Pages

Selasa, 21 Juli 2015

Takwa : Sumber Selamat

Ibnul Jauzi rahimahullahu menuturkan:
“Ketahuilah, hidup tak selalu sama. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وتلكَ الأيامُ نداولها بينَ الناس
Hari-hari itu kami pergilirkan dalam (hidup) manusia.”
Manusia itu … kadang miskin, kadang kaya. Kadang mulia, kadang hina. Kadang membuat gembira orang tercinta, kadang membuat senang musuh-musuhnya (karena dia ditimpa kesusahan, pent).
Karena itu, orang yang bahagia adalah mereka yang senantiasa berpijak pada satu prinsip dalam setiap keadaan, yaitu takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Ketika dia kaya, ketakwaannya akan menghiasi dirinya.
Ketika dia miskin, ketakwaannya akan menjadikan dirinya senantiasa sabar.
Ketika dia sehat, ketakwaannya akan menyempurnakan nikmat sehat itu.
Ketika dia tertimpa cobaan hidup, ketakwaannya akan membuat dirinya tetap tegar.
Ia tidak akan rugi bila hidup menurunkan derajatnya, meninggikannya, menelanjanginya, mengenyangkannya, atau membuatnya lapar. Karena memang itu semua selalu naik-turun dan terus berubah.
Demikianlah, takwa adalah sumber keselamatan.
—-
Sumber: Shayyidul Khathir, Ibnul Jauzi.
Penerjemah: Anita Rahmawati
Pemuraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Mengenang saudara & sahabatku Purna Atmaja. Uhibbuka fillah, ya akhi....
Sumber artikel muslimah.or.id

Selasa, 18 Maret 2014

Udzur bagi Saudara Mukmin

Imam Ahmad telah meriwayatkan dalam az-Zuhd, dan diriwayatkan juga oleh selainnya, bahwa 'Umar pernah memberikan nasihat:

لاَ تَظُنَّنَّ بِكَلِمَةٍ خَرَجَتْ مِنْ أَخِيْكَ سُوْءً وَأَنْتَ تَجِدُ لَهَا فِي الْخَيْرِ مَحْمَلاً

“Janganlah sekali-kali engkau menyangka dengan prasangka yang buruk terhadap sebuah kalimat yang keluar dari (mulut) saudaramu, padahal kalimat tersebut masih bisa engkau bawakan pada (makna) yang baik.”

Berkata Ibnul Mubarak, seorang imam dan mujahid yang masyhur:

الْمُؤْمِنُ يَطْلُبُ الْمَعَاذِيْرَ

“Seorang mukmin adalah orang yang mencari udzur-udzur (bagi saudaranya).”

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnu Mazin:

الْمُؤْمِنُ يَطْلُبُ ْمَعَاذِيْرَ إِخْوَانِهِ وَالْمُنَافِقُ يَطْلُبُ الْعَثَرَاتِ

“Seorang mukmin mencari udzur bagi saudara-saudaranya, sedangkan orang munafik mencari-cari kesalahan saudara-saudaranya.”

Abu Qilabah 'Abdullah bin Zaid al-Jarmi berkata -sebagaimana dinukil oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (II/285)-:

إِذّا بَلَغَكَ عَنْ أَخِيْكَ شَيْءٌ تَكْرَهُهُ فَالْتَمِسْ لَهُ الْعُذْرَ جهْدَكَ، فَإِنْ لَمْ تَجِدْ لَهُ عُذْرًا فَقُلْ فِيْ نَفْسِكَ: لَعَلَّ لأَخِيْ عُذْرًا لاَ أَعْلَمُهُ

“Jika sampai kepadamu kabar tentang saudaramu yang kau tidak sukai, maka berusahalah mencari udzur bagi saudaramu itu semampumu, jika engkau tidak mampu mendapatkan udzur bagi saudaramu, maka katakanlah dalam dirimu, 'Mungkin saudaraku punya udzur yang tidak kuketahui'.”

Hamdun Al-Qashshar berkata:

إِذَا زَلَّ أَخٌ مِنْ أِخْوَانِكَ فَاطْلُبْ تِسْعِيْنَ عُذْرًا، فَإِنْ لَمْ يَقْبَلْ ذّلِكَ فَأَنْتَ الْمَعِيْبُ

“Jika salah seorang dari saudaramu bersalah, maka carilah sembilan puluh udzur untuknya, dan jika saudaramu itu tidak bisa menerima satu udzur pun (jika engkau tidak menemukan udzur baginya) maka engkaulah yang tercela.”

Lihat Adabul ‘Isyrah, hal 19.

Abu Hatim bin Hibban berkata -dalam Raudhatul Uqalaa’, hal. 131, sebagaimana dinukil oleh Syaikh al-'Abbad dalam Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, hal 26-: "Wajib bagi seorang yang cerdik untuk melazimi keselamatan (hati dan lisannya), dengan meninggalkan tajasuss (mencari-cari) aib orang lain dan menyibukkan dirinya untuk memperbaiki aibnya sendiri. Sesungguhnya barangsiapa yang sibuk mengurusi aibnya sendiri sehingga terlalaikan dari mengurusi aib orang lain maka ia telah menyantaikan tubuhnya dan tidak meletihkan hatinya. Semakin dia mengungkap dan mengenal aib-aib dirinya maka akan terasa semakin ringan baginya aib semisal aibnya yang tampak pada saudaranya. Adapun barangsiapa yang sibuk mengurusi aib-aib orang lain sehingga terlalaikan dari mengurusi aibnya sendiri maka hatinya menjadi buta dan letih badannya serta tidak mampu meninggalkan aib dirinya sendiri.”

Sungguh indah perkataan seorang penyair:

شَرُّ الْوَرَى بِعُيُوْبِ النَّاسِ مُشْتَغِلْ مِثْلُ الذُبَابِ يُرَاعِي مَوْطِنَ الْعِلَلْ

Seburuk-buruk manusia adalah yang sibuk mengurusi aib orang lain

ibarat seekor lalat yang hanya mencari-cari tempat yang kotor

Syaikh 'Abdurrazzaq berkata: “Pada umumnya manusia tidak melihat aib diri mereka. Engkau melihat salah seorang dari mereka berperilaku kasar, namun ia merasa bahwa dirinya sangat lembut. Meski begitu keadaannya, ia masih sibuk mengkritik kesalahan orang lain. Barangsiapa yang mampu mengenal aib dirinya sendiri maka hal itu merupakan tanda kebaikan, keshalihan, dan merupakan awal timbulnya banyak kebajikan.”

Mencari udzur untuk sesama saudara termasuk jalannya as-Salafus shalih. Ditanyakan kepada Junaid, “Kenapa para sahabatmu makannya banyak?” Dia menjawab, “Karena mereka tidak minum khamr, sehingga mereka lebih lapar.” Lalu ia ditanya lagi, “Kenapa syahwat mereka besar?” Dia menjawab, “Karena mereka tidak berzina dan tidak melakukan hal yang dilarang.” Lalu ia ditanya lagi, “Kenapa mereka tidak bergoyang (bergerak-gerak karena semangat) tatkala mendengarkan al-Qur-an?” Dia menjawab, “Karena al-Qur-an adalah firman Allah, tidak ada sesuatu pun dalam al-Qur-an yang menyebabkan untuk bergoyang. Al-Qur-an turun dengan perintah dan larangan, dengan janji (kabar gembira) dan ancaman, maka Al-Qur-an adalah menyedihkan.” Begitulah seterusnya, Junaid terus mencari udzur terhadap para sahabatnya.

Lihat Adabul ‘Isyrah, hal 36.

Mengenang saudara & sahabatku Purna Atmaja. Uhibbuka fillah, ya akhi....
Sumber artikel firanda.com

Rabu, 19 Februari 2014

LIHATLAH KEKURANGANMU...!

Imam Syafi’i memberikan nasihat nasihat kepada kita :
janganlah lisanmu menampakkan kekurangan/aib saudaramu !
Dirimu sendiri penuh dengan kekurangan dan orang lain-pun juga memiliki lisan sepertimu !

Pepatah arab mengatakan,
barang siapa rumahnya dari kaca…
janganlah melempar rumah orang lain dengan batu !

Imam Hasan Al-Bashry menceritakan pengalamannya :
aku menjumpai suatu kaum yang sama sekali tidak memiliki kekurangan kemudian mereka mulai berbicara tentang kekurangan orang lain maka Allah menghukum mereka dengan menimpakan kekurangan pada diri mereka !
di lain waktu aku juga menjumpai suatu kaum yang banyak memiliki kekurangan akan tetapi mereka tidak membicarakan kekurangan orang lain ! sebagai balasannya Allah menutupi kekurangannya dan mengapuskannya !

Nabi kita yang mulia Shallallahu’alaihi wassalam telah bersabda :
من ستر عورة أخيه ستر الله عورته يوم القيامة ومن كشف عورة أخيه المسلم كشف الله عورته حتى يفضحه بها في الدنيا “Barangsiapa menutupi kekurangan saudaranya maka Allah akan menutupi kekurangannya pada waktu hari kiamat ! dan barang siapa menampakkan kekurangan saudaranya muslim maka Allah akan menampakkan kekurangannya dan menghinakannya di dunia”

[Perawi hadist ini adalah Abdullah bin Abbas ( semoga Allah meridoi keduanya) dan hadist ini ditakhrij oleh Imam Al-Mundziry dalam kitab At-Targhib wa At-Tarhib dengan sanad hasan]

Mengenang saudara & sahabatku Purna Atmaja. Uhibbuka fillah, ya akhi....
Sumber artikel muslim.or.id

TAWADHU' DALAM BERPAKAIAN

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa meninggalkan suatu pakaian dengan niat tawadhu’ karena Allah, sementara ia sanggup mengenakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk, lantas ia diperintahkan untuk memilih perhiasan iman mana saja yang ingin ia pakai.” (HR. Ahmad, dan Tirmidzi, lihat Silsilatul Ahaadist ash-Shahiihah : 718)

Mengenang saudara & sahabatku Purna Atmaja. Uhibbuka fillah, ya akhi....
Sumber artikel muslim.or.id