Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada umat manusia akan dimintakan ampunan oleh setiap binatang melata, bahkan oleh ikan yang berada di dalam lautan sekalipun.” [1]
Dalam riwayat yang lain, beliau mengatakan, “Orang yang mengajarkan kebaikan dan yang mempelajarinya niscaya akan dimintakan ampunan oleh segala sesuatu bahkan oleh ikan yang berada di dalam lautan sekalipun.” [2]
al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Kalau bukan karena keberadaan para ulama niscaya keadaan umat manusia tidak ada bedanya dengan binatang.” [3]
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu mengatakan, “Pelajarilah ilmu. Sesungguhnya mempelajari ilmu karena Allah adalah bentuk rasa takut -kepada-Nya- dan menuntutnya adalah ibadah. Mengajarkannya adalah tasbih (penyucian terhadap Allah). Membahas tentangnya adalah bagian dari jihad. Mengajarkan ilmu kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkannya kepada orang yang berhak menerimanya adalah qurbah/pendekatan diri -kepada Allah-; itulah yang akan menjadi penenang di saat sendirian dan sahabat pada waktu kesepian.” [4]
Dari Abu Umamah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berangkat di awal siang menuju masjid sedangkan dia tidak dia berniat kecuali untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya maka dia akan meraih pahala sebagaimana orang yang menunaikan ibadah haji dengan sempurna.” (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir) [5]
Abud Darda’ radhiyallahu’anhu mengatakan, “Tidaklah ada seorang pun yang berangkat di awal siang menuju masjid demi suatu kebaikan yang ingin dia pelajari atau ingin dia ajarkan kecuali pasti dicatat baginya pahala orang yang berjihad. Tidaklah dia kembali darinya kecuali dalam keadaan memborong ghanimah (harta rampasan perang).” [6]
Semoga Allah menjadikan kita termasuk diantara hamba-hamba-Nya yang menebarkan kebaikan di atas muka bumi ini dan membendung segala bentuk keburukan. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Catatan Kaki:
[1] Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, hal. 14
[2] Akhlaq al-’Ulama, hal. 44
[3] Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, hal. 15
[4] Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, hal. 15
[5] Lihat Da’a'im Minhaj Nubuwwah, hal. 379
[6] Lihat al-’Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 6
Mengenang saudara & sahabatku Purna Atmaja. Uhibbuka fillah, ya akhi....
Sumber artikel dan foto bunga (Eden Brothers).
Tampilkan postingan dengan label Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teladan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 07 November 2012
Kamis, 01 November 2012
ORANG MUKMIN ADALAH SAKSI ALLAH DI MUKA BUMI
Al-Bukhori dalam Shohih-nya (2642) dan juga Muslim dalam Shohih-nya (949) meriwayatkan dari Anas rodhiyallohu anhu, ia berkata :
مر على النبي صلى الله عليه وسلم بجنازة فأثنوا عليها خيرا، فقال: (وجبت). ثم مر بأخرى فأثنوا عليها شرا، أو قال: غير ذلك، فقال: (وجبت). فقيل: يا رسول الله، قلت لهذا وجبت ولهذا وجبت؟ قال: «شهادة القوم، المؤمنون شهداء الله في الأرض
Iringan jenazah lewat di depan Nabi shollallohu alaihi wa sallam, maka para shahabat pun memujinya dengan kebaikan. Lalu beliau berkata : “wajiblah”, kemudian beliau lewat jenazah lainnya lalu para shahabat menyebutnya dengan kejelekan, atau ia (Anas) berkata : yang selain itu. Maka beliau berkata “wajiblah”, maka seseorang bertanya : wahai Rosululloh, engkau mengatakan kepada yang ini “wajiblah” dan kepada yang itu “wajiblah”? beliau bersabda : “Persaksian atas suatu kaum, orang-orang mukmin itu adalah para saksi Alloh di muka bumi.”
Lafadz ini dalam riwayat al-Bukhori.
Dan lafadz hadits dalam riwayat Muslim dari Anas bin Malik rodhiyallohu anhu, ia berkata :
مر بجنازة فأثني عليها خيرا، فقال نبي الله صلى الله عليه وسلم «وجبت وجبت وجبت»، ومر بجنازة فأثني عليها شرا. فقال نبي الله صلى الله عليه وسلم «وجبت وجبت وجبت». قال عمر: فدى لك أبي وأمي! مر بجنازة فأثني عليها خيرا فقلت: وجبت وجبت وجبت. ومر بجنازة فأثني عليها شرا فقلت: وجبت وجبت وجبت؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم «من أثنيتم عليه خيرا وجبت له الجنة. ومن أثنيتم عليه شرا وجبت له النار. أنتم شهداء الله في الأرض. أنتم شهداء الله في الأرض. أنتم شهداء الله في الأرض
Lewat iringan jenazah lalu dipuji-puji dengan kebaikan, maka Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkata “wajiblah, wajiblah, wajiblah”, kemudian lewat jenazah lainnya lalu disebut-sebut dengan kejelekan. Maka Nabi shollallohu alaihi wa sallam : “wajiblah, wajiblah, wajiblah”. Umar berkata : “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu! Lewat jenazah lalu dipuji dengan kebaikan engkau mengatakan : “wajiblah, wajiblah, wajiblah”, dan lewat jenazah lainnya lalu disebut-sebut dengan kejelekan engkau mengatakan : “wajiblah, wajiblah, wajiblah” juga? Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam pun bersabda : “Jenazah yang kalian puji-puji dengan kebaikan maka wajiblah surga baginya, dan jenazah kalian sebut dengan kejelekan maka wajiblah neraka baginya. Kalian adalah para saksi Alloh di muka bumi, kalian adalah para saksi Alloh di muka bumi, kalian adalah para saksi Alloh di muka bumi.”
Mengenang saudara & sahabatku yang shalih, Purna Atmaja. Uhibbuka fillah, ya akhi....
Sumber artikel dan foto bunga (Eden Brothers).
مر على النبي صلى الله عليه وسلم بجنازة فأثنوا عليها خيرا، فقال: (وجبت). ثم مر بأخرى فأثنوا عليها شرا، أو قال: غير ذلك، فقال: (وجبت). فقيل: يا رسول الله، قلت لهذا وجبت ولهذا وجبت؟ قال: «شهادة القوم، المؤمنون شهداء الله في الأرض
Iringan jenazah lewat di depan Nabi shollallohu alaihi wa sallam, maka para shahabat pun memujinya dengan kebaikan. Lalu beliau berkata : “wajiblah”, kemudian beliau lewat jenazah lainnya lalu para shahabat menyebutnya dengan kejelekan, atau ia (Anas) berkata : yang selain itu. Maka beliau berkata “wajiblah”, maka seseorang bertanya : wahai Rosululloh, engkau mengatakan kepada yang ini “wajiblah” dan kepada yang itu “wajiblah”? beliau bersabda : “Persaksian atas suatu kaum, orang-orang mukmin itu adalah para saksi Alloh di muka bumi.”
Lafadz ini dalam riwayat al-Bukhori.
Dan lafadz hadits dalam riwayat Muslim dari Anas bin Malik rodhiyallohu anhu, ia berkata :
مر بجنازة فأثني عليها خيرا، فقال نبي الله صلى الله عليه وسلم «وجبت وجبت وجبت»، ومر بجنازة فأثني عليها شرا. فقال نبي الله صلى الله عليه وسلم «وجبت وجبت وجبت». قال عمر: فدى لك أبي وأمي! مر بجنازة فأثني عليها خيرا فقلت: وجبت وجبت وجبت. ومر بجنازة فأثني عليها شرا فقلت: وجبت وجبت وجبت؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم «من أثنيتم عليه خيرا وجبت له الجنة. ومن أثنيتم عليه شرا وجبت له النار. أنتم شهداء الله في الأرض. أنتم شهداء الله في الأرض. أنتم شهداء الله في الأرض
Lewat iringan jenazah lalu dipuji-puji dengan kebaikan, maka Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkata “wajiblah, wajiblah, wajiblah”, kemudian lewat jenazah lainnya lalu disebut-sebut dengan kejelekan. Maka Nabi shollallohu alaihi wa sallam : “wajiblah, wajiblah, wajiblah”. Umar berkata : “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu! Lewat jenazah lalu dipuji dengan kebaikan engkau mengatakan : “wajiblah, wajiblah, wajiblah”, dan lewat jenazah lainnya lalu disebut-sebut dengan kejelekan engkau mengatakan : “wajiblah, wajiblah, wajiblah” juga? Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam pun bersabda : “Jenazah yang kalian puji-puji dengan kebaikan maka wajiblah surga baginya, dan jenazah kalian sebut dengan kejelekan maka wajiblah neraka baginya. Kalian adalah para saksi Alloh di muka bumi, kalian adalah para saksi Alloh di muka bumi, kalian adalah para saksi Alloh di muka bumi.”
Mengenang saudara & sahabatku yang shalih, Purna Atmaja. Uhibbuka fillah, ya akhi....
Sumber artikel dan foto bunga (Eden Brothers).
Kamis, 29 Maret 2012
Berteman Dengan Orang Shalih
Abul Mulaih berkata bahwa ia pernah mendengar Maimun berkata,
العلماء هم ضالتي في كل بلدة وهم بغيتي ووجدت صلاح قلبي في مجالسة العلماء
Orang-orang yang berilmu adalah orang yang kucari di setiap tempat. Mereka adalah tujuan yang selalu kucari. Dan aku menemukan keshalihan hatiku di dalam bergaul dengan mereka.
(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/85 )
Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini.
العلماء هم ضالتي في كل بلدة وهم بغيتي ووجدت صلاح قلبي في مجالسة العلماء
Orang-orang yang berilmu adalah orang yang kucari di setiap tempat. Mereka adalah tujuan yang selalu kucari. Dan aku menemukan keshalihan hatiku di dalam bergaul dengan mereka.
(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/85 )
Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini.
Labels:
Teladan
Selasa, 15 November 2011
Menyelami Samudera Mutiara Hikmah
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman yang artinya,
"Allah menganugerahkan hikmah (kefahaman yang mendalam terhadap Al-Qur’an dan As-sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah tersebut, ia benar-benar telah diangerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran." (Al-Baqarah: 269)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
"Sesungguhnya dalam kefasihan (keindahan kata-kata) itu mengandung sihir (daya pesona)." [HR. Al-Bukhari, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dari hadits Abdullah bin Umar, dan Muslim juga meriwayatkannya dari Ammar]
Shahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu telah berkata,
"Perkataan orang bijak penghidup hati
Bak hujan lebat menyirami bumi
Perkataan orang bijak penerang kegelapan
Dan diamnya pun penuh kebijaksanaan
Hidupnya orang bijak seperti menara cahaya
Laksana cahaya siang menerangi kegelapan."
[Akhlaq Al-Ulama, Abu Bakar Al-Ajiri, meninggal pada tahun 360 H]
Luqmanul Hakim dalam salah satu kata hikmahnya menuturkan kepada kita, "Sesungguhnya hikmah itu dapat menghidupkan hati yang mati, sebagaimana air hujan dapat menghidupkan bumi yang gersang."
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Mi’atani Hikmah Min Hikam ash-Shahabah wa ash-Shalihin, Amin Muhammad Jamaluddin
[200 Mutiara Hikmah Para Sahabat & Orang-Orang Saleh]
"Allah menganugerahkan hikmah (kefahaman yang mendalam terhadap Al-Qur’an dan As-sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah tersebut, ia benar-benar telah diangerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran." (Al-Baqarah: 269)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
"Sesungguhnya dalam kefasihan (keindahan kata-kata) itu mengandung sihir (daya pesona)." [HR. Al-Bukhari, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dari hadits Abdullah bin Umar, dan Muslim juga meriwayatkannya dari Ammar]
Shahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu telah berkata,
"Perkataan orang bijak penghidup hati
Bak hujan lebat menyirami bumi
Perkataan orang bijak penerang kegelapan
Dan diamnya pun penuh kebijaksanaan
Hidupnya orang bijak seperti menara cahaya
Laksana cahaya siang menerangi kegelapan."
[Akhlaq Al-Ulama, Abu Bakar Al-Ajiri, meninggal pada tahun 360 H]
Luqmanul Hakim dalam salah satu kata hikmahnya menuturkan kepada kita, "Sesungguhnya hikmah itu dapat menghidupkan hati yang mati, sebagaimana air hujan dapat menghidupkan bumi yang gersang."
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Mi’atani Hikmah Min Hikam ash-Shahabah wa ash-Shalihin, Amin Muhammad Jamaluddin
[200 Mutiara Hikmah Para Sahabat & Orang-Orang Saleh]
Labels:
Teladan
Senin, 11 Juli 2011
Kisah Keteladanan Para Ulama
Imam Abu Hanifah pernah berkata, “Kisah-kisah (keteladanan) para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai daripada kebanyakan (masalah-masalah) fikih, karena kisah-kisah tersebut (berisi) adab dan tingkah laku mereka (untuk diteladani).” (Dinukil oleh Imam Ibnu ‘Abdil Barr dengan sanadnya dalam kitab Jaami’u Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, no. 595).
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://manisnyaiman.com/idola-keluarga-muslim-seri-4-pengaruh-positif-teladan-yang-baik-bagi-keluarga/
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://manisnyaiman.com/idola-keluarga-muslim-seri-4-pengaruh-positif-teladan-yang-baik-bagi-keluarga/
Labels:
Teladan
Senin, 02 Mei 2011
Kisah Keteladanan Para Ulama
Imam Abu Hanifah pernah berkata, “Kisah-kisah (keteladanan) para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai dari pada kebanyakan (masalah-masalah) fikih, karena kisah-kisah tersebut (berisi) adab dan tingkah laku mereka (untuk diteladani).” [Dinukil oleh imam Ibnu ‘Abdil Barr dengan sanadnya dalam kitab Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa Fadhlihi (no. 595)]
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://manisnyaiman.com/orang-yang-tidak-dilalaikan-dengan-urusan-dunia/
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://manisnyaiman.com/orang-yang-tidak-dilalaikan-dengan-urusan-dunia/
Labels:
Teladan
Selasa, 26 April 2011
Wali Allah Yang Sebenarnya
Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Wali-wali (kekasih) Allah adalah orang-orang yang jika mereka dipandang maka akan mengingatkan kepada Allah.” [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabiir (no. 12325), Dhiya’uddin Al-Maqdisi dalam Al-Ahaaditsul Mukhtaarah (2/212) dan lain-lain, hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahiihah (no. 1733) karena diriwayatkan dari berbagai jalur yang saling menguatkan].
Imam adz-Dzahabi menukil dari Abu ‘Awanah Al-Yasykuri, beliau berkata, “Aku melihat Muhammad bin Sirin di pasar, tidaklah seorangpun melihat beliau kecuali orang itu akan mengingat Allah.” [Kitab Siyaru a’laamin nubalaa’ (4/610)].
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://manisnyaiman.com/orang-yang-tidak-dilalaikan-dengan-urusan-dunia/
Imam adz-Dzahabi menukil dari Abu ‘Awanah Al-Yasykuri, beliau berkata, “Aku melihat Muhammad bin Sirin di pasar, tidaklah seorangpun melihat beliau kecuali orang itu akan mengingat Allah.” [Kitab Siyaru a’laamin nubalaa’ (4/610)].
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://manisnyaiman.com/orang-yang-tidak-dilalaikan-dengan-urusan-dunia/
Labels:
Teladan
Jumat, 25 Maret 2011
Bergaul Dengan Orang-Orang Shalih
Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata,
نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ
“Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.“[Siyar A’lam An Nubala’, 8/435, Mawqi’ Ya’sub] Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang shalih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang shalih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang shalih lainnya.
‘Abdurrahman bin Mahdi mengatakan mengenai Ibnul Mubarak, “Kedua mataku ini tidak pernah melihat pemberi nasehat yang paling bagus dari umat ini kecuali Ibnul Mubarak.“[Shifatush Shafwah, 1/438]
‘Abdullah bin Al Mubarak mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.”
Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.”[Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas, Sayyid bin Husain Al ‘Afani, halaman 466, Darul ‘Affani, cetakan pertama, tahun 1421 H]
Ibnul Qayyim mengisahkan, “Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan sempit dalam menjalani hidup, kami segera mendatangi Ibnu Taimiyyah untuk meminta nasehat. Maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”.[Lihat Shahih Al Wabilush Shayyib, antara halaman 91-96, Dar Ibnul Jauziy]
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kiat-agar-tetap-istiqomah.html
نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ
“Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.“[Siyar A’lam An Nubala’, 8/435, Mawqi’ Ya’sub] Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang shalih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang shalih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang shalih lainnya.
‘Abdurrahman bin Mahdi mengatakan mengenai Ibnul Mubarak, “Kedua mataku ini tidak pernah melihat pemberi nasehat yang paling bagus dari umat ini kecuali Ibnul Mubarak.“[Shifatush Shafwah, 1/438]
‘Abdullah bin Al Mubarak mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.”
Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.”[Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas, Sayyid bin Husain Al ‘Afani, halaman 466, Darul ‘Affani, cetakan pertama, tahun 1421 H]
Ibnul Qayyim mengisahkan, “Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan sempit dalam menjalani hidup, kami segera mendatangi Ibnu Taimiyyah untuk meminta nasehat. Maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”.[Lihat Shahih Al Wabilush Shayyib, antara halaman 91-96, Dar Ibnul Jauziy]
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kiat-agar-tetap-istiqomah.html
Labels:
Teladan
Senin, 21 Maret 2011
Meneladani Kisah Orang-Orang Shalih
Wasiat Ibnul Jauzi rahimahullah, “Demi Allah, ingatlah, wajib atas kalian untuk memperhatikan jalan hidup salaf serta menelaah tulisan-tulisan mereka dan kabar-kabar mereka. Sungguh memperbanyak dalam menelaah kitab-kitab mereka adalah seperti melihat mereka.”
Beliau juga berkata, “Hendaklah dia memperbanyak menelaah (kehidupan salaf), sungguh ia akan melihat ilmu-ilmu salaf, dan tingginya cita-cita mereka yang menajamkan pikirannya, dan menggerakkan tekadnya untuk bersungguh-sungguh.” (Shaidul Khatir, 440)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/17/jangan-kau-buang-potensimu-wahai-penuntut-ilmu/
Beliau juga berkata, “Hendaklah dia memperbanyak menelaah (kehidupan salaf), sungguh ia akan melihat ilmu-ilmu salaf, dan tingginya cita-cita mereka yang menajamkan pikirannya, dan menggerakkan tekadnya untuk bersungguh-sungguh.” (Shaidul Khatir, 440)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/17/jangan-kau-buang-potensimu-wahai-penuntut-ilmu/
Labels:
Teladan
Rabu, 09 Februari 2011
MENELADANI SEJARAH SALAFUSH SHALIH
Salah seorang ulama berkata : “Barangsiapa melihat sejarah Salafush Shalih pasti ia mengetahui kekurangannya, dan ketertinggalannya dari derajat seorang manusia”.
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.almanhaj.or.id/content/1964/slash/0
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.almanhaj.or.id/content/1964/slash/0
Labels:
Teladan
Rabu, 26 Januari 2011
MENELADANI KISAH ORANG-ORANG SHALIH
Sejarah para ulama salaf merupakan salah satu tentara dari tentara-tentara Allah subhanahu wata’ala . Begitu seorang muslim mempelajarinya, ia akan bisa mengambil pelajaran darinya, kemudian bersegera untuk mengamalkannya. (Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.assalafy.org/mahad/?p=488
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.assalafy.org/mahad/?p=488
Labels:
Teladan
Jumat, 14 Januari 2011
TELADAN ORANG-ORANG SHALIH TERDAHULU
Salah seorang ulama ditanya : “Mengapa perkataan Salafush Shalih lebih bermanfaat dari perkataan kita?” Maka iapun menjawab : “Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, untuk keselamatan jiwa, untuk mencari ridha Allah Yang Maha Pemurah, sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan diri, mencari dunia dan mencari keridhaan mahluk.” [Shifatush Shafwah karya Ibnul Jauzi 4/122]
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2010/11/10/aina-nahnu-min-akhlaqis-salaf-bag-1/
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2010/11/10/aina-nahnu-min-akhlaqis-salaf-bag-1/
Labels:
Teladan
Rabu, 12 Januari 2011
BERTEMAN DENGAN ORANG-ORANG SHALIH
Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata,
نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ
“Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.“[Siyar A’lam An Nubala’, 8/435, Mawqi’ Ya’sub].
Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang shalih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang shalih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang shalih lainnya.
Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.”[Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas, Sayyid bin Husain Al ‘Afani, hal. 466, Darul ‘Affani, cetakan pertama, tahun 1421 H]
Ibnul Qayyim mengisahkan, “Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan sempit dalam menjalani hidup, kami segera mendatangi Ibnu Taimiyyah untuk meminta nasehat. Maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”. [Shahih Al Wabilush Shayib, antara hal. 91-96, Dar Ibnul Jauziy]
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kiat-agar-tetap-istiqomah.html
نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ
“Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.“[Siyar A’lam An Nubala’, 8/435, Mawqi’ Ya’sub].
Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang shalih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang shalih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang shalih lainnya.
Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.”[Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas, Sayyid bin Husain Al ‘Afani, hal. 466, Darul ‘Affani, cetakan pertama, tahun 1421 H]
Ibnul Qayyim mengisahkan, “Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan sempit dalam menjalani hidup, kami segera mendatangi Ibnu Taimiyyah untuk meminta nasehat. Maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”. [Shahih Al Wabilush Shayib, antara hal. 91-96, Dar Ibnul Jauziy]
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kiat-agar-tetap-istiqomah.html
Labels:
Teladan
MENELADANI KISAH ORANG-ORANG SHALIH
Nu’aim bin Hammad mengatakan, “Ibnul Mubarak biasa duduk-duduk sendirian di rumahnya. Kemudian ada yang menanyakan pada beliau, “Apakah engkau tidak kesepian?” Ibnul Mubarak menjawab, “Bagaimana mungkin aku kesepian, sedangkan aku selalu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” [Shifatush Shafwah, 1/438] Maksudnya, Ibnul Mubarak tidak pernah merasa kesepian karena sibuk mempelajari jalan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kiat-agar-tetap-istiqomah.html
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kiat-agar-tetap-istiqomah.html
Labels:
Teladan
MENELADANI KISAH ORANG-ORANG SHALIH
Basyr bin Al Harits Al Hafi mengatakan,
أَنَّ أَقْوَامًا مَوْتَى تَحْيَا القُلُوْبَ بِذِكْرِهِمْ وَأَنَّ أَقْوَامًا أَحْيَاءَ تَعْمَى الأَبْصَارَ بِالنَّظَرِ إِلَيْهِمْ
“Betapa banyak manusia yang telah mati (yaitu orang-orang yang shalih) membuat hati menjadi hidup karena mengingat mereka. Namun sebaliknya, ada manusia yang masih hidup (yaitu orang-orang fasik) membuat hati ini mati karena melihat mereka.“[Shifatush Shafwah, Ibnul Jauziy]
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kiat-agar-tetap-istiqomah.html
أَنَّ أَقْوَامًا مَوْتَى تَحْيَا القُلُوْبَ بِذِكْرِهِمْ وَأَنَّ أَقْوَامًا أَحْيَاءَ تَعْمَى الأَبْصَارَ بِالنَّظَرِ إِلَيْهِمْ
“Betapa banyak manusia yang telah mati (yaitu orang-orang yang shalih) membuat hati menjadi hidup karena mengingat mereka. Namun sebaliknya, ada manusia yang masih hidup (yaitu orang-orang fasik) membuat hati ini mati karena melihat mereka.“[Shifatush Shafwah, Ibnul Jauziy]
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kiat-agar-tetap-istiqomah.html
Labels:
Teladan
" Meneladani Kisah Orang-Orang Shalih "
Basyr bin Al Harits Al Hafi mengatakan,
أَنَّ أَقْوَامًا مَوْتَى تَحْيَا القُلُوْبَ بِذِكْرِهِمْ وَأَنَّ أَقْوَامًا أَحْيَاءَ تَعْمَى الأَبْصَارَ بِالنَّظَرِ إِلَيْهِمْ
“Betapa banyak manusia yang telah mati (yaitu orang-orang yang sholih, pen) membuat hati menjadi hidup karena mengingat mereka. Namun sebaliknya, ada manusia yang masih hidup (yaitu orang-orang fasik, pen) membuat hati ini mati karena melihat mereka.“ [Shifatush Shafwah, Ibnul Jauziy, 2/333, Darul Ma’rifah, Beirut, cetakan kedua, tahun 1399 H]
Imam Abu Hanifah rahimahullah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Beliau rahimahullah mengatakan,
الْحِكَايَاتُ عَنْ الْعُلَمَاءِ وَمُجَالَسَتِهِمْ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ كَثِيرٍ مِنْ الْفِقْهِ لِأَنَّهَا آدَابُ الْقَوْمِ وَأَخْلَاقُهُمْ
“Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.” [Al Madkhal, 1/164, Mawqi’ Al Islam]
Nu’aim bin Hammad mengatakan, “Ibnul Mubarak biasa duduk-duduk sendirian di rumahnya. Kemudian ada yang menanyakan pada beliau, “Apakah engkau tidak kesepian?” Ibnul Mubarak menjawab, “Bagaimana mungkin aku kesepian, sedangkan aku selalu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” [Shifatush Shofwah, 1/438] Maksudnya, Ibnul Mubarok tidak pernah merasa kesepian karena sibuk mempelajari jalan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kiat-agar-tetap-istiqomah.html
أَنَّ أَقْوَامًا مَوْتَى تَحْيَا القُلُوْبَ بِذِكْرِهِمْ وَأَنَّ أَقْوَامًا أَحْيَاءَ تَعْمَى الأَبْصَارَ بِالنَّظَرِ إِلَيْهِمْ
“Betapa banyak manusia yang telah mati (yaitu orang-orang yang sholih, pen) membuat hati menjadi hidup karena mengingat mereka. Namun sebaliknya, ada manusia yang masih hidup (yaitu orang-orang fasik, pen) membuat hati ini mati karena melihat mereka.“ [Shifatush Shafwah, Ibnul Jauziy, 2/333, Darul Ma’rifah, Beirut, cetakan kedua, tahun 1399 H]
Imam Abu Hanifah rahimahullah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Beliau rahimahullah mengatakan,
الْحِكَايَاتُ عَنْ الْعُلَمَاءِ وَمُجَالَسَتِهِمْ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ كَثِيرٍ مِنْ الْفِقْهِ لِأَنَّهَا آدَابُ الْقَوْمِ وَأَخْلَاقُهُمْ
“Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.” [Al Madkhal, 1/164, Mawqi’ Al Islam]
Nu’aim bin Hammad mengatakan, “Ibnul Mubarak biasa duduk-duduk sendirian di rumahnya. Kemudian ada yang menanyakan pada beliau, “Apakah engkau tidak kesepian?” Ibnul Mubarak menjawab, “Bagaimana mungkin aku kesepian, sedangkan aku selalu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” [Shifatush Shofwah, 1/438] Maksudnya, Ibnul Mubarok tidak pernah merasa kesepian karena sibuk mempelajari jalan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kiat-agar-tetap-istiqomah.html
Labels:
Teladan
Senin, 27 September 2010
" Pergi Bersama Orang-Orang Shalih "
Suatu hari Abdulloh bin Mubarok pernah ditanya: "Mengapa kamu tidak duduk-duduk bersama kami?" Beliau menjawab: "Aku pergi bersama para sahabat dan tabi'in!" Yang bertanya berkata: "Di mana ada para sahabat dan tabi'in?" Beliau menjawab: "Aku pergi merenungi dan mempelajari ilmu mereka, sehingga aku mendapati pengaruh ilmu dan amalan mereka. Namun, apa yang bisa aku perbuat jika bersama kalian, kalian hanya meng-ghibah manusia!" (Hilyah Auliya: 8/164)
Sumber:
Majalah al-Furqon Edisi 8, th. Ke-9 1431/2010
Sumber:
Majalah al-Furqon Edisi 8, th. Ke-9 1431/2010
Labels:
Teladan
Minggu, 25 Juli 2010
" Generasi Terbaik Dalam Sejarah "
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bintang-bintang itu adalah amanat bagi langit. Apabila bintang-bintang itu telah musnah maka tibalah kiamat yang dijanjikan akan menimpa langit. Sedangkan aku adalah amanat bagi para sahabatku. Apabila aku telah pergi maka tibalah apa yang dijanjikan Allah akan terjadi kepada para sahabatku. Sedangkan para sahabatku adalah amanat bagi umatku. Sehingga apabila para sahabatku telah pergi maka akan datanglah sesuatu (perselisihan dan perpecahan) yang sudah dijanjikan Allah akan terjadi kepada umatku ini.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)
“Belum pernah ada, dan tidak akan pernah ada suatu kaum yang serupa dengan mereka.”
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka itu adalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah guna menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.” (Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish shalih, halaman 198)
Sumber:
http://muslim.or.id/manhaj/inilah-generasi-terbaik-dalam-sejarah.html
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)
“Belum pernah ada, dan tidak akan pernah ada suatu kaum yang serupa dengan mereka.”
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka itu adalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah guna menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.” (Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish shalih, halaman 198)
Sumber:
http://muslim.or.id/manhaj/inilah-generasi-terbaik-dalam-sejarah.html
Labels:
Teladan
Rabu, 21 Juli 2010
KETELADANAN PARA ULAMA
Imam Abu Hanifah pernah berkata: “Kisah-kisah (keteladanan) para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai dari pada kebanyakan (masalah-masalah) fikh, karena kisah-kisah tersebut (berisi) adab dan tingkah laku mereka (untuk diteladani)” [Dinukil oleh imam Ibnu ‘Abdil Barr dengan sanadnya dalam kitab “Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi” (no. 595)].
Sumber: http://muslim.or.id/keluarga/yang-seharusnya-jadi-idola-keluarga-muslim.html
Sumber: http://muslim.or.id/keluarga/yang-seharusnya-jadi-idola-keluarga-muslim.html
Labels:
Teladan
Minggu, 11 Juli 2010
" Manfaat Ucapan Para Ulama Salaf "
Imam Ibnul Jauzi dalam kitab beliau “Shifatush Shafwah” (4/122) ([1]) menukil ucapan Hamdun bin Ahmad Al Qashshar ([2]) ketika beliau ditanya, “Apa sebabnya ucapan para ulama salaf lebih besar manfaatnya dibandingkan ucapan kita?” Beliau menjawab, “Karena mereka berbicara (dengan niat) untuk kemuliaan Islam, keselamatan diri (dari azab Allah Ta’ala), dan mencari ridha Allah Ta’ala, adapun kita berbicara (dengan niat untuk) kemuliaan diri (mencari popularitas), kepentingan dunia (materi), dan mencari keridhaan manusia”.
([1]) Ucapan ini juga dinukil oleh Abu Nu’aim Al Ashbahani dalam kitab beliau “Hilyatul Auliya’” (10/231) dan Al Baihaqi dalam kitab beliau “Syu’abul iimaan” (no. 1842).
([2]) Beliau adalah Abu Shaleh Hamdun bin Ahmad bin ‘Umaarah An Naisaabuuri (wafat 271 H), biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubala’” (13/50) karya Imam Adz Dzahabi.
Sumber:
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/bagaimana-meraih-ilmu-yang-bermanfaat.html
([1]) Ucapan ini juga dinukil oleh Abu Nu’aim Al Ashbahani dalam kitab beliau “Hilyatul Auliya’” (10/231) dan Al Baihaqi dalam kitab beliau “Syu’abul iimaan” (no. 1842).
([2]) Beliau adalah Abu Shaleh Hamdun bin Ahmad bin ‘Umaarah An Naisaabuuri (wafat 271 H), biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubala’” (13/50) karya Imam Adz Dzahabi.
Sumber:
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/bagaimana-meraih-ilmu-yang-bermanfaat.html
Labels:
Teladan
Langganan:
Postingan (Atom)