Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullah berkata kepada Muzahim bekas budaknya, “Sesungguhnnya para penguasa memiliki intel untuk memata-matai rakyatnya. Dan aku mengangkatmu sebagai intelku untuk memata-matai diriku. Bila kamu mendengar dariku kata-kata atau perbuatan yang tidak kamu sukai, tolong ingatkan dan laranglah aku.
(Uyuunul Akhbaar, 2:18).
Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini:
www.CintaSunnah.com
Tampilkan postingan dengan label Wara'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wara'. Tampilkan semua postingan
Selasa, 10 Januari 2012
Kamis, 05 Januari 2012
Amal Yang Paling Sulit
Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Amal yang paling sulit adalah tiga macam: berderma dalam keadaan sulit, wara’ dalam keadaan menyendiri dan sebuah ungkapan yang hak di hadapan orang yang diharapkan dan orang yang ditakuti.”[ Shifatush Shafwah (II/251)]
Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Disalin dari kitab Ad-Dun-yaa Zhillun Zaa-il, Penulis ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim, Edisi Indonesia Menyikapi Kehidupan Dunia Negeri Ujian Penuh Cobaan, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir.
http://almanhaj.or.id/content/2531/slash/0
Silakan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Disalin dari kitab Ad-Dun-yaa Zhillun Zaa-il, Penulis ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim, Edisi Indonesia Menyikapi Kehidupan Dunia Negeri Ujian Penuh Cobaan, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir.
http://almanhaj.or.id/content/2531/slash/0
Labels:
Wara'
Senin, 11 Juli 2011
Amal Yang Paling Berat
Berkata Al-Imam Asy-Syafi'i Rahimahullah tentang amal yang paling berat:
"Amal yang paling berat ada tiga:
Dermawan ketika memiliki sedikit harta,
Bersikap wira'i ketika sendirian,
Dan mengatakan yang benar di hadapan orang yang diharapkan kebaikannya dan ditakutkan kemarahannya."
(Ma'alim Fit Tarbiyah Wad Dakwah, Mawa'idh Al-Imam Asy-Syafi'i, Penyusun Shalih Ahmad Asy-Syami, halaman 9, Maktabah Syamilah)
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=352
"Amal yang paling berat ada tiga:
Dermawan ketika memiliki sedikit harta,
Bersikap wira'i ketika sendirian,
Dan mengatakan yang benar di hadapan orang yang diharapkan kebaikannya dan ditakutkan kemarahannya."
(Ma'alim Fit Tarbiyah Wad Dakwah, Mawa'idh Al-Imam Asy-Syafi'i, Penyusun Shalih Ahmad Asy-Syami, halaman 9, Maktabah Syamilah)
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=352
Labels:
Wara'
Senin, 04 Juli 2011
Menempuh Jalan Yang Baik Dalam Mencari Rezeki
Dari Jabir bin ‘Abdillah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ
"Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram." (HR. Ibnu Majah no. 2144, dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani).
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3483-sehat-lebih-baik-dari-kaya.html?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed%3A+rumaysho%2FrFAC+%28Feed+Rumaysho.com%29
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ
"Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram." (HR. Ibnu Majah no. 2144, dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani).
Dapatkan faidah ilmu lebih lengkap dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
http://www.rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3483-sehat-lebih-baik-dari-kaya.html?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed%3A+rumaysho%2FrFAC+%28Feed+Rumaysho.com%29
Labels:
Wara'
Selasa, 04 Januari 2011
Bisa Jadi Bukan Dinarku
Ahmad bin Fath berkata, Aku mendengar Bisyr bin Harits berkata, “Pada suatu hari, Kahmis keluar dengan membawa dinar, lalu dinarnya terjatuh. Ia mencari dan menemukannya, tetapi ia meninggalkannya sembari berkata, “Bisa jadi dinar ini bukan dinarku.” Dan pada hari yang lain, beliau pernah memakan ikan, lalu mengambil debu dari dinding tetangganya. Ia mencuci tangannya dengan debu tersebut, lalu ia berkata, “Semenjak empat puluh tahun yang lalu aku menangisi debu itu. Kenapa aku mengambil tanpa sepengetahuan si empunya rumah?” (Shifatus Shafwah)
Silakan kunjungi sumber rujukannya di sini:
http://www.oaseimani.com/bisa-jadi-bukan-dinarku.html
Silakan kunjungi sumber rujukannya di sini:
http://www.oaseimani.com/bisa-jadi-bukan-dinarku.html
Labels:
Wara'
Sabtu, 21 Agustus 2010
Dalil Halal Dan Haram Telah Jelas
عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. رواه البخاري ومسلم
Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahu'anhu dia berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “. [HR. Bukhari no. 52, Muslim no. 1599]
Sumber:
www.ibnumajjah.wordpress.com
http://arbaiin.wordpress.com/2007/01/08/hadits-ke-6/
Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahu'anhu dia berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “. [HR. Bukhari no. 52, Muslim no. 1599]
Sumber:
www.ibnumajjah.wordpress.com
http://arbaiin.wordpress.com/2007/01/08/hadits-ke-6/
Labels:
Wara'
Sabtu, 14 Agustus 2010
Kisah Buah Apel
Ibnu as-Samâk berkata:
"Pernah Umar bin Abdul Aziz membagi-bagi apel kepada orang-orang. Kemudian datang putranya dan mengambil apel dari apel yang dibagi-bagikannya. Umar pun merenggut tangan putranya dan mengambil kembali apel tersebut lalu menempatkannya bersama apel-apel lain. Putranya lalu mengadu kepada ibunya. Ibunya bertanya:
"Ada apa denganmu, putraku?"
Putranya pun menyampaikan apa yang terjadi. Maka istrinya memberi putranya uang dua dirham untuk membeli apel sehingga dia dan putranya dapat makan apel, lalu menyisakan lebihannya untuk Umar. Ketika Umar selesai dari pekerjaannya dia pun masuk ke dalam rumah. Istrinya menyodorkan satu cawan apel kepadanya. Umar bertanya:
"Dari mana kau dapatkan apel ini, wahai Fatimah?"
Istrinya menyampaikan kisahnya. Umar senang dan berkata:
"Semoga Allah merahmatimu. Sungguh akupun sebenarnya berselera dengan apel tersebut."
[Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.221]
www.islamhouse.com
"Pernah Umar bin Abdul Aziz membagi-bagi apel kepada orang-orang. Kemudian datang putranya dan mengambil apel dari apel yang dibagi-bagikannya. Umar pun merenggut tangan putranya dan mengambil kembali apel tersebut lalu menempatkannya bersama apel-apel lain. Putranya lalu mengadu kepada ibunya. Ibunya bertanya:
"Ada apa denganmu, putraku?"
Putranya pun menyampaikan apa yang terjadi. Maka istrinya memberi putranya uang dua dirham untuk membeli apel sehingga dia dan putranya dapat makan apel, lalu menyisakan lebihannya untuk Umar. Ketika Umar selesai dari pekerjaannya dia pun masuk ke dalam rumah. Istrinya menyodorkan satu cawan apel kepadanya. Umar bertanya:
"Dari mana kau dapatkan apel ini, wahai Fatimah?"
Istrinya menyampaikan kisahnya. Umar senang dan berkata:
"Semoga Allah merahmatimu. Sungguh akupun sebenarnya berselera dengan apel tersebut."
[Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.221]
www.islamhouse.com
Labels:
Wara'
Kisah Umar Bin Abdul Aziz Rahimahullah & Madu
Fatimah binti Abdul Malik berkata:
"Suatu kali Umar sangat berselera kepada madu tetapi kami tidak memilikinya. Maka kamipun menugaskan pelayan pos dengan mengendarai tunggangannya ke Baklabak untuk membeli madu dengan membekalinya uang satu dinar, dan dia pun mendapatkannya. Kemudian aku berkata kepada Umar:
"Engkau menyebut-nyebut madu, aku memilikinya, apakah engkau mau?"
Kamipun memberinya madu dan ia meminumnya seraya bertanya:
"Darimana kalian mendapatkan madu ini?"
"Kami menyuruh seorang pelayan pos pergi ke Baklabak dengan uang satu dinar menggunakan tunggangannya dan dia membelinya dari sana." Umar memanggil pelayan itu dan berkata:
"Bawa madu ini ke pasar dan jual, lalu kembalikan harga pokoknya kepada kami, selebihnya gunakan untuk membiayai hewan tunggangan yang dipakai. Seandainya muntahan madu dapat dimanfaatkan oleh kaum muslimin niscaya aku akan memuntahkannya."
[Al-Wara oleh al-Marwazi halaman 92 danan Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya halaman 147 no.169 cetakan Daar Ibnu Hazm.]
www.islamhouse.com
"Suatu kali Umar sangat berselera kepada madu tetapi kami tidak memilikinya. Maka kamipun menugaskan pelayan pos dengan mengendarai tunggangannya ke Baklabak untuk membeli madu dengan membekalinya uang satu dinar, dan dia pun mendapatkannya. Kemudian aku berkata kepada Umar:
"Engkau menyebut-nyebut madu, aku memilikinya, apakah engkau mau?"
Kamipun memberinya madu dan ia meminumnya seraya bertanya:
"Darimana kalian mendapatkan madu ini?"
"Kami menyuruh seorang pelayan pos pergi ke Baklabak dengan uang satu dinar menggunakan tunggangannya dan dia membelinya dari sana." Umar memanggil pelayan itu dan berkata:
"Bawa madu ini ke pasar dan jual, lalu kembalikan harga pokoknya kepada kami, selebihnya gunakan untuk membiayai hewan tunggangan yang dipakai. Seandainya muntahan madu dapat dimanfaatkan oleh kaum muslimin niscaya aku akan memuntahkannya."
[Al-Wara oleh al-Marwazi halaman 92 danan Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya halaman 147 no.169 cetakan Daar Ibnu Hazm.]
www.islamhouse.com
Labels:
Wara'
Tidak Mau Memakai Fasilitas Negara
Hammad bin Salamah berkata: Abu Sannan menceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz biasa dipanaskan air untuknya dari dapur. Diapun bertanya kepada pengurus dapur: "Di mana air ini dipanaskan?". "Di dapur." Jawab pengurus dapur. "Hitunglah, sudah berapa lama engkau memanaskan air di dapur!" Perintah Umar. "Sejak waktu demikian dan demikian." Terang pengurus dapur. "Hitung berapa nilai kayu bakar yang telah terpakai". Perintah Umar lagi. "Jumlahnya demikian dan demikian." Terang pengurus dapur lagi. Maka Umar pun mengambil simpanan uangnya senilai yang disampaikan, dan memasukannya ke baitul mal.
[Al-Wara oleh al-Marwazi hal 217-219 Cetakan Daar Ibnu Hazm].
www.islamhouse.com
[Al-Wara oleh al-Marwazi hal 217-219 Cetakan Daar Ibnu Hazm].
www.islamhouse.com
Labels:
Wara'
Tidak Mau Makan Dari Kas Negara
Raja bin Abi Salamah berkata: Sampai berita kepadaku kalau Umar senantiasa membuat makanan untuk menjamu siapa saja yang mengunjunginya, tetapi dia sendiri tidak ikut makan, sehingga orang-orang juga tidak mau makan. Umar bertanya: "Mengapa mereka tidak mau makan?" "Engkau tidak ikut makan sehingga mereka tidak mau makan." Jawab mereka. Maka diapun memerintahkan menambah dua dirham setiap hari untuk biaya dapur, baru dia mau makan sehingga orang-orang pun makan bersamanya.
www.islamhouse.com
www.islamhouse.com
Labels:
Wara'
Aku Tidak Ingin Mencium Baunya Sebelum Kaum Muslimin
Yunus bin Abi al-Farât mengisahkan bahwa didatangkan kepada Umar bin Abdul Aziz -semoga Allah merahmatinya- minyak misk dari hasil rampasan perang, tetapi dia menutup hidungnya. Orang-orang berkata: "Wahai amirul mukminin karena ini engkau menutup hidungmu?" Ia menjawab: "Misk ini yang diambil adalah baunya, aku tidak ingin mencium baunya sebelum kaum muslimin." [Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.88]
www.islamhouse.com
www.islamhouse.com
Labels:
Wara'
Mudahnya Bersikap Wara'
Hassan berkata: "Tidak ada sesuatu yang lebih mudah untuk senantiasa aku lakukan daripada wara." Seseorang bertanya kepadanya: "Mengapa demikian?" "Jika ada sesuatu yang meragukan, aku cukup meninggalkannya." Jawabnya. Dia juga mengatakan: "Tidak ada sesuatupun yang lebih mudah daripada wara; jika ada yang meragukanmu, engkau cukup meninggalkannya!" Al-Hafidz Ibnu Rajab -semoga Allah merahmatinya- mengomentari perkataan Hassan: "Mudah di sini adalah bagi orang-orang yang semisal Hassan."
www.islamhouse.com
www.islamhouse.com
Labels:
Wara'
Aku Tidak Pantas Menerimanya
Syu'bah berkata: "Ibnu Hubairah memberi Muhammad bin Sirin tiga pemberian, tetapi dia menolak menerimanya". Khalid bin Abi ash-Shalat berkata: "Aku berkata kepada Muhammad bin Sirin: "Apa yang mencegahmu menerima pemberian Ibnu Hubairah?" "Wahai hamba Allah, dia memberiku karena menduga aku baik. Jika aku seperti apa yang dia duga, maka aku tidak pantas menerimanya, sedangkan jika aku tidak seperti apa yang dia duga, maka aku tidak layak menerimanya".
www.islamhouse.com
www.islamhouse.com
Labels:
Wara'
Orang Paling Wara' Di Zaman Kami
Bakr bin Abdullah berkata: "Siapa yang suka melihat seseorang yang paling alim yang kami temui pada zaman kami hendaklah melihat kepada al-Hasan al-Bashri. Tidak kami dapati orang yang lebih alim darinya. Siapa yang senang melihat orang yang paling wara yang kami dapati di zaman kami, maka hendaklah melihat Ibnu Sirin. Dia sungguh meninggalkan perkara halal karena khawatir terjerumus pada dosa."
Muwarriq berkata:
"Aku tidak melihat orang yang lebih faham dalam ke-wara-annya atau lebih wara dalam kefahamannya daripada Muhammad bin Sirin." [Al-Wara oleh al-Marwazi halaman 69].
Hisyaam bin Hassan berkata:
"Tidak aku dapati orang yang lebih wara daripada Muhammad bin Sirin."
Syu'bah berkata: "Ibnu Hubairah memberi Muhammad bin Sirin tiga pemberian, tetapi dia menolak menerimanya. Khalid bin Abi as-Shalat berkata: "Aku berkata kepada Muhammad bin Sirin: "Apa yang mencegahmu menerima pemberian Ibnu Hubairah?" "Wahai hamba Allah, dia memberiku karena menduga aku baik. Jika aku seperti apa yang dia duga, maka aku tidak pantas menerimanya, sedangkan jika aku tidak seperti apa yang dia duga, maka aku tidak layak menerimanya."
Hisyaam bin Hassan berkata: "(Ketika wafat) Muhammad bin Siiriin meninggalkan 40.000 dirham yang bagi orang pada saat itu terhitung banyak. [Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no. 180, 203, 204, 210, 211].
Sumber:
Sifat Wara’
Mutiara Kisah Salaf Dalam Berinteraksi Dengan Pekara Syubhat Dan Haram
http://www.islamhouse.com/p/312022
Muwarriq berkata:
"Aku tidak melihat orang yang lebih faham dalam ke-wara-annya atau lebih wara dalam kefahamannya daripada Muhammad bin Sirin." [Al-Wara oleh al-Marwazi halaman 69].
Hisyaam bin Hassan berkata:
"Tidak aku dapati orang yang lebih wara daripada Muhammad bin Sirin."
Syu'bah berkata: "Ibnu Hubairah memberi Muhammad bin Sirin tiga pemberian, tetapi dia menolak menerimanya. Khalid bin Abi as-Shalat berkata: "Aku berkata kepada Muhammad bin Sirin: "Apa yang mencegahmu menerima pemberian Ibnu Hubairah?" "Wahai hamba Allah, dia memberiku karena menduga aku baik. Jika aku seperti apa yang dia duga, maka aku tidak pantas menerimanya, sedangkan jika aku tidak seperti apa yang dia duga, maka aku tidak layak menerimanya."
Hisyaam bin Hassan berkata: "(Ketika wafat) Muhammad bin Siiriin meninggalkan 40.000 dirham yang bagi orang pada saat itu terhitung banyak. [Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no. 180, 203, 204, 210, 211].
Sumber:
Sifat Wara’
Mutiara Kisah Salaf Dalam Berinteraksi Dengan Pekara Syubhat Dan Haram
http://www.islamhouse.com/p/312022
Labels:
Wara'
KISAH WARA' WAHB BIN MUNABBIH
Abdul Mun'im bin Idris berkata: Dulu Wahb bin Munabbih senantiasa mengingat-ingat perkataannya dan mengulanginya. Jika baik dia memuji Allah. Jika tidak baik, dia beristighfar (meminta ampun kepada Allah).
[Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.100, terbitan Dar Ibnu Hazm. Dalam terbitan Maktah al-Qur'an: "Kami menghapal ucapannya, setiap hari kami menghitungnya."]
www.islamhouse.com
[Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.100, terbitan Dar Ibnu Hazm. Dalam terbitan Maktah al-Qur'an: "Kami menghapal ucapannya, setiap hari kami menghitungnya."]
www.islamhouse.com
Labels:
Wara'
Kamis, 12 Agustus 2010
Tidak Berambisi Terhadap Kekuasaan
Dari Abdullah bin Iyasy al-Qatbany, dari ayahnya, bahwa Yazid bin al-Muhallab ditugasi memimpin wilayah Khurasan. Dia berkata:
"Tunjukkan kepadaku seseorang yang lengkap kebaikan pada dirinya."
Maka orang-orang pun menunjuk Abu Burdah. Ketika menemuinya dia dapati seorang yang berpenampilan menarik. Ketika diajaknya berbicara, didapatinya ternyata pembicaraannya lebih menarik dari penampilannya. Kemudian Yazid pun berkata:
"Aku mengangkatmu untuk menjabat demikian dan demikian dari wilayah kepemimpinanku."
Tetapi dia meminta maaf dan menolak, seraya berkata:
"Ayahku menceritakan bahwa Rasulullah bersabda:
(( مَنْ تَوَلَّى عَمَلاً وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَيْسَ لِذَلِكَ الْعَمَلِ بِأَهْلٍ فَلْيَتَبَوَّأ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ ))
"Siapa yang mengambil tanggung jawab yang tidak mampu ditanggungnya, maka dia telah menempatkan tempat duduknya di neraka."
[Tazkirah al-Huffaz I/95]
www.islamhouse.com
"Tunjukkan kepadaku seseorang yang lengkap kebaikan pada dirinya."
Maka orang-orang pun menunjuk Abu Burdah. Ketika menemuinya dia dapati seorang yang berpenampilan menarik. Ketika diajaknya berbicara, didapatinya ternyata pembicaraannya lebih menarik dari penampilannya. Kemudian Yazid pun berkata:
"Aku mengangkatmu untuk menjabat demikian dan demikian dari wilayah kepemimpinanku."
Tetapi dia meminta maaf dan menolak, seraya berkata:
"Ayahku menceritakan bahwa Rasulullah bersabda:
(( مَنْ تَوَلَّى عَمَلاً وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَيْسَ لِذَلِكَ الْعَمَلِ بِأَهْلٍ فَلْيَتَبَوَّأ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ ))
"Siapa yang mengambil tanggung jawab yang tidak mampu ditanggungnya, maka dia telah menempatkan tempat duduknya di neraka."
[Tazkirah al-Huffaz I/95]
www.islamhouse.com
Labels:
Wara'
Kepemimpinannya Untuk Melayani Kaum Muslimin
Dari Abu al-Jahhaf dari seorang yang berasal dari Khas'am, dia berkata:
"Aku mendatangi al-Hasan dan al-Husain. Ketika itu mereka sedang makan roti dengan cuka dan kacang. Akupun berkata kepada keduanya:
"Kalian berdua adalah putra Amirul Mukminin (pemimpin kaum muslimin), tetapi mengapa memakan makanan seperti ini, dan kondisi saat ini dalam kelapangan."
"Kamu tidak banyak tahu tentang Amirul Mukminin. Kepemimpinannya untuk melayani kaum muslimin." Jawab keduanya.
[Maksudnya kepemimpinan Ali bukan untuk memanjakan keluarganya tetapi untuk melayani kaum muslimin. Tentu berbeda sekali dengan kondisi para pemimpin sekarang ini yang memanfaatkan kekuasaan untuk kesenangan keluarga, kelompok atau golongannya].
www.islamhouse.com
"Aku mendatangi al-Hasan dan al-Husain. Ketika itu mereka sedang makan roti dengan cuka dan kacang. Akupun berkata kepada keduanya:
"Kalian berdua adalah putra Amirul Mukminin (pemimpin kaum muslimin), tetapi mengapa memakan makanan seperti ini, dan kondisi saat ini dalam kelapangan."
"Kamu tidak banyak tahu tentang Amirul Mukminin. Kepemimpinannya untuk melayani kaum muslimin." Jawab keduanya.
[Maksudnya kepemimpinan Ali bukan untuk memanjakan keluarganya tetapi untuk melayani kaum muslimin. Tentu berbeda sekali dengan kondisi para pemimpin sekarang ini yang memanfaatkan kekuasaan untuk kesenangan keluarga, kelompok atau golongannya].
www.islamhouse.com
Labels:
Wara'
Sifat Wara' Abdullah Bin Umar Radhiyallahu 'anhu
Thawus (seorang tabi'in) berkata: Aku tidak pernah bertemu seorang lelakipun yang lebih wara dari pada Ibnu Umar. [Al-Wara oleh al-Marwazi halaman 69]
Nafi berkata: Ketika Ibnu Umar mendengar suara seruling, dia menutup telinganya dengan kedua jarinya sambil menjauh dari jalan. Kemudian berkata: "Wahai Nafi', apakah engkau masih mendengar sesuatu?" "Tidak" Jawabku. Diapun melepaskan jarinya dari telinganya sambil berkata: "Kami dahulu bersama Nabi, lalu terdengar suara seperti tadi, beginilah yang dilakukan Nabi." [Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam kitab: al-Adab, bab: Dibencinya musik dan seruling no.4924 dan diriwayatkan pula oleh selainnya].
Masih dari Nafi': Tidaklah Ibnu Umar takjub kepada sesuatu melainkan ia kemudian menyedekahkan hartanya lillah (untuk Allah). Bahkan terkadang bersedekah pada satu majelis dengan 30,000 dirham. Pernah Ibnu Umar memberi seorang budak yang bernama Ibnu Amir sebesar 30,000 dirham dan berkata: "Wahai Naafi', aku khawatir tergoda oleh dirham Ibnu Amir. Pergilah (kepadanya dan katakan), 'Engkau telah dibebaskan (dari perbudakan).'
Dari Qaza'ah katanya: "Aku melihat Ibnu Umar memiliki baju yang berbahan kaku. Maka akupun menawarkan kepadanya pakaian yang berbahan lunak: "Aku bawakan untukmu pakaian yang berbahan lunak yang dibuat di Khurasan agar aku enak memandangmu" "Perlihatkan kepadaku! Pinta Ibnu Umar.
Ibnu Umar meremas kain itu seraya bertanya: "Apakah ini sutra?" "Tidak, ia terbuat dari katun." Jelasku. Ibnu Umar bekata: "Aku khawatir jika mengenakannya akan menjadikanku sombong dan tinggi hati, seraya membaca firman Allah (yang artinya): "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri" (QS.an-Nisaa: 36). [Siyar A'lam an-Nubala III/233].
Sumber:
Sifat Wara’ Mutiara Kisah Salaf Dalam Berinteraksi Dengan Pekara Syubhat Dan Haram
http://www.islamhouse.com/p/312022
Nafi berkata: Ketika Ibnu Umar mendengar suara seruling, dia menutup telinganya dengan kedua jarinya sambil menjauh dari jalan. Kemudian berkata: "Wahai Nafi', apakah engkau masih mendengar sesuatu?" "Tidak" Jawabku. Diapun melepaskan jarinya dari telinganya sambil berkata: "Kami dahulu bersama Nabi, lalu terdengar suara seperti tadi, beginilah yang dilakukan Nabi." [Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam kitab: al-Adab, bab: Dibencinya musik dan seruling no.4924 dan diriwayatkan pula oleh selainnya].
Masih dari Nafi': Tidaklah Ibnu Umar takjub kepada sesuatu melainkan ia kemudian menyedekahkan hartanya lillah (untuk Allah). Bahkan terkadang bersedekah pada satu majelis dengan 30,000 dirham. Pernah Ibnu Umar memberi seorang budak yang bernama Ibnu Amir sebesar 30,000 dirham dan berkata: "Wahai Naafi', aku khawatir tergoda oleh dirham Ibnu Amir. Pergilah (kepadanya dan katakan), 'Engkau telah dibebaskan (dari perbudakan).'
Dari Qaza'ah katanya: "Aku melihat Ibnu Umar memiliki baju yang berbahan kaku. Maka akupun menawarkan kepadanya pakaian yang berbahan lunak: "Aku bawakan untukmu pakaian yang berbahan lunak yang dibuat di Khurasan agar aku enak memandangmu" "Perlihatkan kepadaku! Pinta Ibnu Umar.
Ibnu Umar meremas kain itu seraya bertanya: "Apakah ini sutra?" "Tidak, ia terbuat dari katun." Jelasku. Ibnu Umar bekata: "Aku khawatir jika mengenakannya akan menjadikanku sombong dan tinggi hati, seraya membaca firman Allah (yang artinya): "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri" (QS.an-Nisaa: 36). [Siyar A'lam an-Nubala III/233].
Sumber:
Sifat Wara’ Mutiara Kisah Salaf Dalam Berinteraksi Dengan Pekara Syubhat Dan Haram
http://www.islamhouse.com/p/312022
Labels:
Wara'
Menjauhkan Diri Dari Riba
Dari Manshur dan al-A'masy, dari Musa bin Abdullah bahwa ayahnya mengirim budak laki-lakinya untuk berniaga ke Asbahan bermodal 4.000 dirham hingga berkembang menjadi 16.000 dirham lebih. Namun kemudian sampai berita bahwa budaknya itu meninggal dunia, sehingga pergilah ia untuk mengambil harta niaga yang menjadi warisannya itu. Sesampainya di sana diberitakan kepadanya bahwa budaknya itu berniaga dengan cara riba. Maka diapun mengambil pokok modalnya yang 4.000 dirham dan meninggalkan selebihnya. [Al-Wara oleh al-Marwazi halaman 51]
Sumber:
Sifat Wara’ (Mutiara Kisah Salaf Dalam Berinteraksi Dengan Pekara Syubhat Dan Haram)
http://www.islamhouse.com/p/312022
Sumber:
Sifat Wara’ (Mutiara Kisah Salaf Dalam Berinteraksi Dengan Pekara Syubhat Dan Haram)
http://www.islamhouse.com/p/312022
Labels:
Wara'
Menolak Shalat Di Masjid Syubhat
Hakam bin al-A'raj berkata: "Ada seseorang yang memiliki balok kayu. Ziyad (penguasa ketika itu) meminta kayu itu, tetapi pemiliknya menolak untuk menjualnya. Ziyad pun mengambil paksa kayu itu lalu digunakannya untuk membuat atap masjid Basrah. Abu Bakrah tidak pernah shalat di masjid itu sampai kayu itu disingkirkan dari masjid". [As-Sair III/7 sumbernya dari Al-Wara oleh Ibnu Abi ad-Dunya no.224. terdapat ketidak lengkapan. Kelengkapannya terdapat pada terbitan Dar ibnu Hazm.]
Sumber:
Sifat Wara’ (Mutiara Kisah Salaf Dalam Berinteraksi Dengan Pekara Syubhat Dan Haram)
http://www.islamhouse.com/p/312022
Sumber:
Sifat Wara’ (Mutiara Kisah Salaf Dalam Berinteraksi Dengan Pekara Syubhat Dan Haram)
http://www.islamhouse.com/p/312022
Labels:
Wara'
Langganan:
Postingan (Atom)