Pages

Rabu, 19 Januari 2011

" Kebeningan Amal Tersembunyi "

Dari Muhammad bin al-Munkadir berkata : Aku memilih sebuah tiang khusus di masjid Rasulullah shallallah ‘alihi wa-sallam yang biasanya aku duduk dan shalat malam di dekatnya. Ketika penduduk Madinah dilanda kemarau panjang, mereka ramai-ramai melakukan Istisqa’, tetapi hujan tak kunjung datang. Di suatu malam seusai menunaikan shalat Isya’ aku bersandar pada tiang pilihanku, tiba-tiba datang seorang berkulit hitam menuju ke tempat aku bersandar. Ia di sisi depan dan aku di sebaliknya. Dia shalat dua raka’at lalu duduk dan berdo’a, “Duhai Rabbku, penduduk kota Nabi-Mu telah keluar untuk meminta hujan tetapi Engkau belum mengabulkannya. Maka, aku bersumpah pada-Mu agar Engkau menurunkannya.” Aku bergumam, “Orang gila.”

Tetapi belum sempat dia meletakkan tangannya kudengar suara bergemuruh dan turunlah hujan yang membuatku ingin pulang. Tatkala mendengar suara hujan orang itu memuji Allah ‘Azza wa-Jalla dengan pujian yang belum pernah kudengar sama sekali. Lalu dia berdiri shalat. Menjelang Shubuh, barulah ia sujud , lalu berwitir dan shalat fajar. Kemudian terdengar iqamah, maka ia pun berdiri dan melaksanakan shalat bersama orang banyak. Demikian juga aku. Setelah imam salam ia keluar dan aku ikuti. Sesampai di pintu masjid ia keluar sambil mengangkat kainnya agar tidak basah. Aku mengikutinya, tetapi karena aku sibuk dengan bajuku agar tidak basah aku tidak tahu kemana ia pergi.

Di malam berikutnya kutunggu dia di tiang yang sama. Dan ia pun datang, berdiri shalat sampai menjelang Shubuh. Lalu sujud, melaksanakan shalat Witir, shalat fajar dan shalat Shubuh. Setelah imam salam, ia keluar dan aku mengikutinya sampai ia memasuki sebuah rumah. Lalu aku kembali ke Masjid. Ketika matahari sudah tinggi, aku melaksanakah shalat (Dluha) lalu pergi menemui orang itu. Ternyata orang itu adalah tukang sepatu. Tatkala melihatku ia mengenaliku dan berseru,

“Wahai Abu Abdillah, adakah yang bisa saya bantu?” Lalu aku duduk dan kukatakan, “Bukankah Anda yang bersamaku kemarin malam?” Mendengar itu berubahlah rona wajahnya dan berkata dengan suara yang keras, “Wahai Ibnu al-Munkadir, apa urusanmu!?” Dia marah dan aku pun ingin segera berlalu darinya.

Di malam ketiga, setelah shalat Isya’, kembali aku bersandar pada tiang khususku untuk menunggunya. Tetapi ia tidak datang. Kukatakan pada diriku sendiri, “Inna lillah... Apa yang telah aku perbuat?” Ketika datang waktu Shubuh, aku duduk di masjid sampai matahari terbit. Kemudian aku keluar untuk mendatangi rumahnya. Aku dapati pintu rumahnya terbuka dan tidak kudapatkan seorang pun di dalamnya. Tetangga-tetangganya bertanya kepadaku, “Wahai Abu Abdillah, apa yang terjadi antara tukang sepatu itu dan Anda?” Aku ganti bertanya, “Apa yang terjadi?” Mereka menjawab, “Setelah kepergianmu kemarin, orang itu menghamparkan kainnya dan tidak meninggalkan satu barang pun kecuali ia bungkus dengannya. Lalu ia keluar dan kami tidak tahu ke mana ia pergi. Ibnu al-Munkadir berkata, ”Tidak aku tinggalkan sebuah rumah pun di Madinah kecuali aku cari di sana dan aku tidak menemukannya. Semoga Allah merahmatinya.” (Shifatush Shafwah, II/190-192)

Dapatkan faidah ilmu lebih banyak dengan membaca langsung dari sumbernya di sini:
Panduan Akhlak Salaf, Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil Bahauddien `Aqiel. Penerjemah: Abu Umar Basyir Al-Medani. Penerbit: At-Tibyan – Solo, Cetakan pertama, September 2000.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar