanlah tempat menetap
Penuhilah kebutuhan kalian dengan segera
Karena hidup kalian adalah sebuah perjalanan
Dari perjalanan-perjalanan yang ada.
Berlarilah menuju arena perlombaan dan bergegaslah
Tinggalkanlah naungan yang tidak abadi
Karena kalian di dunia ini adalah Musafir
Barangsiapa yang menginginkan kehidupan yang enak di dunia
Berarti ia membangun harapan di tepi jurang yang akan runtuh
Kehidupan di atas kehidupan adalah setelah meninggalkan dunia
Di negeri orang-orang yang menang
Negeri yang paling Mulia.
('Uddatus Shabirin, Ibnul Qayyim al Jauziyyah)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.oaseimani.com/permisalan-dunia.html
Labels:
Dunia Fana
Selasa, 04 Januari 2011
Dunia
Untukmu Perindu Akhirat
Malik Bin Dinar berkata, “Takutlah kalian terhadap dunia, karena ia lah yang menyihir hati para ulama’.” (Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, halaman : 208).
Silakan baca sumber lengkapnya di sini:
http://www.oaseimani.com/dunia.html
Malik Bin Dinar berkata, “Takutlah kalian terhadap dunia, karena ia lah yang menyihir hati para ulama’.” (Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, halaman : 208).
Silakan baca sumber lengkapnya di sini:
http://www.oaseimani.com/dunia.html
Labels:
Dunia Fana
Kamis, 23 Desember 2010
Cinta Dunia Adalah Dosa Besar
Untukmu Perindu Akhirat
Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
“Tidaklah aku merasa heran terhadap sesuatu seperti keherananku atas orang yang tidak menganggap cinta dunia sebagai bagian dari dosa besar. Demi Allah! Sungguh, mencintainya benar-benar termasuk dosa yang terbesar. Dan tidaklah dosa-dosa menjadi bercabang-cabang melainkan karena cinta dunia. Bukankah sebab disembahnya patung-patung serta dimaksiatinya Ar-Rahman tak lain karena cinta dunia dan lebih mengutamakannya?”
(Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 138)
Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:
“Telah sampai kepadaku bahwasanya akan datang satu masa kepada umat manusia di mana pada masa itu hati-hati manusia dipenuhi oleh kecintaan terhadap dunia, sehingga hati-hati tersebut tidak dapat dimasuki rasa takut terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan itu dapat engkau ketahui apabila engkau memenuhi sebuah kantong kulit dengan sesuatu hingga penuh, kemudian engkau bermaksud memasukkan barang lain ke dalamnya namun engkau tidak mendapati tempat untuknya.”
Beliau rahimahullahu berkata pula:
“Sungguh aku benar-benar dapat mengenali kecintaan seseorang terhadap dunia dari (cara) penghormatannya kepada ahli dunia.”
(Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, halaman 120)
Sumber:
http://www.majalahsyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=439
Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
“Tidaklah aku merasa heran terhadap sesuatu seperti keherananku atas orang yang tidak menganggap cinta dunia sebagai bagian dari dosa besar. Demi Allah! Sungguh, mencintainya benar-benar termasuk dosa yang terbesar. Dan tidaklah dosa-dosa menjadi bercabang-cabang melainkan karena cinta dunia. Bukankah sebab disembahnya patung-patung serta dimaksiatinya Ar-Rahman tak lain karena cinta dunia dan lebih mengutamakannya?”
(Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 138)
Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:
“Telah sampai kepadaku bahwasanya akan datang satu masa kepada umat manusia di mana pada masa itu hati-hati manusia dipenuhi oleh kecintaan terhadap dunia, sehingga hati-hati tersebut tidak dapat dimasuki rasa takut terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan itu dapat engkau ketahui apabila engkau memenuhi sebuah kantong kulit dengan sesuatu hingga penuh, kemudian engkau bermaksud memasukkan barang lain ke dalamnya namun engkau tidak mendapati tempat untuknya.”
Beliau rahimahullahu berkata pula:
“Sungguh aku benar-benar dapat mengenali kecintaan seseorang terhadap dunia dari (cara) penghormatannya kepada ahli dunia.”
(Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, halaman 120)
Sumber:
http://www.majalahsyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=439
Labels:
Dunia Fana
Kejelekan-Kejelekan Harta
Untukmu Perindu Akhirat
Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:
‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam bersabda: “Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan, dan pada harta terdapat penyakit yang sangat banyak.”
Beliau ditanya: “Wahai ruh (ciptaan) Allah, apa penyakit-penyakitnya?”
Beliau menjawab: “Tidak ditunaikan haknya.”
Mereka menukas: “Jika haknya sudah ditunaikan?”
Beliau menjawab: “Tidak selamat dari membanggakannya dan menyombongkannya.”
Mereka menimpali: “Jika selamat dari bangga dan sombong?”
Beliau menjawab: “Memperindah dan mempermegahnya akan menyibukkan dari dzikrullah (mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala).”
(Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 81)
Beliau rahimahullahu berkata: “Kelebihan dunia adalah kekejian di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala pada hari kiamat.”
Beliau ditanya: “Apa yang dimaksud dengan kelebihan dunia?”
Beliau menjawab: “Yakni engkau memiliki kelebihan pakaian sedangkan saudaramu telanjang; dan engkau memiliki kelebihan sepatu sementara saudaramu tidak memiliki alas kaki.”
(Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 76)
http://www.majalahsyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=460
Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:
‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam bersabda: “Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan, dan pada harta terdapat penyakit yang sangat banyak.”
Beliau ditanya: “Wahai ruh (ciptaan) Allah, apa penyakit-penyakitnya?”
Beliau menjawab: “Tidak ditunaikan haknya.”
Mereka menukas: “Jika haknya sudah ditunaikan?”
Beliau menjawab: “Tidak selamat dari membanggakannya dan menyombongkannya.”
Mereka menimpali: “Jika selamat dari bangga dan sombong?”
Beliau menjawab: “Memperindah dan mempermegahnya akan menyibukkan dari dzikrullah (mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala).”
(Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 81)
Beliau rahimahullahu berkata: “Kelebihan dunia adalah kekejian di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala pada hari kiamat.”
Beliau ditanya: “Apa yang dimaksud dengan kelebihan dunia?”
Beliau menjawab: “Yakni engkau memiliki kelebihan pakaian sedangkan saudaramu telanjang; dan engkau memiliki kelebihan sepatu sementara saudaramu tidak memiliki alas kaki.”
(Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 76)
http://www.majalahsyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=460
Labels:
Dunia Fana
Senin, 22 November 2010
Pilihlah Yang Abadi Untukmu
Untukmu Perindu Akhirat
Malik bin Dinar berkata,
“Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Lalu bagaimana lagi jika akhirat itu adalah emas yang akan kekal abadi dan dunia adalah tembikar yang akan fana?”[Lihat Fathul Qodir, Asy Syaukani, 7/473, Mawqi’ At Tafasir]
Sumber:
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/di-saat-impian-belum-terwujud.html
Malik bin Dinar berkata,
“Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Lalu bagaimana lagi jika akhirat itu adalah emas yang akan kekal abadi dan dunia adalah tembikar yang akan fana?”[Lihat Fathul Qodir, Asy Syaukani, 7/473, Mawqi’ At Tafasir]
Sumber:
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/di-saat-impian-belum-terwujud.html
Labels:
Dunia Fana,
Kampung Akhirat
Jumat, 24 September 2010
" Siapa Lagi Yang Tertipu Oleh Dunia? "
Al-Mustaurid bin Syaddad radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
“Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?” (HR. Muslim no. 7126)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menerangkan, “Makna hadits di atas adalah pendeknya masa dunia dan fananya kelezatannya bila dibandingkan dengan kelanggengan akhirat berikut kelezatan dan kenikmatannya, tidak lain kecuali seperti air yang menempel di jari bila dibandingkan dengan air yang masih tersisa di lautan.” (Al-Minhaj, 17/190)
Lihatlah demikian kecilnya perbendaharaan dunia bila dibandingkan dengan akhirat. Maka siapa lagi yang tertipu oleh dunia selain orang yang pandir, karena dunia takkan dapat menipu orang yang cerdas dan berakal. (Bahjatun Nazhirin, 1/531)
Sumber:
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=587
مَا الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
“Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?” (HR. Muslim no. 7126)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menerangkan, “Makna hadits di atas adalah pendeknya masa dunia dan fananya kelezatannya bila dibandingkan dengan kelanggengan akhirat berikut kelezatan dan kenikmatannya, tidak lain kecuali seperti air yang menempel di jari bila dibandingkan dengan air yang masih tersisa di lautan.” (Al-Minhaj, 17/190)
Lihatlah demikian kecilnya perbendaharaan dunia bila dibandingkan dengan akhirat. Maka siapa lagi yang tertipu oleh dunia selain orang yang pandir, karena dunia takkan dapat menipu orang yang cerdas dan berakal. (Bahjatun Nazhirin, 1/531)
Sumber:
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=587
Labels:
Dunia Fana
Untuk Mereka Dunia, Untuk Kita Akhirat
Untukmu Perindu Akhirat
Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menangis melihat kesahajaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau hanya tidur di atas selembar tikar tanpa dialasi apapun. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:
فَرَأَيْتُ أَثَرَ الْحَصِيْرِ فِي جَنْبِهِ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ: مَا يُبْكِيْكَ؟ فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ كِسْرَى وَقَيْصَرَ فِيْمَا هُمَا فِيْهِ وَأَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ. فَقَالَ: أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُوْنَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا اْلآخِرَةُ؟
Aku melihat bekas tikar di lambung/rusuk beliau, maka aku pun menangis, hingga mengundang tanya beliau, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra (raja Persia) dan Kaisar (raja Romawi) berada dalam kemegahannya, sementara engkau adalah utusan Allah [2].” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” (HR. Al-Bukhari no. 4913 dan Muslim no. 3676)
Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (no. 3675) disebutkan ucapan Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu:
فَابْتَدَرَتْ عَيْنَايَ. قَالَ: مَا يُبْكِيْكَ، يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ وَمَا لِي لاَ أَبْكِي وَهَذَا الْحَصِيْرُ قَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِكَ وَهَذِهِ خِزَانَتُكَ لاَ أَرَى فِيْهَا إِلاَّ مَا أَرَى، وَذَاكَ قَيْصَرُ وَكِسْرَى فِي الثِّمَارِ وَاْلأَنْهَارِ وَأَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ وَصَفْوَتُهُ وَهَذِهِ خِزَانَتُكَ
“Maka bercucuranlah air mataku.” Melihat hal itu beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai putra Al-Khaththab?” Aku menjawab, “Wahai Nabiyullah, bagaimana aku tidak menangis, aku menyaksikan tikar ini membekas pada rusukmu. Aku melihat lemarimu tidak ada isinya kecuali sekedar yang aku lihat. Sementara Kaisar dan Kisra dalam limpahan kemewahan dengan buah-buahan dan sungai-sungai yang mengalir. Padahal engkau (jauh lebih mulia daripada mereka) adalah utusan Allah dan manusia pilihan-Nya, dalam keadaan lemarimu hanya begini.”
Sumber:
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=587
Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menangis melihat kesahajaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau hanya tidur di atas selembar tikar tanpa dialasi apapun. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:
فَرَأَيْتُ أَثَرَ الْحَصِيْرِ فِي جَنْبِهِ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ: مَا يُبْكِيْكَ؟ فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ كِسْرَى وَقَيْصَرَ فِيْمَا هُمَا فِيْهِ وَأَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ. فَقَالَ: أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُوْنَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا اْلآخِرَةُ؟
Aku melihat bekas tikar di lambung/rusuk beliau, maka aku pun menangis, hingga mengundang tanya beliau, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra (raja Persia) dan Kaisar (raja Romawi) berada dalam kemegahannya, sementara engkau adalah utusan Allah [2].” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” (HR. Al-Bukhari no. 4913 dan Muslim no. 3676)
Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (no. 3675) disebutkan ucapan Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu:
فَابْتَدَرَتْ عَيْنَايَ. قَالَ: مَا يُبْكِيْكَ، يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ وَمَا لِي لاَ أَبْكِي وَهَذَا الْحَصِيْرُ قَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِكَ وَهَذِهِ خِزَانَتُكَ لاَ أَرَى فِيْهَا إِلاَّ مَا أَرَى، وَذَاكَ قَيْصَرُ وَكِسْرَى فِي الثِّمَارِ وَاْلأَنْهَارِ وَأَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ وَصَفْوَتُهُ وَهَذِهِ خِزَانَتُكَ
“Maka bercucuranlah air mataku.” Melihat hal itu beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai putra Al-Khaththab?” Aku menjawab, “Wahai Nabiyullah, bagaimana aku tidak menangis, aku menyaksikan tikar ini membekas pada rusukmu. Aku melihat lemarimu tidak ada isinya kecuali sekedar yang aku lihat. Sementara Kaisar dan Kisra dalam limpahan kemewahan dengan buah-buahan dan sungai-sungai yang mengalir. Padahal engkau (jauh lebih mulia daripada mereka) adalah utusan Allah dan manusia pilihan-Nya, dalam keadaan lemarimu hanya begini.”
Sumber:
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=587
Labels:
Dunia Fana
Langganan:
Postingan (Atom)