Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَّ جُلُودَهُمْ قُرِضَتْ بِالْمَقَارِيضِ مِمَّا يَرَوْنَ مِنْ ثَوَابِ أَهْلِ الْبَلاَءِ.<>
”Manusia pada hari kiamat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia.”[1]
Dan beliau shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ، حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ
“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.”[2]
Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ
“Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.”[3]
[1] HR. Baihaqi: 6791, lihat ash-Shahihah: 2206.
[2] HR. Muslim no. 2572
[3] HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya, dan dinyatakan hasan shahih oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/565 no. 2399
----- Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini -----
Tampilkan postingan dengan label Sabar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sabar. Tampilkan semua postingan
Kamis, 11 Oktober 2012
Selasa, 03 Januari 2012
Pemberian Terbaik Berupa Kesabaran
Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu 'anhu menyampaikan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulia:
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Siapa yang menjaga kehormatan dirinya — dengan tidak meminta kepada manusia dan berambisi untuk beroleh apa yang ada di tangan mereka — Allah akan menganugerahkan kepadanya iffah (kehormatan diri). Siapa yang merasa cukup, Allah akan mencukupinya (sehingga jiwanya kaya/merasa cukup dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki). Siapa yang menyabarkan dirinya, Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 2421)
Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.almanshuroh.or.id/2011/12/keutamaan-iffah-dan-bersabar/
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Siapa yang menjaga kehormatan dirinya — dengan tidak meminta kepada manusia dan berambisi untuk beroleh apa yang ada di tangan mereka — Allah akan menganugerahkan kepadanya iffah (kehormatan diri). Siapa yang merasa cukup, Allah akan mencukupinya (sehingga jiwanya kaya/merasa cukup dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki). Siapa yang menyabarkan dirinya, Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 2421)
Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.almanshuroh.or.id/2011/12/keutamaan-iffah-dan-bersabar/
Labels:
Sabar
SABAR MEMBAWA KESELAMATAN
Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata, “Sabar ada dua bentuk: bersabar untuk Allah dengan menjalankan apa yang Dia cintai walaupun berat bagi jiwa dan badan. Dan bersabar untuk Allah dari segala yang Dia benci walaupun keinginan nafsu menentangnya. Siapa yang kondisinya seperti ini maka dia termasuk dari golongan orang-orang yang sabar yang akan selamat, insya Allah…” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim lil Hafizh Ibn Katsir)
Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://muslimah.or.id/pojok-hikmah/dilema-cinta-dalam-logika-asmara-bag-02.html
Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://muslimah.or.id/pojok-hikmah/dilema-cinta-dalam-logika-asmara-bag-02.html
Labels:
Sabar
Senin, 11 Juli 2011
Mengendalikan Hawa Nafsu
Di antara pidato Hajjaj adalah yang berbunyi, ”Tegurlah nafsu-nafsu itu! Sesungguhnya mereka selalu cenderung kepada setiap keburukan. Telah mendapat rahmat dari Allah ‘azza wa jalla, seseorang yang mencarikan pengekang dan pengendali bagi nafsunya. Dengan pengendali itu, ia menuju kepada ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla. Dan dengan pengekang ia terhindar dari bermaksiat kepada Allah ‘azza wa jalla. Sebenarnya, bersabar terhadap hal-hal yang diharamkan oleh Allah ‘azza wa jalla itu lebih mudah daripada bersabar terhadap adzab-Nya.”
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
"Tazkiyah An-Nafs, Konsep Penyucian Jiwa Menurut Para Salaf", halaman 97-108. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Rajab al-Hambali, Imam Ghazali. Pentahqiq: Dr. Ahmad Farid. Penerjemah: Imtihan Asy-Syafi'i. Editor: Abu Fatiah Al Adnani . Penerbit: Pustaka Arafah, Solo. Cetakan I September 2001.
http://www.ummufadhl.blogspot.com/
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
"Tazkiyah An-Nafs, Konsep Penyucian Jiwa Menurut Para Salaf", halaman 97-108. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Rajab al-Hambali, Imam Ghazali. Pentahqiq: Dr. Ahmad Farid. Penerjemah: Imtihan Asy-Syafi'i. Editor: Abu Fatiah Al Adnani . Penerbit: Pustaka Arafah, Solo. Cetakan I September 2001.
http://www.ummufadhl.blogspot.com/
Labels:
Sabar
SABAR MENURUT ULAMA SALAF
Al-Junaid pernah ditanya tentang sabar. Dia menjawab, ”Yaitu menelan kepahitan tanpa mengerutkan muka.”
Dzun Nuun Al- Mishry berkata, ”Sabar adalah menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan agama, bersikap tenang ketika menghadapi ujian yang berat; menampakkan kecukupan di kala kefakiran datang ke tengah medan kehidupan.”
Ada juga yang mengatakan, ”Sabar adalah berlapang dada ketika ditimpa musibah tanpa berkeluh kesah.”
Pernah, seorang yang shalih mengetahui seseorang yang mengeluh kepada saudaranya. Maka ia pun memberi nasihat dan berkata, ”Wahai Saudara, Demi Allah tidak ada untungnya bagimu mengeluhkan Yang Mengasihimu kepada yang tidak mengasihi kamu.”
Tersebut dalam sebuah syair,
Bila Anda mengeluh pada anak Adam
Artinya Anda mengeluhkan Yang Maha Pengasih kepada yang tidak mengasihi.
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
"Tazkiyah An-Nafs, Konsep Penyucian Jiwa Menurut Para Salaf", halaman 97-108. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Rajab al-Hambali, Imam Ghazali. Pentahqiq: Dr. Ahmad Farid. Penerjemah: Imtihan Asy-Syafi'i. Editor: Abu Fatiah Al Adnani . Penerbit: Pustaka Arafah, Solo. Cetakan I September 2001.
http://www.ummufadhl.blogspot.com/
Dzun Nuun Al- Mishry berkata, ”Sabar adalah menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan agama, bersikap tenang ketika menghadapi ujian yang berat; menampakkan kecukupan di kala kefakiran datang ke tengah medan kehidupan.”
Ada juga yang mengatakan, ”Sabar adalah berlapang dada ketika ditimpa musibah tanpa berkeluh kesah.”
Pernah, seorang yang shalih mengetahui seseorang yang mengeluh kepada saudaranya. Maka ia pun memberi nasihat dan berkata, ”Wahai Saudara, Demi Allah tidak ada untungnya bagimu mengeluhkan Yang Mengasihimu kepada yang tidak mengasihi kamu.”
Tersebut dalam sebuah syair,
Bila Anda mengeluh pada anak Adam
Artinya Anda mengeluhkan Yang Maha Pengasih kepada yang tidak mengasihi.
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
"Tazkiyah An-Nafs, Konsep Penyucian Jiwa Menurut Para Salaf", halaman 97-108. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Rajab al-Hambali, Imam Ghazali. Pentahqiq: Dr. Ahmad Farid. Penerjemah: Imtihan Asy-Syafi'i. Editor: Abu Fatiah Al Adnani . Penerbit: Pustaka Arafah, Solo. Cetakan I September 2001.
http://www.ummufadhl.blogspot.com/
Labels:
Sabar
Senin, 23 Mei 2011
GANJARAN BERSABAR TERHADAP MUSIBAH
Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda,
يُوَدُّ أَهْلُ العَافِيَةِ يَوْمَ القِيَامَةِ حِيْنَ يُعْطَى أَهْلُ البَلَاءِ الثَّوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُوْدَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ فِيْ الدُّنْيَا بِالْمَقَارِيْضِ
“Kelak di hari qiyamat akan menyesal orang-orang yang tidak ditimpa musibah ketika orang-orang yang (sewaktu di dunia) ditimpa musibah diberi pahala. (Sampai-sampai mereka bercita-cita) kalaulah dahulu kulit mereka dipotong dengan gunting di dunia” [HR. Tirmidzi no. 2402, dinyatakan hasan oleh Al Albani rahimahullah dalam Ash Shahihah no. 2206].
Beliau shallallahu 'alaihi was sallam juga bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلاَهُ اللَّهُ فِى جَسَدِهِ أَوْ فِى مَالِهِ أَوْ فِى وَلَدِهِ. ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ. حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِى سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى
“Sesungguhnya seorang hamba jika telah ditentukan/ditaqdirkan padanya suatu tingkatan (di surga) yang belum sampai dengan sebab seluruh amalnya maka Allah akan timpakan padanya musibah berkaitan dengan dirinya, hartanya atau pada anaknya, kemudian ia bersabar atas hal tersebut sehingga dengan sebab hal tersebut Allah sampaikan ia pada tingkatan (di surga) yang telah ditetapkan-Nya” [HR. Abu Dawud no. 3090, hadits ini dinyatakan shahih oleh Al Albani rahimahullah].
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://alhijroh.net/adab-akhlak/teruntuk-bagimu-saudaraku-yang-tengah-terbaring/
يُوَدُّ أَهْلُ العَافِيَةِ يَوْمَ القِيَامَةِ حِيْنَ يُعْطَى أَهْلُ البَلَاءِ الثَّوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُوْدَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ فِيْ الدُّنْيَا بِالْمَقَارِيْضِ
“Kelak di hari qiyamat akan menyesal orang-orang yang tidak ditimpa musibah ketika orang-orang yang (sewaktu di dunia) ditimpa musibah diberi pahala. (Sampai-sampai mereka bercita-cita) kalaulah dahulu kulit mereka dipotong dengan gunting di dunia” [HR. Tirmidzi no. 2402, dinyatakan hasan oleh Al Albani rahimahullah dalam Ash Shahihah no. 2206].
Beliau shallallahu 'alaihi was sallam juga bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلاَهُ اللَّهُ فِى جَسَدِهِ أَوْ فِى مَالِهِ أَوْ فِى وَلَدِهِ. ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ. حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِى سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى
“Sesungguhnya seorang hamba jika telah ditentukan/ditaqdirkan padanya suatu tingkatan (di surga) yang belum sampai dengan sebab seluruh amalnya maka Allah akan timpakan padanya musibah berkaitan dengan dirinya, hartanya atau pada anaknya, kemudian ia bersabar atas hal tersebut sehingga dengan sebab hal tersebut Allah sampaikan ia pada tingkatan (di surga) yang telah ditetapkan-Nya” [HR. Abu Dawud no. 3090, hadits ini dinyatakan shahih oleh Al Albani rahimahullah].
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://alhijroh.net/adab-akhlak/teruntuk-bagimu-saudaraku-yang-tengah-terbaring/
Labels:
Sabar
Selasa, 01 Maret 2011
SABAR
Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata:
"Kehidupan yang terbaik kami dapatkan dengan sabar. Jika sabar itu ada pada seseorang, pasti ia
tergolong orang dermawan."
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata: "Posisi sabar bagi iman seperti posisi kepala bagi tubuh. Jika kepala terputus maka matilah badan. Ketahuilah, tidak beriman orang yang tidak sabar."
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: "Allah tidak memberi suatu kenikmatan kepada salah
seorang hamba-Nya kemudian Dia mencabutnya dari orang tersebut dan menggantinya dengan sabar, maka penggantinya itu lebih baik daripada apa yang dicabut darinya."
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata: "Sabar adalah salah satu kekayaan dari kekayaan yang
baik. Allah tidak memberikan kecuali kepada hamba-Nya yang mulia di sisi-Nya."
(Dinukil dari kitab 'Uddatush Shabirin wa Dzakhiratisy-Syakirin karya Syamsudin Muhammad bin
Abu Bakar Ibnu Qayyim Al Jauziyah)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Majalah Syari'ah No.03/I/Rabi'ul Akhir 1424 H/Juni 2003, rubrik Permata Salaf.
"Kehidupan yang terbaik kami dapatkan dengan sabar. Jika sabar itu ada pada seseorang, pasti ia
tergolong orang dermawan."
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata: "Posisi sabar bagi iman seperti posisi kepala bagi tubuh. Jika kepala terputus maka matilah badan. Ketahuilah, tidak beriman orang yang tidak sabar."
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: "Allah tidak memberi suatu kenikmatan kepada salah
seorang hamba-Nya kemudian Dia mencabutnya dari orang tersebut dan menggantinya dengan sabar, maka penggantinya itu lebih baik daripada apa yang dicabut darinya."
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata: "Sabar adalah salah satu kekayaan dari kekayaan yang
baik. Allah tidak memberikan kecuali kepada hamba-Nya yang mulia di sisi-Nya."
(Dinukil dari kitab 'Uddatush Shabirin wa Dzakhiratisy-Syakirin karya Syamsudin Muhammad bin
Abu Bakar Ibnu Qayyim Al Jauziyah)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Majalah Syari'ah No.03/I/Rabi'ul Akhir 1424 H/Juni 2003, rubrik Permata Salaf.
Labels:
Sabar
Jumat, 07 Januari 2011
SABAR DI KALA UJIAN MENERPA
Salam bin Abi Muthi’ berkata: “Aku pernah menjenguk orang yang sedang sakit, tiba-tiba ia merintih kesakitan, maka aku katakan padanya: “Ingatlah orang-orang yang tidak punya tempat tinggal dan tidak mendapatkan seorangpun yang bisa membantu mereka.” Kemudian lain kali aku menjenguk orang tadi. Maka aku mendengar ia berkata kepada dirinya sendiri: “Wahai diri, ingatlah orang-orang yang terusir di jalanan. Ingatlah orang yang tidak mempunyai tempat tinggal dan tidak mendapatkan seorangpun yang bisa membantu mereka.” ('Uddatush Shabirin)
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.oaseimani.com/nikmat-allah-kepada-hamba-nya.html
Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.oaseimani.com/nikmat-allah-kepada-hamba-nya.html
Labels:
Sabar
Kamis, 23 Desember 2010
" Jihad Dan Kesabaran "
‘Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada para syaikh dari kalangan bani ‘Abbas: “Dengan apa kalian memerangi manusia?” Mereka menjawab: “Dengan kesabaran. Tidaklah kami menjumpai suatu kaum (musuh) melainkan kami bersabar menghadapi mereka sebagaimana mereka bersabar menghadapi kami.”
Sebagian salaf berkata: “Masing-masing dari kami tidaklah menyukai kematian dan sakitnya luka-luka, akan tetapi kami diberi kelebihan dengan kesabaran.”
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullahu menerangkan: “Ini dalam jihad memerangi musuh yang dhahir (lahir) yakni jihad melawan orang-orang kafir. Seperti itu pula dalam jihad memerangi musuh yang batin yakni jihad melawan (kejahatan) jiwa dan hawa nafsu. Maka sungguh berjihad pada keduanya (dhahir dan batin) merupakan seagung-agungnya jihad. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
الْـمُـجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي اللهِ
“Seorang mujahid adalah orang yang memerangi jiwanya karena Allah.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 516)
Al-Imam Al-Mubarakfuri rahimahullahu mengatakan (Tuhfatul Ahwadzi halaman 206): “Yakni memaksa jiwanya yang suka memerintahkan kepada kejelekan untuk tunduk kepada apa yang mengandung keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam bentuk melaksanakan amalan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan. Jihad terhadap jiwa tersebut juga merupakan fondasi dari segala macam jihad. Karena sesungguhnya selama seseorang belum berjihad untuk menundukkan jiwanya sendiri, tidaklah mungkin baginya untuk dapat berjihad memerangi musuh yang di luar jiwanya (musuh yang dhahir).”
Sumber:
http://www.majalahsyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=826
Sebagian salaf berkata: “Masing-masing dari kami tidaklah menyukai kematian dan sakitnya luka-luka, akan tetapi kami diberi kelebihan dengan kesabaran.”
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullahu menerangkan: “Ini dalam jihad memerangi musuh yang dhahir (lahir) yakni jihad melawan orang-orang kafir. Seperti itu pula dalam jihad memerangi musuh yang batin yakni jihad melawan (kejahatan) jiwa dan hawa nafsu. Maka sungguh berjihad pada keduanya (dhahir dan batin) merupakan seagung-agungnya jihad. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
الْـمُـجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي اللهِ
“Seorang mujahid adalah orang yang memerangi jiwanya karena Allah.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 516)
Al-Imam Al-Mubarakfuri rahimahullahu mengatakan (Tuhfatul Ahwadzi halaman 206): “Yakni memaksa jiwanya yang suka memerintahkan kepada kejelekan untuk tunduk kepada apa yang mengandung keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam bentuk melaksanakan amalan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan. Jihad terhadap jiwa tersebut juga merupakan fondasi dari segala macam jihad. Karena sesungguhnya selama seseorang belum berjihad untuk menundukkan jiwanya sendiri, tidaklah mungkin baginya untuk dapat berjihad memerangi musuh yang di luar jiwanya (musuh yang dhahir).”
Sumber:
http://www.majalahsyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=826
Minggu, 29 Agustus 2010
" Rukun Sabar "
Terhadap ujian dari Allah yang menimpa seorang hamba, wajib baginya untuk bersabar dan merelakannya.
Adapun rukun sabar adalah menahan jiwa dari perasaan jengkel terhadap takdir yang menimpa dirinya, mencegah lisan mengeluh dan menjaga anggota badan dari berbuat maksiat seperti menampar pipi, merobek baju, menjambak rambut (karena histeris) dan semisalnya.
Maka ruang lingkup sabar berkisar pada tiga rukun tersebut, jika seorang hamba menegakkan sebagaimana mestinya, niscaya ujian akan berubah menjadi anugerah, bala' menjadi karunia dan benci menjadi rasa cinta.
(Ibnul Qayyim Al Jauziyyah Rahimahullah)
Sumber:
www.ibnumajjah.wordpress.com
Adapun rukun sabar adalah menahan jiwa dari perasaan jengkel terhadap takdir yang menimpa dirinya, mencegah lisan mengeluh dan menjaga anggota badan dari berbuat maksiat seperti menampar pipi, merobek baju, menjambak rambut (karena histeris) dan semisalnya.
Maka ruang lingkup sabar berkisar pada tiga rukun tersebut, jika seorang hamba menegakkan sebagaimana mestinya, niscaya ujian akan berubah menjadi anugerah, bala' menjadi karunia dan benci menjadi rasa cinta.
(Ibnul Qayyim Al Jauziyyah Rahimahullah)
Sumber:
www.ibnumajjah.wordpress.com
Labels:
Sabar
Rabu, 11 Agustus 2010
" Karunia Berupa Kesabaran "
Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berusaha menjaga kehormatannya maka Allah pun akan mengaruniakan iffah/terjaganya kehormatan kepadanya. Barangsiapa yang melatih diri untuk bersabar maka Allah akan jadikan dia penyabar. Barangsiapa yang melatih diri untuk senantiasa merasa cukup maka niscaya Allah akan beri kecukupan untuk dirinya. Tidaklah kalian diberikan suatu karunia yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/343] cetakan Dar al-Hadits tahun 1424 H)
Sumber:
http://abumushlih.com/jangan-kau-buat-allah-cemburu.html/
Sumber:
http://abumushlih.com/jangan-kau-buat-allah-cemburu.html/
Labels:
Sabar
Jumat, 30 Juli 2010
" Jiwa Menipu Kita Dan Kita Menipunya "
Jika jiwa itu menjauh dari kebenaran,
maka kita membentaknya.
Dan jika dia menghadap dunia dengan
meninggalkan akhirat,
maka kita menahannya.
Dia menipu kita dan kita menipunya,
hanya dengan kesabaran kita dapat mengalahkannya.
[Shifatush Shafwah (IV/114)]
Sumber:
http://www.almanhaj.or.id/content/2529/slash/0
maka kita membentaknya.
Dan jika dia menghadap dunia dengan
meninggalkan akhirat,
maka kita menahannya.
Dia menipu kita dan kita menipunya,
hanya dengan kesabaran kita dapat mengalahkannya.
[Shifatush Shafwah (IV/114)]
Sumber:
http://www.almanhaj.or.id/content/2529/slash/0
Labels:
Sabar
Rabu, 14 Juli 2010
" Bersabar Di Awal Musibah "
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى
“Yang namanya sabar seharusnya dimulai ketika awal ditimpa musibah.” (HR. Bukhari no. 1283, dari Anas bin Malik). Itulah sabar yang sebenarnya. Sabar yang sebenarnya bukanlah ketika telah mengeluh lebih dulu di awal musibah.
Sumber:
http://www.rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/2905-10-kiat-tegar-menghadapi-cobaan.html
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى
“Yang namanya sabar seharusnya dimulai ketika awal ditimpa musibah.” (HR. Bukhari no. 1283, dari Anas bin Malik). Itulah sabar yang sebenarnya. Sabar yang sebenarnya bukanlah ketika telah mengeluh lebih dulu di awal musibah.
Sumber:
http://www.rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/2905-10-kiat-tegar-menghadapi-cobaan.html
Labels:
Sabar
Minggu, 11 Juli 2010
" Bersabarlah, Niscaya Kelapangan itu Begitu Dekat "
Imam Asy Syafi’i rahimahullah pernah berkata dalam bait syair,
صَبرا جَميلا ما أقرَبَ الفَرجا ... مَن رَاقَب الله في الأمور نَجَا ...
مَن صَدَق الله لَم يَنَلْه أذَى ... وَمَن رَجَاه يَكون حَيثُ رَجَا ...
Bersabarlah yang baik, maka niscaya kelapangan itu begitu dekat.
Barangsiapa yang mendekatkan diri pada Allah untuk lepas dari kesulitan, maka ia pasti akan selamat.
Barangsiapa yang begitu yakin dengan Allah, maka ia pasti tidak merasakan penderitaan.
Barangsiapa yang selalu berharap pada-Nya, maka Allah pasti akan memberi pertolongan.
Sumber:
http://www.rumaysho.com/faedah-ilmu/15-faedah-ilmu/3098-sabarlah-niscaya-kelapangan-begitu-dekat-bait-syair-imam-syafii.html
صَبرا جَميلا ما أقرَبَ الفَرجا ... مَن رَاقَب الله في الأمور نَجَا ...
مَن صَدَق الله لَم يَنَلْه أذَى ... وَمَن رَجَاه يَكون حَيثُ رَجَا ...
Bersabarlah yang baik, maka niscaya kelapangan itu begitu dekat.
Barangsiapa yang mendekatkan diri pada Allah untuk lepas dari kesulitan, maka ia pasti akan selamat.
Barangsiapa yang begitu yakin dengan Allah, maka ia pasti tidak merasakan penderitaan.
Barangsiapa yang selalu berharap pada-Nya, maka Allah pasti akan memberi pertolongan.
Sumber:
http://www.rumaysho.com/faedah-ilmu/15-faedah-ilmu/3098-sabarlah-niscaya-kelapangan-begitu-dekat-bait-syair-imam-syafii.html
Labels:
Sabar
Sabtu, 10 Juli 2010
" Besarnya Pahala Tergantung Besarnya Ujian "
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya ujian. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka mereka akan mendapatkan keridhaan Allah. Dan siapa yang murka, maka akan mendapatkan murka Allah.” (Hasan, HR. At Tirmidzi)
Sumber:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/musibah-antara-jalan-ke-surga-dan-jurang-ke-neraka.html
Sumber:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/musibah-antara-jalan-ke-surga-dan-jurang-ke-neraka.html
Labels:
Sabar
Senin, 05 Juli 2010
" Sabar & Iman "
‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu mengatakan,
الصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الجَسَدِ، وَلَا إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَبْرَ لَهُ.
“Sabar dan iman adalah bagaikan kepala pada jasad manusia. Oleh karenanya, tidak beriman (dengan iman yang sempurna), jika seseorang tidak memiliki kesabaran.”[Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis, halaman 250.]
Sumber:
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/hiburan-bagi-yang-mendapatkan-musibah.html
الصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الجَسَدِ، وَلَا إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَبْرَ لَهُ.
“Sabar dan iman adalah bagaikan kepala pada jasad manusia. Oleh karenanya, tidak beriman (dengan iman yang sempurna), jika seseorang tidak memiliki kesabaran.”[Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis, halaman 250.]
Sumber:
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/hiburan-bagi-yang-mendapatkan-musibah.html
Labels:
Sabar
Langganan:
Postingan (Atom)